kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45866,25   0,74   0.09%
  • EMAS918.000 0,11%
  • RD.SAHAM -0.32%
  • RD.CAMPURAN -0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.08%

Herbal Borneo meracik cuan dari produk herbal teh bajakah


Sabtu, 29 Mei 2021 / 11:30 WIB
Herbal Borneo meracik cuan dari produk herbal teh bajakah

Reporter: Ratih Waseso | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Produk herbal semakin naik daun selama pandemi. Sebab, produk ini bisa menjadi salah satu upaya untuk menjaga bahkan mendongkrak imun tubuh untuk melawan virus korona. Salah satunya: bajakah. 

Tanaman kayu asal Kalimantan Tengah dengan nama latin Spatholobus littoraliss hassk ini sempat viral karena khasiatnya menyembuhkan penyakit kanker. Suku Dayak memakai bajakah untuk mengobati berbagai penyakit. 

Potensi inilah yang membuat M. Khalid, pemilik Herbal Borneo (Herbo) di Tabalong, Kalimantan Selatan, membuat produk herbal berbasis bajakah sejak 2019. Tak disangka, produk herbalnya mendapat respons positif selama pandemi.

Sebelum pandemi virus korona, Khalid biasanya menjual produk herbal bajakah dengan nilai hingga Rp 20 juta sebulan. Saat pandemi, penjualannya langsung melonjak menjadi Rp 30 juta sebulan, bahkan sempat mencapai Rp 40 juta sebulan. "Sebetulnya, penjualan produk ini sebelum pandemi sudah ramai, tetapi semakin ramai setelah pandemi," katanya di acara Jelajah Virtual UMKM binaan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) pekan ini.

Baca Juga: Bangga Buatan Indonesia: Elsana Bekti Nugroho merancang fesyen cetakan alami

Awal usaha, Khalid membuat produk herbal berupa potongan irisan bajakah kering. Tapi, karena bentuk potongan kayu cukup rumit untuk pengiriman logistik, ia pun mengubah bentuknya menjadi olahan dalam kantong kemasan teh supaya gampang dikonsumsi. Jadilah, teh bajakah.

Khalid tentu tak sendirian menjalankan usaha produk herbalnya. Ia dibantu 15 karyawan yang terdiri dari tim di lapangan yang bertugas mencari bahan baku, tim produksi, tim pengemasan, dan tim distribusi.

Selain dari hutan-hutan di Kalimantan Tengah, Khalid mendapatkan bajakah dari budidaya tanaman ini yang dikelola koleganya.

Untuk urusan pemasaran teh bajakah, dia menggunakan kanal offline dan online. Khusus pemasaran online, ia membuka jaringan reseller. Saat ini, sudah ada 100 reseller aktif bergabung. 

Sementara untuk penjualan offline, Khalid melakukannya via toko, koperasi, hingga pameran-pameran. Tak heran, teh bajakah Herbo sudah menembus ke banyak daerah di Indonesia bahkan luar negeri, seperti Malaysia dan Korea Selatan.

Saat ini, Khalid tengah mengurus perizinan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Dia berharap, izin tersebut bisa keluar tahun ini juga. Dengan begitu, pemasaran teh bajakah dan produk herbal Herbo lainnya bisa makin meluas, baik di dalam maupun luar negeri.

Selain teh bajakah, menurut Khalid, Herbo  bikin sejumlah produk herbal, dengan kapasitas produksi total mencapai 240 kilogram per bulan.   

Selanjutnya: Bangga Buatan Indonesia: Ranah online jadi kunci Bateeq melawan pandemi

 




TERBARU

[X]
×