kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.014,65   8,27   0.82%
  • EMAS955.000 1,06%
  • RD.SAHAM -1.07%
  • RD.CAMPURAN -0.35%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.08%

Generasi kedua bisnis Lookman Djaja


Minggu, 16 April 2017 / 10:27 WIB
Generasi kedua bisnis Lookman Djaja


Reporter: Elisabeth Adventa | Editor: Yudho Winarto

MENJADI anak tertua dalam keluarga bukan saja menanggung beban sebagai contoh dan teladan bagi adik-adiknya, tapi juga menanggung beban untuk meneruskan bisnis keluarga.

Hal tersebut disadari betul oleh Kyatmaja Lookman, Direktur Utama PT Lookman Djaja (LD), salah satu perusahaan jasa ekspedisi di Indonesia yang berdomisili di Jakarta dan Surabaya.

Pria yang akrab disapa Kyat ini adalah anak sulung dari Kandradi Lookman, pendiri Lookman Djaja. Kyat mulai bergabung dengan perusahaan yang dirintis oleh sang ayah sejak tahun 2005 dan akhirnya memimpin perusahaan tersebut mulai tahun 2015.

Lookman Djaja didirikan Kandradi pada tahun 1985 di Surabaya, Jawa Timur. Waktu itu Kyat masih berusia 4 tahun. Awalnya, perusahaan ini dibentuk Kandradi bersama adiknya untuk berbisnis perdagangan buah lokal dan impor di Surabaya dan sekitarnya.

Kandradi rutin mengirim buah-buahan ke Jakarta. Hanya saja, pada perjalanan bisnis ini, Kandradi terkendala biaya angkut yang tinggi. Alhasil, untuk menyiasati kurangnya muatan buah yang akan dikirim ke Jakarta, Kandradi kerap mencari kargo tambahan untuk dikirim bersama buah-buah miliknya tersebut. Inilah dimulainya bisnis ekspedisi Lookman Djaja yang bertahan hingga saat ini.

Bisnis ekspedisi Lookman Djaja terus berkembang seiring berjalannya waktu karena mampu menggaet banyak klien, seperti perusahaan konsumer, rokok, dan tekstil. Hampir semua barang yang diantar oleh perusahaan ini adalah barang jadi atau final product.

Bisnis ekspedisi Lookman Djaja bisa bertahan sampai hari ini karena menawarkan berbagai keunggulan. Salah satunya adalah konsep truk ekspedisi yang terbagi dua. Pertama, jenis full truck load yang menyewakan satu unit truk seluruhnya kepada satu klien. Kedua, less truck load atau eceran. Truk ini menggabungkan paket dari berbagai klien ke dalam satu truk.

Saat ini bisnis Lookman Djaja telah merambah ke berbagai tujuan pengiriman seperti Sumatera, Jawa, dan Bali. Operasional bisnis logistik Lookman Djaja didukung oleh armada sekitar 300 unit truk dengan beragam jenis dan ukuran.

Meskipun masih eksis, tetapi perkembangan bisnis Lookman Djaja dinilai belum optimal. Hal itu mengingat pasar ekspedisi dan logistik nasional yang terus tumbuh dari tahun ke tahun. Oleh karena itu, tugas menata perusahaan agar bisa lebih rapi dari sisi manajemen diberikan kepada Kyat selaku putra mahkota keluarga Lookman.

Saat berbincang dengan KONTAN di kantornya, Kamis (13/4), Kyat mengisahkan awal mula masuk dan terlibat dalam perusahaan logistik milik sang ayah. Keluarga Lookman agaknya memang sudah mempersiapkan Kyat sebagai calon pemegang perusahaan sejak lama. Hal ini tercermin dengan jurusan kuliah yang diambil pria kelahiran 12 Januari 1981 tersebut.

Saat bergabung ke perusahaan tahun 2005, Kyat menyandang gelar Master of Business Administration (MBA) bidang Strategi Bisnis dari University of Technology Sydney, Australia.

Selain dipersiapkan dari sisi pendidikan, keluarga Lookman juga telah membiasakan Kyat untuk mengenal bisnis keluarga sejak kecil. Menurut Kyat, saat ayahnya mendirikan perusahaan ini, rumah dan kantor menjadi satu. Alhasil, mau tak mau lelaki berzodiak Capricorn ini selalu mengamati aktivitas bisnis sang ayah.

Pepatah mengatakan bisa karena biasa. Itu pula yang membuat Kyat akhirnya tertarik masuk perusahaan sang ayah. Motivasinya untuk mempertahankan bisnis keluarga sekaligus menantang dirinya untuk berkembang membuatnya rela mencurahkan seluruh fokus untuk Lookman Djaja.

Kyat menceritakan, meskipun dirinya sadar akan mewarisi bisnis keluarga, bukan berarti jalan untuk bisa meneruskan langkah yang dibangun ayahnya berjalan mulus.

Kyat menyebut ada tugas berat yang harus dihadapinya. Sebab dirinya selain harus bisa mempertahankan bisnis sang ayah, sekaligus mengembangkannya menjadi lebih besar. "Ayah sudah merintis usaha ini dari masih berstatus Usaha Dagang (UD) hingga menjadi perseroan terbatas (PT) seperti saat ini. Sehingga anaknya harus mampu mempertahankannya," kata Kyat.

Oleh karena itu, setelah lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) tahun 1998, Kyat memutuskan untuk kursus bahasa Inggris agar bisa menempuh pendidikan di luar negeri. Setelah merasa bahasa Inggrisnya cukup moncer, Kyat memutuskan kuliah di New New South Wales University, Australia.

Tak hanya satu jurusan, Kyat mengambil dua disiplin ilmu sekaligus di Negeri Kanguru tersebut, yakni jurusan Teknologi Informasi (IT) dan Business Strategy. "Di akhir tahun perkuliahan sarjana, orangtua saya meminta agar saya lebih mandiri mencari pemasukan pribadi. Alhasil, saya mulai kerja di industri rumahan yang memproduksi selimut bagi kalangan menengah ke atas di Australia," ujarnya.

Kyat menilai, nasehat orang tua mendorongnya untuk mandiri sekaligus menjadi pembelajaran yang kelak akan berguna baginya di kemudian hari. Dalam upayanya mengais rezeki di Australia, berbagai peran pekerjaa dijalankan Kyat, seperti membongkar barang yang masuk, mendata, hingga urusan pengiriman.

Setahun bekerja di industri rumahan, Kyat berinisiatif menambah pengalaman sebagai pekerja paruh waktu di Woolworths Supermarket, sebuah perusahaan ritel terbesar di Sydney. "Saya mengambil kerja malam di sana, karena pagi sampai siang saya harus kuliah. Bayarannya juga lebih tinggi kalau kerja malam. Pekerjaan saya adalah mengisi barang-barang di dalam supermarket," kenangnya.

Setelah mengantongi gelar sarjana untuk dua disiplin ilmu yang dijalaninya, Kyat meneruskan pendidikannya dengan mengambil Master of Bussiness Administration (MBA) di University of Technology Sydney, masih di negara yang sama.

Berkat ketekunannya, karier Kyat di Australia mulai meningkat setelah diterima bekerja di Burwood Mega Mart, salah satu toko elektronik terbesar di Sydney "Toko elektronik ini luasnya sekitar satu hektare, tapi orang gudangnya sedikit. Saya memegang satu hektar sendiri. Kerjanya, bongkar barang yang datang, data persediaan barang juga," kenang Kyat.

Meski dipercaya memegang satu hektare gudang seorang diri, Kyat bilang sistem kerjanya lebih efisien. Misal, jika bongkaran barang, satu truk hanya membutuhkan waktu 15 menit.

Menetapkan SOP

Pada tahun 2005, Kyat berhasil menyelesaikan pendidikan strata dua (S-2) di Sydney dan memutuskan mengakhiri petualangan berkarier di negeri orang dan balik ke Tanah Air.

Pengalaman bekerja di Australia rupanya bermanfaat bagi Kyat yang langsung didaulat oleh sang ayah memimpin operasional perusahaan di Jakarta.

Kyat merasa senang dapat membantu ayahnya memimpin perusahaan. Maklum, sebelum Kyat memimpin kantor di Jakarta, Kandardi harus sering bolak-balik Jakarta-Surabaya hanya untuk memantau operasional perusahaan.

Tak sekadar memimpin perusahaan, tugas Kyat tak ringan karena harus bisa berkompetisi dengan perusahaan ekspedisi dan logistik lain. Kepemimpinannya diperlukan untuk memenangi bisnis logistik yang ketika itu tengah jadi buah bibir.

Berbagai strategi bisnis pun coba dilancarkan Kyat demi merebut pasar. Salah satu strategi bisnis yang paling awal dilakukan adalah pembenahan manajemen, sesuai dengan kompetensi keilmuannya.

Kyat mendapati bahwa meskipun perusahaan ayahnya telah berjalan puluhan tahun, tapi ternyata tak punya standar baku dan Standar Operasional Perusahaan (SOP), serta deskripsi pekerjaan untuk setiap karyawan. "Selama ini ayah menjalankan perusahaan one man show atau semua pekerjaan diselesaikan sendiri oleh ayah dan cara tersebut mustahil untuk dipertahankan," ujarnya.

Salah satu SOP yang dibentuk manajemen adalah sistem perekrutan supir truk ekspedisi selaku tulang punggung perusahaan. Jika dahulu keputusan perekrutan pengemudi perusahaan sepenuhnya berada di tangan Kandradi. Sejak Kyat memimpin perusahaan di Jakarta, gaya subjektivitas ini ditinggalkan dan perubahan ini menjalar ke berbagai aspek di perusahaan. "Semua hal harus dibuktikan dengan data. Sekalipun berkaitan dengan hal kecil, seperti tingkat keausan ban atau memilih kualitas ban untuk truk," jelasnya.

Salah satu bukti hilangnya subjektivitas dari perusahaan ini adalah ketika Kyat menyusun dan menetapkan Key Performance Indicators (KPI) bagi karyawannya. Tujuannya adalah untuk mengukur performa kerja sekaligus sebagai bahan evaluasi yang terukur.

Awalnya, berbagai pembenahan yang dilakukan Kyat mendapat penolakan dari ayahnya. Namun, lambat laun Kyat dan kedua adiknya, Wiraatmaja Lookman dan Cienthia Lookman, berhasil meyakinkan orang tuanya. Apalagi, sejumlah inovasi yang dilahirkan generasi kedua bisa membawa kemajuan bagi perusahaan keluarga itu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Terpopuler
Kontan Academy
Digital Marketing in New Normal Era The Science of Sales Management

[X]
×