kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.002,36   -5,93   -0.59%
  • EMAS991.000 1,02%
  • RD.SAHAM -0.07%
  • RD.CAMPURAN 0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.07%

Cerita sukses Eko Desriyanto bangun IDeA Indonesia dari nol hingga ke lantai bursa


Kamis, 16 September 2021 / 07:30 WIB
Cerita sukses Eko Desriyanto bangun IDeA Indonesia dari nol hingga ke lantai bursa


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Eko Desriyanto sukses mengembangkan PT IDeA Indonesia Akademi. Berawal dari modal Rp 30 juta hasil pinjaman dari teman, dirinya sukses membesarkan perusahaannya hingga melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

PT IDeA Indonesia Akademi Tbk resmi tercatat di BEI pada 9 September 2021 dengan kode emiten IDEA. Dengan menawarkan saham 212.487.500 lembar di harga Rp 140, perusahaan meraup dana segar Rp 29,74 miliar.

Tidak mudah bagi Eko untuk sampai ke titik ini. Ia merintis bisnis Idea Indonesia di Lampung setelah pernah ditipu mitranya sendiri. Perusahaan ini dia rintis dari sebuah Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) kecil pada 2009.

“IDeA Indonesia saya dirikan untuk mewujudkan gagasan pendidikan vokasi ideal bagi Indonesia, yang tidak hanya mendidik dan melatih, tapi juga membantu penyaluran kerja,” kata Eko dalam keterangannya pada Kontan.co.id, Rabu (15/9).

Baca Juga: Usai IPO, begini agenda ekspansi IDeA Indonesia Akademi (IDEA)

Saat awal merintis, lulusan Sarjana Hukum Perdata Islam UIN Yogyakarta ini nyaris tidak memiliki modal. Bahkan untuk gedung, dia menempati bangunan tua bekas sekolah yang sudah tidak beroperasi.

Modal pertama uang sebesar Rp 30 juta yang Eko dapatkan dari pinjaman seorang teman. Sedangkan untuk tenaga pendidik, dia dibantu beberapa teman dan praktisi industri yang mengajar secara paruh waktu di IDeA Indonesia.

Kegiatan rekrutmen calon siswa dilakukan secara door to door ke sekolah-sekolah. Hasilnya selama 9 bulan sosialisasi, hanya 14 siswa yang berhasil direkrut menjadi peserta pelatihan.

 

 

Eko banyak menghadapi kendala saat merintis, mulai dari kondisi gedung yang kurang layak, hingga penolakan dari pihak sekolah untuk presentasi. Pasalnya, masyarakat masih menganggap karier di industri hospitality tidak memiliki masa depan jelas.

Untuk meyakinkan calon siswa, Eko menghadirkan praktisi untuk menyampaikan success story bekerja di hotel, restoran dan kapal pesiar.

Seiring waktu, Idea mengedukasi masyarakat, calon siswa dan pihak sekolah tentang karir dan profesi yang dibutuhkan dalam operasional hotel, seperti receptionist, room attendant, chef, barista, waiter, sales marketing, IT, dan human resources. Selanjutnya membantu para alumni dalam mencari pekerjaan.

Eko melihat peluang karier di industri hospitality sangat terbuka luas, namun masih sedikit pendidikan vokasi yang menyediakan SDM ideal untuk industri ini.

Baca Juga: IDeA Indonesia (IDEA) resmi jadi emiten ke-38 yang melantai tahun ini

Oleh karena itu, IDeA membuat pendidikan vokasi yang menitikberatkan pada pendidikan karakter peserta didik, meningkatkan dan mensertifikasi kompetensi, hingga memfasilitasi penempatan kerja atau berwirausaha.

Hingga 2009, banyak tersedia lembaga kursus, pelatihan, diploma, bahkan politeknik. Namun, dia menemukan lembaga-lembaga itu hanya sebatas melatih sampai memberi sertifikat atau ijazah.

Belum terlihat usaha yang komprehensif untuk membuat seluruh lulusannya berkarakter kuat dan membantu mereka mendapat pekerjaan atau berwirausaha.

IDeA Indonesia yang dirintis Eko tak ubahnya sebagai gagasan baru tentang pendidikan vokasi ideal dan berkualitas yang menjawab persoalan Sumber Daya Manusia (SDM) industri hospitality.

Menurut Eko, kesuksesan IDeA Indonesia banyak dipengaruhi oleh system pendidikan yang mampu melahirkan sdm hospitality yang berkualitas tinggi. Selama memimpin IDEA, dia merasakan kemajuan pada tiga aspek kehidupannya, yaitu aspek personal, profesional, dan finansial.

Pria kelahiran 5 Desember 1982 ini banyak belajar menjadi pribadi yang lebih baik, lebih stabil, dan lebih bijak. Sebagai leader sekaligus pendidik, menurut Eko, aspek kepribadian, perilaku dan keputusan-keputusan yang dibuat  menjadi benchmark, bukan saja bagi team tapi juga bagi peserta pelatihan.

Sebagai CEO, Eko terus belajar banyak tentang strategic business plan, business administration, people management, sales and marketing, finance and accounting, networking, dan hal strategis lain dalam bisnis untuk meningkatkan professionalism growth.

Dengan dukungan kepercayaan masyarakat yang semakin besar terhadap perusahaannya, IDeA Indonesia percaya diri mampu memenangkan kompetisi.

Baca Juga: Idea Indonesia Akademi lepas 212,48 juta saham IPO, hari ini mulai masa penawaran

“Kompetisi merupakan trigger positive untuk mendorong iklim inovasi yang lebih kreatif. Kami terbukti memiliki formula untuk konsisten tampil sebagai pemenang dalam berbagai persaingan,” paparnya.

Eko memberi contoh bagaimana IDeA Indonesia mendapat penghargaan dari Menteri Pendidikan RI sebagai Lembaga Pendidikan Vokasi Bidang Hospitality Terbaik di Indonesia sejak 2019.

Dalam mengembangkan bisnis ke depan Eko percaya, bahwa kolaborasi menjadi kata kunci untuk terus tumbuh pada era digital.

Terbukti, kolaborasi yang dijalin dengan berbagai pihak menjadikan IDeA tidak hanya bertahan, justru memecahkan rekor pendaftar dan peserta terbanyak pada 2020, di mana banyak sekali bisnis tumbang karena pandemi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Practical Inventory Management (SCMPIM) Supply Chain Management Principles (SCMP)

[X]
×