Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR15.203
  • SUN90,77 -0,26%
  • EMAS623.158 -0,48%

Dengan tokoh horor, gim lokal kian mencuri perhatian dunia

Minggu, 22 Juli 2018 / 16:05 WIB

Dengan tokoh horor, gim lokal kian mencuri perhatian dunia



KONTAN.CO.ID - JAKARTA Industri kreatif di Indonesia terus berkembang. Salah satu subsektor yang menunjukkan progres kemajuan yaitu industri gim. Para pengembang gim (developer game) lokal kian memperluas pasarnya, lewat ajang pameran dan kompetisi. Dengan kegigihan dan kerja keras, tahun lalu, posisi industri gim Indonesia menempati peringkat ke-16 dunia. Posisi ini naik satu peringkat dari pencapaian tahun sebelumnya.

Sebanyak 171 pengembang lokal terus memasarkan produknya. Salah satunya yaitu Rachmad Imron, founder Digital Happiness, studio gim yang memperkenalkan seri gim DreadOut.

Ketertarikan pada gim  memang diakui Imron sejak kecil. Kecintaannya mulai dari film, gim  ataupun buku bergenre horor membentuk kebudayaan dan pengetahuan baginya.

"Karena suka dan sampai punya anak, saya belajar semua dari gim. Saya tahu samurai, ninja sampai belajar bahasa inggris dari gim," ujar Imron kepada KONTAN, di Jakarta.

Dari situlah, Imron tertarik untuk membuat gim. Lagipula diakui Imron, gim lokal saat ini masih kurang dibanding gim asing.

Memulai demo gim berjudul DreadOut pada tahun 2013, Imron aktif memasarkannya melalui online. "Kami memberanikan diri buat gim anak SMA melawan kuntilanak yang memang belum ada sebelumnya," tuturnya.

Game horor DreadOut pun mendapat preorder pertama kali lewat International Crownfunding. Imron mengaku pre order game pada tahun 2014 tersebut mendulang pendapatan Rp 350 juta. "Cita-cita saya dan teman lain pendiri DreadOut adalah membuat sebuah IP Game yang dijadikan bisnis yang baik," tambah Imron lagi.

Bisa mendulang pendapatan besar dan dikenal di dalam ataupun luar negeri memang tidak mudah. Imron mengisahkan, awalnya harus memperkenalkan dahulu kepada market, mencari tahu apa gim yang diinginkan masyarakat hingga akhirnya gim DreadOut diapresiasi para pemainnya di lokal ataupun internasional.

Kini, pendapatan yang diperoleh Digital Happiness mencapai US$ 150 atau sekitar Rp 2 miliar tiap bulan. "Penjualan pertama paling banyak dari Amerika Serikat, China, Rusia lalu Asia Tenggara seperti Indonesia, Filipina dan lainnya," jelasnya.

Imron menjelaskan bahwa untuk memperoleh omzet besar tidak mudah. Sama halnya dengan membuat gim Dreadout yang memakan waktu dua tahun. "Dari konsep dan ide dulu, lalu kita buat visualnya, lalu buat prototype. Lalu mengerjakan art, kemudian ke sketch, dan transfer ke tiga dimensi (3D), terakhir ke animasi dan diprogram agar dimainkan," jelas Imron.

Rencananya, Imron akan membuat gim DreadOut seri keempat dengan tema fantasi horor pada tahun ini.  


0

TERBARU
Seleksi CPNS 2018
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0014 || diagnostic_api_kanan = 0.0715 || diagnostic_web = 0.4717

Close [X]
×