kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45790,50   -3,71   -0.47%
  • EMAS1.007.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.22%
  • RD.CAMPURAN 0.09%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.23%

Hikmah setelah berhijrah


Senin, 26 Desember 2016 / 15:23 WIB
Hikmah setelah berhijrah

Reporter: Dadan M. Ramdan | Editor: Dadan M. Ramdan

JAKARTA. Di antara bingkai foto dan lukisan yang menempel pada dinding kantor Adinda Azzahra, terselip sebuah figura piagam penghargaan yang terbilang istimewa. Ya, piagam penghargaan Rekor MURI yang diberikan kepada Priyadi Abadi, Fouder & Chairman Indonesia Islamic Travel Communication Forum (IITCF) atas penyelenggaraan seminar bersambung terbanyak dalam perjalanan pada Juli-Juli 2016 lalu.

Saat KONTAN menyambangi kantor perusahaan travel umrah plus dan wisata muslim sekaligus sekretariat IITCF di Jalan Selat Bali No.5 Blok E 11, Duren Sawit, Jakarta Timur, Rabu (21/12) lalu, Priayadi menceritakan asal usul meraih Rekor MURI tersebut. Selama 2016, IITCF menggelar dua kali West Europe Tour Leader Moslem Educational Trip (WEMET), yang diikuiti oleh puluhan pengusaha travel muslim, tour leader dan tour planner. WEMET pertama dilaksanakan pada Februari dan kali keduanya sekitar akhir Juli hingga awal Agustus 2016.

Pelatihan dan seminar selama dua pekan ini mencakup 13 kota di enam  negara, yakni Perancis, Belgia, Belanda, Jerman, dan Italia. Priyadi mengatakan, seminar berkelanjutan di atas bus dengan berbagai topik seputar travel muslim. “Masing-masing seminar berdurasi minimal dua jam. Dari agenda ini IITCF mendapat penghargaan Rekor MURI,” sebutnya.

Selain menyelenggarakan trip dan pelatihan, IITCF mengadakan gerakan sejuta perangkat salat di berbagai negara. Peralatan ibadah ini didistribusikan di hotel, restoran, tempat objek wisata, toko duty free, masjid dan rest area di Eropa, yang sering dikunjungi wisatawan muslim. Selanjutnya, gerakan tebar sejuta perangkat salat dalam educational trip dilaksanakan di Balkan dan Amerika Serikat guna menyosialisasikan wisata muslim terutama di negara-negara non Islam. “Gerakan membagikan sejuta perangkat salat  juga meraih Rekor MURI,” ungkap dosen tamu di sejumlah universitas pariwisata.

IITCF didirikan sejak 2015 sebagai wadah silaturahim, berbagi ilmu dan informasi antar sesama travel muslim, tour leader, tour planner, dan masyarakat umum. IITCF menjadi jembatan bagi 200 perusahaan travel muslim dalam memperluas wawasan, keterampilan baik staf maupun owner travel muslim.

Diprotes orangtua
Sejatinya kiprah Priadi di IITCF dalam menggaungkan travel muslim sudah melewati perjalanan panjang yang berliku. Ini menempatkannya sebagai salah satu perintis dan penggiat wisata muslim di tanah air. Bahkan jebolan pendidikan Trisakti Tourism ini merintis usaha dari nol. Dan ketertarikannya terhadap dunia travel menjadi awal Priyadi mengambil jalur pendidikan pariwisata meski diprotes orangtua kala itu. “Orantua bilang buat apa kuliah pariwisata. Kerjanya cuma di hotel, cuci-cuci piring atau bersih-bersih kamar,” kenang pria kelahiran Jakarta, 27 Oktober 21972.

Ia tetap memilih kuliah pariwisata walaupun tidak direstui orangtua, karena profesi tersebut belum banyak yang menekuni waktu itu. Selain itu, punya keyakinan kuat jika suatu saat nanti pariwisata bakal menjadi sektor industri yang menjanjikan dengan perputaran uang sangat besar.

Karier Priyadi di sektor pariwisata dimulai sejak masih kuliah sekitar 1992. Awalnya freelands sebagai pemandu wisata untuk tujuan domestik atawa inbound. Saat itu sempat mendampingi rombongan dari sebuah perusahaan ke Lombok dan Bali. Setahun kemudian meningkat menjadi outbond tour leader seperti ke negara-negera Asia, Australia, Amerika, Eropa dan Timur tengah termasuk umrah. “Fee untuk tour leader standarnya US$ 50 per hari,” ujarnya.

Sejatinya Vice Chairman Indonesia Tour Leaders Assosiation (ITLA) ini pun merangkak karier profesional dari mulai staf paling bawah hingga top manajemen di beberapa agen travel. Namun selama 16 tahun berkecimpung di travel umum, Priyadi melihat dan merasakan betapa sulitnya wisatawan muslim memenuhi kebutuhan dasar terutama salat dan memperoleh makanan halal.

Nah, berbekal penghasilan selama bekerja di agen travel umum dan modal jaringan yang luas, Priyadi memutuskan hijrah dengan merintis usaha mandiri travel muslim. Keinginan tersebut tercapai pada 2010 dengan berdirinya PT Putri Adinda Pratama yang menaungi usaha travel Adinda Azzahra. Izin usaha yang dikantongi untuk umrah plus dan wisata muslim.

Usaha ini juga tidak semata-mata bisnis, tapi ada dorongan untuk menyiarkan Islam lewat tadabur alam dari tempat-tempat yang dikunjungi. “Hikmah saya hijrah ke travel muslim adalah ibadah saya tambah baik,” akunya.

Ketika merintis wisata muslim, banyak rekan seprofesi yang meragukan. Apa bisa paket wisata muslim diserap pasar. Maklum hampir semua travel muslim hanya berbisnis umrah dan haji yang sudah pasti. Memang, masa-masa awal hanya satu atau dua orang yang diberangkatkan dalam program paket wisata muslim. Karyawan pun belum ada, hanya dibantu istri dan saudara.

Kini, dengan mempekerjakan 15 karyawan, hampir setiap bulan Adinda Azzahra memberangkatkan rombongan wisata muslim sekitar 30-40 orang. Dari mulai pengusaha, pejabat kementerian, anggota DPR, bupati dan gubernur kerap memakai jasa Adinda Azzahra. Harga paket yang ditawarkan mulai Rp 30 juta per orang. Ditanya soal omzet penjualan, Priyadi hanya bilang bisnis travel sangat menggiurkan. “Alhamdulillah, permintaannya terus naik,” aku Vice Presiden PT Media Majalah Indonesia.

Menurut Priyadi, dalam beberapa tahun ini wisata muslim sedang menjadi tren di dunia dan mulai terlihat geliatnya di Indonesia seiring gencarnya promisi wisata halal yang dicanangkan pemerintah. Sebab itu, Adinda Azzahra terus mengembangkan kemitraan (franchise) travel muslim. Harga paket kemitraan yang ditawarkan Rp 150 juta untuk lima tahun. “Sudah ada empat franchise,” bebernya Priyadi yang sering menjadi pembicara dalam seminar dan pelatihan travel muslim di tingkat nasional maupun internasional.

Soal ekspansi usaha, Adinda Azzahra berencana membuka cabang di beberapa daerah selain mengembangkan kemitraan.     



TERBARU

[X]
×