kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45790,50   -3,71   -0.47%
  • EMAS1.007.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.22%
  • RD.CAMPURAN 0.09%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.23%

Ini dia program yang memandu UMKM jadi melek dan jago digital


Sabtu, 19 September 2020 / 09:30 WIB
Ini dia program yang memandu UMKM jadi melek dan jago digital

Reporter: Ratih Waseso | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saat pandemi Covid-19, program bantuan kerap muncul bagi UMKM. Salah satunya dari Pusat Investasi Pemerintah (PIP) Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan yang bekerjasama dengan Jagoan Indonesia, sociopreneur untuk pengembangan bisnis lokal di Indonesia.  

Program Pengembangan Pasar Digital membidik debitur ultra mikro (UMi) di koperasi. Program yang tidak dipungut biaya ini belum lama berjalan, dan baru memulai gelombang pertama dengan 14 pelaku UMKM pilihan. "Tujuannya, untuk memperluas pasarnya," kata Ririn Kadariyah, Direktur Utama PIP, Kamis (17/9).

Salah satu peserta program tersebut adalah Rofik Purniawati. Pemilik Rofikvegs ini adalah pemasok dan produsen jamur putih asal Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. 

Laiknya pelaku UMKM lainnya, pandemi virus korona membuat bisnisnya terpuruk. Biasanya, Rofik bisa menjual sekitar 20 kilogram per hari jamur tiram putih segar. Saat pandemi, penjualannya anjlok tinggal 5 kg saja per hari. "Produk saya banyak dijual di kampus, tapi pada libur selama pandemi," ujarnya, Kamis (17/9).

Baca Juga: Cerita pelaku UMKM bertahan di tengah gempuran pandemi Covid-19

Biar laku, Rofik mengolah jamur segarnya menjadi beberapa produk olahan, seperti jamur krispi, es krim jamur, nuget jamur, pie susu jamur, dan lumpia jamur.

Yang menjadi tantangan ialah, bagaimana memasarkan produk olahan jamur tersebut. Karena itu, sebagai debitur UMi di koperasi lingkungannya, Rofik pun  tertarik mengikuti pendampingan dari PIP. Selama sebulan pelatihan, ia mendapat ilmu untuk bisa menampilkan produk di media sosial dan pemasaran digital lainnya seperti marketpalce. 

Sayangnya, Rofik tidak mengungkapkan, berapa kenaikan penjualan yang sudah ia rasakan usai beralih dari berjualan secara konvensional ke digital.

Selain Rofik, ada Yuyun Wahyuni, pemilik Nadena Hijab dari Yogyakarta. yang ikut program tersebut. Produk hijab ia dapatkan dari produsen lain. Dia juga debitur UMi di koperasi lingkungannya, lalu mengikuti pelatihan dan pendampingan usaha dari PIP dan Jagoan Indonesia sejak sebulan yang lalu.

Sebelum mengikuti program itu, omzet bisnis hijab dan fesyen muslimnya mengalami penurunan, apalagi saat Lebaran. Namun, setelah mengikuti pelatihan, ada peningkatan omzet, tepatnya saat memasuki era adaptasi kebiasaan baru alias new normal. Cuma, Yuyun tidak memerinci detil kenaikan penjualannya. Yang jelas, saat ini ia bisa menggaet konsumen dari luar Yogya termasuk Jakarta.

Dias Satria, Founder Jagoan Indonesia, menuturkan, pihaknya digandeng PIP untuk melakukan optimalisasi metode pemasaran secara online bagi pelaku UMKM debitur UMi. Ada beberapa metode yang mereka kembangkan. Mulai penetrasi pemasaran di media sosial lalu terhubung ke marketplace dan Google Business, hingga pembuatan kemasan produk yang menarik.

Selanjutnya: Pusat Investasi Pemerintah (PIP) berikan literasi digital agar UMKM melek digital

 



TERBARU

[X]
×