kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45881,69   -4,49   -0.51%
  • EMAS1.329.000 -0,67%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Bisnis salon mulai kurang menawan


Minggu, 06 Januari 2019 / 06:30 WIB
Bisnis salon mulai kurang menawan


Reporter: Elisabeth Adventa, Sugeng Adji Soenarso, Venny Suryanto | Editor: Johana K.

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren gaya hidup untuk menjaga penampilan membuat orang, khususnya kaum hawa, menjadikan perawatan tubuh sebagai kebutuhan. Mereka ingin tampil cantik dan bugar sehingga rela menyisihkan dana untuk perawatan tubuh, mulai dari  ujung rambut sampai ke ujung kaki. 

Inilah yang membuat bisnis salon dan spa tetap eksis hingga kini. Namun di antara sekian banyak orang yang menjajal bisnis ini, tidak semua berhasil. Di antara pelaku bisnis yang berhasil bertahan dan terus berkembang, terdapat pula yang bisnisnya  hanya bertahan sebentar.  
 
Pada review kemitraan usaha minggu ini, KONTAN akan mengulas tawaran kemitraan dari sejumlah merek. Persaingan yang ketat membuat pebisnis berupaya menghadapi berbagai kendala dengan melakukan sejumlah inovasi demi menarik pelanggan. 
 
Untuk lebih jelasnya, silakan simak ulasan berikut.
 
Moz5 Salon
 
Salon milik Yulia Astuti ini sekarang sudah memiliki 25 mitra yang tersebar di wilayah Jabodetabek, Sumatra, Kalimantan, Bandung, dan Cirebon. 
"Tahun ini ada penambahan satu mitra yang berlokasi di Cilandak, jadi total 25 mitra,” katanya kepada KONTAN. Dia menargetkan bisa membuka 12 outlet atau mitra usaha pada tahun depan. 
Yulia membuka Moz5 Salon sejak 2002. Dia mulai menawarkan kemitraan pada 2004. 
 
Secara umum, Moz5 Salon menawarkan empat paket kemitraan. Ada paket kemitraan Moz5, Moz5 profit sharing, Moz5 colaboration dan paket konsultasi. 
Pertama, paket kemitraan Moz5 dengan dua pilihan masing-masing Rp 631 juta dan Rp 596 juta. Bila memilih paket in, si mitra akan mendapatkan fasilitas lengkap mulai biaya lisensi 10 tahun, peralatan, perlengkapan, furnitur salon, training karyawan, standar operasional (SOP), dan produk awal.
 
Kedua, paket Moz5 profit sharing dengan dua pilihan harga, yakni Rp 695 juta dan Rp 660 juta. Mitra yang memilih paket ini juga akan mendapatkan lisensi 10 tahun, software salon, peralatan dan perlengkapan serta furnitur salon. Dalam paket ini terdapat sistem bagi hasil 60%:40% serta royalti 8% dari omzet.
 
Ketiga, paket Moz5 kolaborasi. Paket ini sedikit berbeda karena sistemnya adalah bagi hasil. Dalam paket ini, investor yang ingin mengembangkan salon berlabel Moz5 Salon Muslimah, hanya perlu menyediakan tempat, peralatan, serta perlengkapan. Sistem ini menggunakan bagi hasil secara proporsional berdasarkan penyertaan modal.
 
Keempat, paket konsultasi dengan harga Rp 125 juta untuk konsultasi ruko dan Rp 99 juta untuk konsultasi rumah. Paket ini dikhususkan bagi mereka yang ingin mengembangkan salon sendiri, dengan merek sendiri. Dalam paket ini, mitra akan memperoleh bimbingan, peralatan, perlengkapan, hingga training karyawan. 
 
Kendala utama bisnis ini ada pada sumber daya manusia (SDM). Di bisnis ini turn over karyawan cukup tinggi.Banyak karyawan keluar masuk sehingga bisnis tak stabil.  

Ashfa Salon 

Ashfa Salon & Day Spa yang berada di Padang ini dimiliki oleh Siti Djauhharoh. Sayangnya, saat ini Siti belum mengembangkan kembali usahanya. "Masih saya pikirkan dulu," tuturnya.
 
Saat ini Siti tak bisa mengelola program kemitraan yang ditawarkannya, lantaran dia lebih sering berada di Jakarta karena sedang kuliah dan melakukan beragam pelatihan di sekitar Jakarta. "Saya kembali ke Padang sebulan sekali, jadi saya tidak bisa kontrol setiap saat," tuturnya.
 
Toh, Siti melihat prospek bisnis salon masih positif. Ia pun berencana melanjutkan kembali usaha tersebut mulai tahun depan. Tapi ia bakal fokus di satu lokasi yang bisa ia awasi. Saat ini Ashfa Salon masih memiliki satu gerai milik mitra di Kabupaten Dhamasraya, Sumatra Barat.
 
Berdasarkan catatan KONTAN, Ashfa Salon & Day Spa menawarkan dua paket investasi. Paket A bernilai Rp 370 juta, sudah termasuk franchise fee sebesar Rp 100 juta untuk kerja sama selama lima tahun. Dengan biaya ini, mitra akan mendapatkan renovasi tempat, desain interior, peralatan lengkap, seragam, dan pelatihan karyawan. 
 
Jika berminat, mitra harus menyediakan ruangan dengan ukuran 120 meter persegi (m²). Paket A ini memungkinkan mitra meraup omzet Rp 70 juta per bulan.
 
Sedangkan, paket B biaya investasinya sebesar Rp 270 juta. Biaya itu sudah termasuk franchise fee Rp 70 juta untuk kerja sama selama lima tahun. Sisanya dipakai untuk renovasi tempat, desain interior, peralatan lengkap, seragam dan pelatihan karyawan. Menurut estimasi Siti, mitra akan mendapatkan omzet rerata Rp 50 juta sebulan dari paket ini.
 
Ashfa menawarkan berbagai macam layanan mulai dari penataan rambut, seperti gunting, cuci rambut, rebonding, dan catok. Selain itu ada perawatan tubuh seperti lulur, totok, dan refleksi. 
 
Salon tersebut juga menyediakan layanan perawatan wajah, antara lain facial, masker, dan akupunktur wajah. Siti mengatakan, tarif untuk masing-masing layanan itu rata-rata di kisaran Rp 60.000.
Siti yang merupakan master clinical hypnoteraphist, menambahkan, Ashfa merupakan bisnis kecantikan yang melakukan pendekatan komunikasi hipnoterapi pada pelanggannya. Jadi, dengan hipnoterapi, ia berharap bisa membuat para pelanggan yang datang bisa mendapatkan kenyamanan, sehingga mereka terlepas dari rasa stres atau tekanan lain.

Daniel Amarta

Usaha kemitraan kecantikan yang dibesut Daniel Amarta, penata wajah dan rambut kondang era 1990-an tersebut nampak sedang lesu. Sepanjang tahun ini, mereka hanya mendapatkan satu mitra baru di Jakarta. Saat diulas KONTAN tahun lalu, Salon Daniel Amarta telah memiliki 12 gerai milik mitra  di Jakarta, Tangerang, dan Palangkaraya.
 
"Saya pikir mungkin ini karena kondisi ekonomi yang sedang lesu, sehingga tidak banyak yang berinvestasi atau enggan untuk menanamkan modalnya," kata Daniel kepada KONTAN. 
Apalagi omzet salon  usahanya ini masih belum pulih sejak tahun lalu. Maklum, di periode 2017, omzet salon milik Daniel tersebut  sempat merosot tajam hingga 40% tiap bulan. Kondisi tersebut masih berlangsung hingga kini. Padahal usaha salon ini pernah mencapai titik puncak dan sanggup meraup omzet hingga Rp 60 juta per bulan pada tahun 2016 silam.
 
Daniel sudah berupaya melakukan inovasi untuk menggenjot omzet. Seperti  banyak memasang promosi untuk beberapa paket perawatan, misalnya dengan paket creambath, rebonding, colouring, atau paket  hair cut
 
Tidak hanya itu, Daniel juga tidak lagi mengenakan royalti fee sebesar 5%-10% dari omzet per bulan kepada mitra. Pertimbangannya, dia tidak ingin membuat usaha mitra makin susah. "Bisnis salon sepertinya memang lagi lesu. Pemainnya makin banyak, jadi persaingannya juga cukup ketat. Banyak salon perang harga juga untuk menawarkan produk perawatan," tuturnya. 
 
Adapun paket kemitraan yang ditawarkan masih sama. Yakni paket Rp 50 juta dan paket luxury dengan Rp 1 miliar. Fasilitas yang diberikan di paket luxury adalah seluruh perlengkapan salon, produk perawatan, renovasi, lokasi usaha, promosi, sistem manajemen, dan perlengkapan tambahan lainnya.
 
Berdasarkan perhitungannya, waktu balik modal sekitar satu hingga dua tahun. Dengan catatan mitra dapat meraih target penjualan diatas Rp 100 juta per bulan.    

Kreatif mengantisipasi penurunan daya beli

Bagi Ketua Umum Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI) Levita Supit, prospek bisnis salon kecantikan sejatinya masih cukup baik. ”Apalagi salon saat ini tidak hanya dibutuhkan oleh wanita saja. Pria juga mulai memanfaatkan jasa salon karena ingin tampil trendi,” terang Levita.
 
Selain pasar yang semakin luas, ternyata target pasar salon saat ini juga mulai berubah, yakni berdasarkan segmentasi umur. Jika dahulu hanya wanita dewasa yang mengunjungi salon, saat ini banyak remaja, bahkan anak-anak sudah akrab menggunakan jasa salon. 
 
Tapi sayangnya, penurunan daya beli membuat bisnis salon ini menjadi terhambat. "Mungkin masyarakat jadi lebih hati-hati menggunakan uang untuk pengeluaran dengan melakukan penghematan di sektor bukan kebutuhan pokok, seperti perawatan kecantikan," katanya Levita. 
 
Untuk menghadapi kendala penurunan daya beli, Levita menganjurkan para pelaku usaha untuk lebih fokus pada produk yang mereka tawarkan. Seperti membuat produk dan jasa layanan yang sesuai dengan target pasar yang memang mereka bidik.
 
Sementara bagi pemain baru yang ingin masuk, ia menyarankan agar mereka mematok harga yang terjangkau sehingga bisa menjaring pasar. Sedangkan bagi pemain lawas, ia sarankan membuat paket ekonomis.  
 
Untuk menyikapi turn over karyawan, Levita menyarankan agar pebisnis  salon membuat perjanjian dengan karyawan agar menjaga konsistensi dalam bekerja. Ia menyarankan mereka mencari karyawan yang matang, minimal berumur 20 tahun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Success in B2B Selling Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung

[X]
×