Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia | Editor: Sanny Cicilia
Berawal dari tugas kuliah, Septi Setiani berhasil mengembangkan produk Sekar Jawi menjadi usaha minuman rempah dan kosmetik berbahan alam. Bisnis yang dirintis dari industri rumahan itu kini memiliki kapasitas produksi hingga 12.000 produk per bulan dengan omzet sekitar Rp 150 juta per bulan. Seperti apa bisnisnya?
SAAT menempuh pendidikan Diploma Jamu, Septi menargetkan bisa menghasilkan satu produk sebelum lulus. Dengan memanfaatkan fasilitas kampus, ia mengembangkan herbal bath, produk herbal spa rempah untuk berendam.
Produk itu ditawarkan ke pusat oleh-oleh di Yogyakarta. Racikannya pernah ditolak lantaran kemasan dianggap kecil. Namun, ia kembali. Alhasil, tahun 2015, Septi merasakan pesanan berulang datang. Sembari menunggu legalitas termasuk cap halal tahun 2016, Septi merilis Sekar Jawi dengan menambah varian produk.
Kini, usahanya yang berpusat di Bantul, Yogyakarta, memiliki dua lini bisnis, yakni minuman rempah untuk pangan dan kosmetik berbahan alam. Kapasitas produksi minuman rempah mencapai 5.000 produk per bulan, sedangkan kosmetik lebih dari 7.000 produk per bulan. Operasional usaha ditopang 14 karyawan di dua area produksi.
Septi bilang, di awal pendirian omzetnya sekitar Rp 10 juta - Rp 20 juta per bulan. Namun, 2021 seusai pandemi melejitkan omzet Sekar Jawi. "Sekarang omzet sampai Rp 150 juta per bulan," ujar Septi kepada KONTAN beberapa waktu lalu.
Untuk memperluas penjualan, Sekar Jawi memasarkan produknya ke wilayah Jawa dan Bali. Produknya sempat diekspor ke Malaysia dan Singapura, meski belum rutin.
Sekar Jawi merambah ritel modern, meski terbatas di Alfamidi, Hypermart, Happy Harvest, dan AEON.
"Juga melalui marketplace dan live streaming untuk memantik penjualan dan mengenalkan brand kita ke pasar yang lebih luas lagi," kata Septi.
Untuk menjaga daya saing, Sekar Jawi punya sejumlah strategi. Menjaga produk relevan dengan kebutuhan konsumen. Misalnya, membuat jamu yang praktis dikonsumsi. "Kami ingin membidik target market Gen Z yang belum mengenal jamu," ujar Septi.
Untuk lini kosmetik, Sekar Jawi terinspirasi budaya Yogyakarta. "Jogja punya histori yang sangat kuat dari mulai keraton, peninggalan sejarahnya seperti itu. Jadi kami ingin menciptakan produk kosmetiknya Sekar Jawi itu berbasis budaya seperti itu," jelas Septi.
Pengembangan produk dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan konsumen. Septi juga memanfaatkan pameran di berbagai daerah untuk melihat perbedaan preferensi pasar sekaligus mencari ide produk baru.
Tahun ini, Sekar Jawi memprioritaskan pengembangan lini kosmetik, menggeser sejumlah produk serbuk ke lulur krim serta mengembangkan sabun cair dan sampo dengan bahan aktif yang terinspirasi dari kearifan lokal, termasuk daun serai dan citrus oil.
Di tengah pengembangan usaha, Septi menghadapi tekanan dari penurunan daya beli masyarakat serta kenaikan harga bahan baku dan kemasan. Sembari menekan biaya operasional, dia juga mencari peluang pasar baru.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














