kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45936,49   -8,95   -0.95%
  • EMAS1.027.000 -0,19%
  • RD.SAHAM -0.04%
  • RD.CAMPURAN -0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Bos Govindo tak pernah ke lain hati, cuma properti


Sabtu, 06 Mei 2017 / 14:56 WIB
Bos Govindo tak pernah ke lain hati, cuma properti


Reporter: Namira Daufina | Editor: Yudho Winarto

BERMULA dari kecintaan pada desain bangunan, Dicky Gunawan akhirnya malah menggeluti bisnis properti. Di sektor itu pula, sebagian besar portofolio investasi Direktur Utama Govindo Group ini ditaruh. Setelah 26 tahun, ia tetap setia mengembangkan portofolio properti dan enggan pindah ke lain hati.

Kegemarannya pada dunia properti dimulai pada 1991 silam. Saat itu, Dicky memutuskan membangun bisnis dan berinvestasi pribadi secara bersamaan. Dari dana seadanya dan bermodal pinjaman bank serta temannya, pria kelahiran 1964 ini mulai membeli lahan-lahan kosong yang ada di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Sebagian tanah tersebut dikembangkan menjadi ruko untuk bisnis propertinya. Sedang sisanya jadi investasi pribadi Dicky. Digerakkan oleh kebutuhan dan kesadaran perlu dana di masa depan untuk melanjutkan hidup serta membantu finansial orangtua, maka tidak mau mencari risiko dengan berinvestasi di instrumen lainnya, kisah dia.

Dicky pun memilih tanah yang sudah pasti laku dan nilainya kelak bertambah seiring berjalannya waktu. Meski demikian, bukan berarti berinvestasi di sektor properti tidak membuatnya mengecap kerugian.

Beberapa kali Dicky membeli lahan yang tidak berkembang dan akhirnya harus dijual dengan harga miringagar laku. Tapi, itu hanya bumbu-bumbu berinvestasi. Risikonya masih bisa ditanggung karena sebelum dijual lagi sudah dengan perhitungan matang, katanya.

Tapi, kejadian itu tak mematahkan semangatnya untuk berinvestasi di properti. Sebagai investor, risiko rugi tidak bisa dihindari. Itu justru harus bisa jadi pembelajaran, agar ke depannya lebih cermat dalam memilih lokasi untuk berinvestasi properti. Jangan hanya tergiur dengan harga rendah, tegas Dicky.

Pengalamannya bergelut di sektor properti justru menjadi keuntungan tersendiri bagi pria kelahiran Banjarmasin ini. Keuntungan besar pun pernah didulangnya pada 2004 lalu.

Kala itu, Dicky memiliki beberapa lahan di titik strategis di Banjarmasin. Selang beberapa bulan, tanah tersebut ternyata masuk bagian dari rencana pengembangan kota oleh pemerintah daerah. Jelas, jadi untung besar karena dibeli oleh pemerintah. Sebelumnya, juga pernah beli tanah yang kemudian di beli oleh perusahaan lain karena mau dibangun kawasan properti, ujarnya. Maka, ia pun mengakui mayoritas yang diterimanya dari investasi properti adalah keuntungan.

Enggan pindah

Sesuai tujuan awal berinvestasi yakni untuk mengamankan aset dan memastikan ketersediaan dana jangka panjang, membuat Dicky memilih untuk tidak mencoba investasi lain. Saya yakin, investasi itu membutuhkan pengetahuan yang mendasar akan portofolio tertentu. Saya sadar, bahwa pengetahuan saya di luar properti sangat minim. Jadi, saya tidak mau coba-coba, tuturnya. Kini ia punya tanah, rumah, ruko.

Kehati-hatian dan rasa keterikatan dengan produk investasi yang dipilih menjadi pegangan utama Dicky dalam berinvestasi. Karena itu, ia mengaku termasuk dalam golongan investor konservatif.

Ketertarikannya pada salah satu portofolio investasi juga penting. Buktinya, kesukaan pada sektor properti lah yang membuatnya terus bertahan di portofolio ini. Setiap pilihan yang saya buat itu saya nikmati prosesnya, jadi tidak terasa seperti menabung dan terbeban, ujar ayah empat anak ini.

Itu pula yang perlu dimiliki oleh setiap calon investor baru. Jika dari awal sudah tidak tertarik dengan suatu jenis investasi, imbuh Dicky, coba kenali produk lain sampai menemukan yang pas di hati. Selain itu, dibutuhkan naluri yang baik saat berinvestasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×