kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.014,65   8,27   0.82%
  • EMAS955.000 1,06%
  • RD.SAHAM -1.07%
  • RD.CAMPURAN -0.35%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.08%

Cerita Happy Salma dan Ernest Membangun Bisnis Kreatif


Sabtu, 20 Agustus 2022 / 09:30 WIB
Cerita Happy Salma dan Ernest Membangun Bisnis Kreatif


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain menjalankan pekerjaan sesuai dengan yang diinginkan. Apalagi jika pekerjaan atau profesi tersebut di bidang industri kreatif.

Simak saja kisah Happy Salma, seorang seniman yang kini fokus pada profesi aktris teater dan film.

Keputusan Happy Salma ini juga akhirnya mendorongnya mendirikan Yayasan Titimangsa pada Oktober 2007 silam. Sebuah yayasan yang menjadi jembatan antara dunia sastra, teater, dan film yang didirikan bersama temannya Yulia Evina Bhara.

Bagi Happy, terjun ke dunia teater adalah mimpi yang selama ini ia pendam.

Happy remaja tumbuh dengan bacaan sastra Indonesia. Sejak kecil Ia memang memiliki hobi menulis dan membaca.

"Sejak sekolah dasar saya senang sekali menulis buku harian dan membaca buku kalau kesepian," katanya dalam acara Kompasfest 2022, Jumat (19/8).

Baca Juga: Festival Film Pendek 2022 Bertajuk Indodax Short Film Festival (ISFF) Siap Digelar

Meski begitu, keputusan terjun ke dunia teater tidaklah mudah. Modal sebagai artis tidak membuat teater yang ia dirikan berjalan dengan mulus.

Ia bahkan harus memulai dari bawah, dengan terjun langsung menjadi produser sekaligus pemain.

Akhirnya, Ia memutuskan untuk mencari tema teater yang bisa mengetuk hati banyak orang.

Misalnya saja saat akan mementaskan cerita tentang “Monolog Inggit” , yakni kisah hidup dari Inggit Garnasih, sosok mantan istri dari Presiden Indonesia, Soekarno.

Lambat laun, teater yang didirikan Happy mulai banyak dilirik sponsor dan diundang ke berbagai pertunjukan kampus. Kini teater miliknya menghasilkan 59 produksi.

Teranyar pertunjukan produksi ke-59 tersebut bisa dinikmati mulai 11-10 September 2022 di Gedung Arsip Nasional RI, dengan judul Sundamala: Dari Epilog Calonarang.

Kisah yang sama juga dialami oleh Ernest Prakasa seorang aktor, komika, penulis, sekaligus produser film.

Ernest juga menjalani profesinya saat ini adalah yang sesuai dengan minat yang memang ia sukai.

Untuk mengembangkan karirnya Ernest sangat aktif di sosial media. Mulai dari membuat kanal youtube, hingga memberikan opini publik di sosial media.

"Dan ini harus konsisten dan terus-menerus," katanya.

Sebagai storyteller, Ernest menyatakan penting memiliki subjektivitas agar bisa membedakan karyanya dengan karya orang lain.

Subjektivitas menurutnya membuatnya bisa menempatkan diri dalam sudut pandang yang berbeda-beda.

Ia menambahkan, jika seorang storyteller sudah mengenal karakternya, maka subjektivitas itulah yang membuat storyteller itu unik dan punya karakter.

Selain itu storyteller juga harus punya wawasan luas. 

Tak heran hingga saat ini, Ernest telah menerbitkan 5 buku, dan 6 film. Teranyar ia sedang mempersiapkan film yang ketujuh dengan judul Cek Toko Sebelah 2.  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Terpopuler
Kontan Academy
Digital Marketing in New Normal Era The Science of Sales Management

[X]
×