kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.022,99   -3,35   -0.33%
  • EMAS972.000 -0,21%
  • RD.SAHAM -0.27%
  • RD.CAMPURAN 0.00%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.09%

IKM Otomotif di Tegal Siap Masuk Ekosistem Kendaraan Listrik


Jumat, 01 Juli 2022 / 10:41 WIB
IKM Otomotif di Tegal Siap Masuk Ekosistem Kendaraan Listrik
ILUSTRASI. Direktur sekaligus pemilik FNF Metalindo Utama Faizal Amri Elfaz mengatakan IKM Otomotif di Tegal Siap Masuk Ekosistem Kendaraan Listrik.


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tegal merupakan Kota/Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang dijuluki sebagai Jepangnya Indonesia. Bukan tanpa sebab, julukan tersebut ternyata memiliki makna yang mendalam. Julukan tersebut diberikan karena masyarakat tegal terkenal handal di bidang industri logam, seperti dalam industri manufaktur otomotif nasional.

Tidak heran jika banyak perusahaan manufaktur yang ada di Kota/Kabupaten tersebut. Sebut saja, PT FNF Metalindo Utama yang merupakan perusahaan yang bergerak di bidang produksi komponen otomotif.  Bahkan perusahaan tersebut sudah menjadi rantai pasok dari PT Astra Honda Motor (AHM) dan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMIIN) sebagai tier dua.

Direktur sekaligus pemilik FNF Metalindo Utama Faizal Amri Elfaz mengatakan, bahwa perusahaan tersebut awalnya didirikan oleh ayahnya pada tahun 1980-an. Namun pada saat itu hanya memproduksi komponen-komponen alat kesehatan (alkes) seperti ranjang rumah sakit serta komponen untuk pertanian.

Namun dirinya mengaku, sejak perusahaan tersebut berdiri tidaklah mudah. Pada tahun 1998, PT FNF Metalindo menghadapi krisis moneter yang mengakibatkan berhentinya produksi karena tidak adanya karyawan lagi. Namun dengan adanya guncangan tersebut, tidak membuat ayahnya berhenti dan putus aja, sehingga perusahaan tersebut masih bisa survive dan berkembang bahkan dapat beberapa tawaran produksi dari perusahaan nasional.

Baca Juga: Kabar Kurang Sedap, Toyota Bakal Kerek Harga Mobil karena Dua Alasan Ini

Seiringnya waktu, ketika Fariz menyelesaikan pendidikanya menjadi sarjana teknik, pada tahun 2010 dirinya memutuskan untuk melanjutkan perusahaan ayahnya dan beralih memproduksi komponen otomotif. Hingga saat ini dirinya sudah membantu masyarakat di sekitarnya untuk bekerja di tempatnya dengan jumlah pekerja sekitar 32 orang.

"Selesai kuliah itu tahun 2008. Saya kan lima bersaudara. Memang dari awal itu, papa maunya saya yang meneruskan perusahaan. Jadi selesai kuliah, sama papa itu disuruh kerja di luar dulu. Dan tahun 2010 saya yang meneruskan perusahaan," ujar Fariz kepada Kontan.co.id saat ditemui di tempat usahanya, Kamis (22/6).

Hingga pada tahun 2013, Faizal mengaku dirinya sempat mendapatkan tawaran dari PT Dharmapoli Metal untuk menjadi pemasok komponen sepeda roda dua ke PT AHM.

Sehingga dari situ, FNF Metalindo dibina oleh Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) untuk melakukan beberapa improvement, baik dari manajemen, sistem kerja yang modern, basic mentality serta penerapan 5R (Resik, Rapi, Ringkas, Rajin dan Rawat).

Meskipun pada awalnya banyak penolakan dari pekerjanya, sehingga Faizal memutuskan untuk menghentikan pekerjanya yang tidak mau mengikuti perubahan tersebut. 

"Kalau dulu karyawan saya pakai celana pendek, terus sandal jepit sambil ngerokok. Terus ada musik dangdutnya," canda Faizal.

Setelah dilakukan audit terhadap pengembangan manajemen dan proses produksi, pada akhirnya, pada tahun 2015, FNF Metalindo Utama masuk ke dalam rantai pasok di PT AHM.

Baca Juga: Menperin Perkuat Kerjasama Otomotif RI-Jepang di Forum Bisnis Suku Cadang Kendaraan

Namun, Faizal mengaku bahwa krisis cip semikonduktor yang melanda industri otomotif global berdampak kepada usahanya. Sejak tiga bulan lalu, dirinya terpaksa harus melakukan pengurangan karyawan sehingga hal ini berdampak kepada omzet.

Sebelum adanya krisis cip semikonduktor, FNF Metalindo Utama memiliki 48 karyawan, sehingga terjadi pengurangan menjadi 32 karyawan saja sampai saat ini. Tentu saja pengurangan karyawan tersebut juga berdampak kepada omzet yang didapatkan.

"Chip-nya itu kan dia lockdown, mau ngak mau disini imbasnya ke produksi motor. Dulu bisa mencapai Rp 500 juta per bulan. Tapi kalau sekarang imbas tadi (krisis cip) hanya Rp 250 juta. Turunnya sekitar 50%," tuturnya.

Tidak hanya krisis cip, Ia mengaku adanya pandemi juga menjadi tantangan terberat dalam menjalani usahanya. Bahkan kondisi tersebut membuat dirinya harus menghentikan produksinya.

"Kita putusin puasa (off produksi), gak ada produksi sama sekali. Sekitar 40 hari ada. Karena kalai kita produksi pun, materialnya tidak ada, kalau nanti numpuk, belum tau kan ini diambil kapan. Akhirnya kita off produksi semua," kata Faizal.

Baca Juga: Mirae Asset Securitas Indonesia Resmikan Investor & Trader Community Center Dago

Hal tersebut tentu tidak membuat dirinya terus berputus asa. Sehingga terbukti hingga saat ini FNF Metalindo Utama berhasil memasok komponen kecil kendaraan roda dua kepada PT AHM, seperti plate pedal, set spring locket, stay seat lock cable dan komponen kecil lainnya. Selain itu, FNF Metalindo Utama juga memasok komponen otomotif kendaraan roda empat seperti Toyota, Innova 2022 serta Hyundai dan Daihatsu. Bahkan FNF Metalindo Utama menjadi ayah angkat bagi IMK sejenisnya yang baru memulai bisnis serupa.

Sehingga Faizal membagikan pengetahuanya terkait bisnisnya kepada IKM yang baru merintis dan tidak takut mengalami persaingan di dunia usaha yang sama. Hal tersebut ia dapatkan setelah mengikuti pelatihan basic mentality dari YDBA sehingga banyak perubahan yang Ia rasakan saat ini.

Ditemui terpisah, Koordinator Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) Kabupaten Tegal Suyanto menyampaikan bahwa pihaknya terus mendorong IKM di Tegal untuk melakukan pengembangan produknya. Salah satunya, pihaknya telah bekerjasama dengan perusahaan otomotif di bidang kendataan listrik. Hal ini dilakukan agar IKM di Tegal yang memproduksi komponen otomotif bisa prepare apabila nantinya terdapat permintaan untuk memproduksi komponen kendaraan listrik.

"Kita sudah bawa IKM kita (industri otomotif) ke perusahaan yang memproduksi motor listrik. Seperti Volta Indonesia, Viar yang bikin kendaraan listrik, juga Polytron. Kita bawa kesana tujuannya agar mereka prepare dan ada gambaran bahwa pasti nanti akan keluar motor listrik. Di komponen itu barangnya masih ada tau enggak, jangan-jangan komponennya sudah hilang," kata Suyanto.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Digital Marketing in New Normal Era Data Analysis with Excel Pivot Table

[X]
×