Reporter: Jane Aprilyani, Merlina M. Barbara | Editor: Tri Adi
Tanaman daun dewa bisa dibudidayakan dengan sistem tumpang sari bersama tanaman palawija. Daun dewa juga bisa berkembang biak dengan melakukan stek batang dan tunas akar. Yang penting, pembudidaya harus rajin melakukan perawatan daun dewa. Tanaman ini mudah terserang hama.
Membudidayakan tanaman daun dewa terbilang tidak sulit. Selain tak butuh lahan yang luas, perawatan tanaman ini juga sederhana. Bibit daun dewa hanya butuh pupuk dan air secukupnya.
Arif Prabowo, pembudidaya daun dewa asal Sleman, Yogyakarta bilang, daun dewa bisa ditanam dengan sistem tumpang sari. Karena itu, di lahan budidayanya seluas 100 meter persegi (m²) di Sleman, ia menanam daun dewa secara tumpang sari dengan tanaman cabai.
Yang penting, pembudidaya harus buat jarak lubang tanaman. Jadi, daun dewa bisa ditanam persis di bawah tanaman cabai. Dengan begitu, penyiraman bisa dilakukan sekaligus terhadap pohon daun dewa dan cabai.
Arif bilang, daun dewa bisa berkembang biak dengan melakukan stek batang dan tunas. Tapi, dari dua metode ini, Arif memilih menggunakan metode tunas, karena umbinya dapat dibelah lalu ditanam sekaligus dengan airnya. Pada sistem stek, ia harus menempelkan daun dengan batang, lalu ditanam.
Meski bisa dibudidayakan dengan dua metode berbeda, hasil panennya sama. Yang penting, kadar air terpenuhi. Pada musim kemarau, daun dewa perlu disiram dua kali sehari. Sebab, daun dewa idealnya tumbuh di tanah lembab atau dengan curah hujan 1.500 milimeter (mm) hingga 3.000 mm per tahun.
Tapi, kendala pembudidaya daun dewa adalah hama dan penyakit tanaman. Hama yang biasa mengusik adalah ulat dan belalang. "Jika terserang hama, tanaman bisa rusak karena daunnya berlubang," kata Arif.
Selain itu, adanya gulma yang bisa mengakibatkan pertumbuhan daun dewa tidak maksimal. Munculnya gulma disebabkan proses penyiangan lahan tidak benar, sehingga memacu pertumbuhan tanaman liar.
Untuk perawatan, Arif biasanya mengalokasikan dana untuk beli pupuk dan minyak diesel. Minyak diesel dibutuhkan jika lokasi lahan budidaya jauh dari irigasi, sehingga butuh minyak untuk menjalankan mesin penyemprot air. Dalam sekali penyemprotan air, Arif merogoh kocek Rp 40.000 untuk membeli lima liter minyak diesel. Sementara untuk pupuk satu kuintal biayanya sekitar Rp 270.000.
Prabowo, pembudidaya daun dewa asal Yogyakarta menimpali, pembudidaya harus telaten mengawasi daun dewa dari serangan hama. Sebab, selain ulat dan belalang, tanaman ini juga kerap diserang kutu daun.
Untuk menghindari hama kutu, pembudidaya harus menyemprotkan anti-hama pada sisi daunnya.“Kalau melakukan proses perawatan dengan benar, daun dewa bisa tumbuh cepat,” katanya.
Menurut Prabowo, masa panen daun dewa terbilang singkat. Pada usia tiga bulan, daun dewa bisa dipanen. Sekali panen, pembudidaya bisa dapat puluhan kilogram daun dewa kering.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













