kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Dari kompor kaleng hingga produk kekinian


Jumat, 28 Juni 2019 / 18:47 WIB

Dari kompor kaleng hingga produk kekinian

KONTAN.CO.ID - Tergesernya kompor minyak tanah oleh tabung gas pada era tahun 2000-an membawa perubahan besar bagi warga kampung Dukuh, Pasir Mukti, Citeurep, Bogor, Jawa Barat. Sejak era 1960-an, kampung Dukuh sudah terkenal sebagai sentra kompor minyak. Dus, secara turun-temurun penduduk kampung ini pun menjadi perajin logam. Kehidupan mereka pun tak pernah lepas dari dentingan bunyi logam beradu hantam dengan palu.

Namun, zaman berubah. Tak banyak lagi orang menggunakan kompor masak berbahan bakar minyak tanah. Agar dapur tetap ngebul, perajin kompor kampung Dukuh pun berinovasi. Karena kompor minyak ditinggalkan, kami coba bikin cetakan kue. Terus inovasi lagi bikin oven gas. Inovasi bikin aneka dandang dan sekarang makin variatif produknya, jelas Dedi Ahmadi, salah seorang perajin kampung Dukuh.

Banyaknya perajin logam di kampung itu membuat persaingan usaha kian ketat. Mereka pun saling berebut pasar. Tak cuma adu harga, sesama perajin pun kerap cek cok, bahkan adu fisik, karena memperebutkan konsumen.

Gejolak antar-perajin membuat saya prihatin. Sebab, hal itu justru akan merugikan semua perajin. Saya pun mencoba menghubungi PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk untuk sama-sama meredakan gejolak ini pada tahun 2010, papar Dedi.

Maka, Dedi dan beberapa temannya beserta pihak Indocement yang lokasinya tak jauh dari kampung, mengumpulkan sekitar 135 perajin logam di kampung itu. Muncullah kesepakatan untuk membuat usaha bersama-sama dengan cara mendirikan Kelompok Usaha Bersama (KUB). Namanya KUB Rancage.

Namun, tidak semua perajin mau bergabung dalam KUB. Dari 135 perajin di kampung itu, hanya sebanyak 102 perain yang ikut KUB. Pengurusnya ada tiga orang. Salah satunya Dedi.

Saat itu, pihak Indocement belum memberikan bantuan berupa materi. Beberapa petinggi di perusahaan itu hanya hadir, sekadar memberi arahan untuk mempersatukan dan memotivasi para perajin untuk bisa bekerja sama memajukan usaha mereka.

Dua tahun berjalan, atau sekitar tahun 2012, Indocement meluncurkan ide untuk memperkenalkan kampung Dukuh sebagai kampung kaleng kepada khalayak. Ide itu pun disepakati. Sejak saat itu lah kampung Dukuh lebih dikenal sebagai kampung kaleng.

Bersamaan dengan itu, perusahaan semen ini pun meluncurkan program CSR-nya dengan memberikan bantuan riil kepada para perajin yang tergabung dalam KUB. Pihak Indocement menanyai kami, apa saja yang diperlukan untuk mendukung usaha ini, jelas Dedi.

Selanjutnya, Indocement pun memberikan beragam bantuan. Mulai dari alat kerja, aneka pelatihan, permodalan, dan pemasaran.

Menurut Dedi, perajin juga seringkali berinisiatif mengajukan tema pelatihan sesuai kebutuhan. Misalnya, pelatihan manajemen keuangan. Hal semacam itu sangat penting bagi perajin supaya keuangan mereka tidak hanya tergerus untuk modal kerja, tapi jelas perputaran dan ada hasilnya.

Pasar lebih luas

Dari sisi permodalan, Indocement juga memberikan pinjaman bergulir. Modal yang difasilitasi mulai Rp 5 juta sampai Rp 20 juta per perajin. Dari pinjaman tersebut, peminjam dikenai biaya administrasi 0,5% per bulan. Tapi, sejak dua tahun terakhir, perajin tidak diberi lagi bantuan uang. Sebab, sekarang perajin harus bisa mandiri, jelas Dedi.

Untuk mendukung pemasaran, Indocement juga kerap mengajak perajin logam di kampung kaleng mengikuti pameran. Kami juga diperkenalkan untuk melakukan pemasaran secara online. Ini sangat membantu sekali, kata Dedi.

Dengan pemasaran melalui jaringan online, produk para perajin yang selama ini hanya menjangkau kawasan Kabupaten Bogor dan sekitarnya, kini menjadi kian luas. Sekarang, pembeli produk kami berasal dari hampir seluruh kota di Indonesia. Bahkan ada yang dikirim ke luar negeri, ujar Dedi.

Dedi bercerita, pihak Indocement juga memperkenalkan perajin kampung kaleng dengan media cetak. Sejak saat itu, popularitas kampung kaleng terangkat. Banyak pembeli yang langsung datang ke kampung kaleng untuk melihat langsung proses produksi dan selanjutnya berbelanja ragam hasil produksi.

Kehadiran konsumen secara langsung itu menjadi nilai lebih bagi kami. Dari menyaksikan langsung proses pembuatannya, konsumen jadi tertarik membuat produk pesanan khusus (customized). Dari situlah, varian produk kami juga semakin kaya. Produknya juga lebih kekinian, jelas Dedi.

Sejak tahun 2015, KUB Rancage telah berubah bentuk menjadi Koperasi Rancage. Omzet koperasi ini sebesar Rp 250 juta per tahun. "Omzet para perajin di kampung ini beragam. Ada yang sampai Rp 20 juta hingga Rp 25 juta per bulan," ujar Dedi.

Pertikaian antar perajin di kampung kaleng membuat Dedi Ahmadi gerah. Bapak empat anak itu pun menggandeng PT Indocement Tunggal Perkasa Tbk untuk turun tangan mencarikan solusi untuk perajin. Hasilnya? Simak cerita berikut.


Reporter: Fransiska Firlana
Editor: Fransiska Firlana


Close [X]
×