kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45936,49   -8,95   -0.95%
  • EMAS1.027.000 -0,19%
  • RD.SAHAM -0.04%
  • RD.CAMPURAN -0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Harmoni berwisata di Kampung Kepuh, Tanjung Lesung (bagian 2)


Sabtu, 19 Oktober 2019 / 09:15 WIB
Harmoni berwisata di Kampung Kepuh, Tanjung Lesung (bagian 2)
ILUSTRASI.


Reporter: Ratih Waseso, Venny Suryanto | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - TANJUNG LESUNG. Keberadaan Kampung Wisata Kepuh, Tanjung Lesung, Pandeglang tidak terlepas dari Kampung Wisata Cikadu yang menyuguhkan sanggar batik Cikadu sebagai jualan utama desa tersebut. Kebetulan, lokasi Kampung Kepuh ini masih satu wilayah dengan Cikadu yakni di kawasan penyangga Tanjung Lesung.

Kampung wisata ini memang baru beroperasi sejak Juni 2019 yang lalu. Dan sejauh ini sudah ada sekelompok tamu dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang menginap di kampung tersebut.

Menurut Sobandi, Koordinator Kampung Wisata Kepuh, desa wisata ini sudah menyediakan 13 penginapan yang merupakan rumah warga. "Kami memilih tempat penginapan berdasarkan kebersihan, kerapian dan toilet yang memadai," katanya kepada KONTAN.

Baca Juga: Pemprov berharap Banten segera bangkit, investor tanamkan modalnya, dan turis datang

Untuk paket wisata sampai menginap, atau pangenongan dalam bahasa Sunda, tarifnya  sekitar Rp 250.000 per orang. Ini sudah termasuk makan dan mengikuti ragam kegiatan yang ada. Pelancong juga bisa menginap saja tanpa ikut kegiatan dengan tarif Rp 75.000 per orang.

Sayang, Sobandi tidak memerinci target yang dibidik dari keberadaan kampung wisata ini. Yang jelas ia harap segala potensi wisata di Kampung Kepuh bisa dikenal oleh para turis dari luar Tanjung Lesung.

Misalnya saja keberadaan curug manuk dan bukit pilar yang ada di sekitar Kampung Kepuh. Untuk curug manuk saat ini tengah kering lantaran musim kemarau panjang, sedangkan bukit pilar menyuguhkan pemandangan sunset berlatar belakang Selat Sunda.

Hal lain yang ia harapkan adalah bisa mendongkrak ekonomi dari warga sekitarnya. Ini diakui oleh Sardana, perajin gula aren mengaku tak keberatan membagi ilmu membuat air nira menjadi gula aren. Justru ia berharap, dengan mempertontonkan cara membuat aren ini membuat para pelancong jadi tertarik untuk membeli gula aren racikannya.

Biasanya, setelah membuat gula aren yang bisa memakan waktu seharian, Sardana terlebih dahulu mengumpulkan satu per satu gula aren tersebut. Lantas menjajakannya ke pengepul. Ia membanderol satu tangkap (berisi dua potong gula aren) seharga Rp 20.000. "Saya bungkus pakai pohon nira, jadi alami," tuturnya.

Baca Juga: Alat pendeteksi gempa sudah terpasang di Tanjung Lesung

Sedangkan perajin anyaman bambu yakni Saniah tertarik bergabung dengan Sanggar Bambu Gunung arahan Sobandi. Harapannya adalah dirinya bisa mendapat lebih banyak lagi pesanan anyaman bambu yang masuk. Ia sendiri sudah empat tahun menggeluti usaha sebagai perajin bambu di Kampung Kepuh.

Biasanya ia membuat ragam produk kebutuhan dapur dari bambu, seperti wadah sayur dan buah-buahan, serta perangkat lainnya. Setiap pembuatan satu anyaman bambu ia mendapat upah.

Namun ia enggan membeberkan pendapatannya. Yang pasti dengan menjadi perajin bambu, dirinya bisa mencukupi kebutuhan keluarga.

Makanya, untuk mengoptimalkan pendapatan para perajin, Sobandi kerap mengikuti kegiatan event wisata seperti Festival Tanjung Lesung di akhir bulan lalu, atau memasarkan via media sosial. Harapannya, warga bisa bangkit dari trauma tsunami.                    

(Selesai)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×