kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45725,83   16,46   2.32%
  • EMAS914.000 0,11%
  • RD.SAHAM 0.55%
  • RD.CAMPURAN 0.20%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Dari menu andalan saat kuliah, tiga sekawan ini merintis Eatlah


Sabtu, 10 November 2018 / 07:30 WIB
Dari menu andalan saat kuliah, tiga sekawan ini merintis Eatlah

Reporter: Tri Sulistiowati | Editor: Johana K.

Meski buka gerai, Eatlah incar pekerja kantoran

Tak punya latar belakang dunia kuliner, Charina Prinandia, Riesky Vernandes dan Michael Veryanto nekat terjun berbisnis ayam saus telur asin. Dengan modal patungan sebesar Rp 45 juta, tiga sekawan lulusan Raffles Design Institute ini membuka Eatlah.

Meski gemar menyantap menu ini di Singapura, tak mudah bagi Charina dan teman-temannya meracik resep yang pas. Waktu delapan bulan pun mereka habiskan untuk uji coba hingga rasa chicken salted egg pas di lidah konsumen lokal.   

Charina bilang, Riesky yang punya banyak peran menemukan racikan menu ini. Keluarga Riesky yang suka memasak sangat membantu mereka mulai dari meracik resep hingga penyajian.   

Seiring mencari resep yang pas, mereka juga menyiapkan desain kemasan berupa rice box. Pilihan desainnya adalah sederhana tapi modern. Pasalnya, konsep  Eatlah adalah makanan delivery. "Yang bisa dinikmati pekerja di kantor saat meeting," kata Charina.

Oleh karena itu, meski punya gerai di kawasan Pantai Indah Kapuk, Charina juga mendaftarkan Eatlah dalam layanan ojek online.  Responnya cukup baik, lebih dari 50% penjualan datang dari pesanan online.

Mendapatkan respon bagus dari pasar membuat roda bisnisnya berjalan dengan cepat. Satu persatu gerai cabang dibuka di Jakarta, untuk menjangkau lebih banyak konsumen.

Namun, menjalankan bisnis memang tak semudah yang dibayangkan. Perempuan 27 tahun ini mengaku sempat kesulitan untuk memenuhi bahan baku untuk salah satu gerainya.

Sebab, awalnya Eatlah hanya mengandalkan satu pemasok ikan dori. Seringkali menu tak dapat disediakan karena menunggu bahan sampai ke gerai.

Belajar dari pengalaman,  mereka pun mencari pemasok tambahan untuk menjamin pasokan bahan baku aman saban harinya.

Masalah lainnya, mereka juga kewalahan mengatur  jumlah karyawan yang mulai banyak. Maklum saja, ini merupakan bisnis pertama bagi mereka.

"Dulu, kami sempat harus merumahkan semua pegawai salah satu gerai karena ada kecurangan," cerita Charina.Sejak kejadian tersebut mereka memilih untuk menggunakan sistem keungan dan suplai terpusat sehingga dapat memantau aktivitas setiap gerai.                       



TERBARU
Terpopuler

[X]
×