CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.018,99   5,77   0.57%
  • EMAS992.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.20%
  • RD.CAMPURAN 0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.12%

Jadilah ahli aplikasi, biar diperebutkan


Rabu, 04 Maret 2015 / 10:15 WIB
Jadilah ahli aplikasi, biar diperebutkan


Reporter: Melati Amaya Dori | Editor: Tri Adi

Dunia teknologi informatika terus berkembang. Untuk bisa memenuhi kebutuhan pasar, mereka yang berkarir di bidang teknologi informatika bisa memanfaatkan berbagai kursus yang praktis dan aplikatif.

Perkembangan perangkat lunak atau software menambah deretan  peluang pekerjaan di sektor ini. Namun, bukan cuma peluang kerja, tuntutan standar dan kemampuan dari tempat kerja juga semakin tinggi. Kondisi ini memaksa pekerja di sektor informatika untuk mengikuti kebutuhan pasar.

Ambil contoh, seiring perkembangan e-commerce, perusahaan yang biasanya melakukan pemasaran secara offline   menambah penjualan melalui internet, baik dengan menciptakan situs sendiri atau memajang produk mereka melalui marketplace. Nah, jika perusahaan biasanya hanya membutuhkan tenaga yang paham soal teknik informatika atau komputer, mereka akhirnya menuai tuntutan untuk bisa mengelola pemasaran secara online.

Perusahaan marketplace atau yang fokus mengelola e-commerce kian banyak membutuhkan web developer atau yang dulu kerap kita dengar dengan sebutan programmer.

Tak hanya itu, produsen perangkat telekomunikasi juga terus berkembang. "Mereka membutuhkan pekerja bidang IT yang andal, apalagi kalau mereka buka cabang di sebuah negara," terang Afan Galih Salman, Head of Program-Mobile Application & Technology Computer Science Department Binus University.

Selain itu, karena pertumbuhan teknologi gadget, kebutuhan aplikasi juga meningkat, mulai aplikasi umum, seperti kebutuhan sehari-hari untuk konsumen hingga aplikasi permainan. Pengembangan aplikasi ini bukan cuma terlihat di pengembang aplikasi dari produsen smartphone, tetapi juga pengembang aplikasi lokal.

Afan menggambarkan pertumbuhan bisnis mobile device dan smartphone yang pesat berpengaruh pada kebutuhan programmer. Ini terlihat dari pesanan perusahaan aplikasi terhadap mahasiswanya. "Meski baru semester dua, mahasiswa program peminatan yang baru dibuka kampusnya  sudah dipesan semuanya oleh sebuah perusahaan pengembang aplikasi tingkat global," ujar dia.

Adapun jurusan yang dimaksud adalah Mobile Application dan Technology. "Mahasiswa jurusan game application juga tak kalah peminat, lo," ujar Afan berpromosi.

Wajar jika hal tersebut terjadi. Bisa dibilang, saat ini untuk kedua program peminatan tersebut, Binus yang memulai. Sehingga jumlah lulusannya memang masih terbatas.

Sementara, kebutuhan sumber daya manusia (SDM) spesialisasi tersebut sedang banyak  sekarang. Kebutuhan terbesar datang dari pengembang aplikasi. Afan mengatakan, lulusan dari Fakultas Computer Science Binus (dulu teknik informatika) ini sekitar 50%–67% sudah bekerja saat diwisuda.

Agustinus Heribertus Ng, Direktur dari Dumet School Web and Mobile Training, pun menyatakan pendapat yang sama. Sejak pertama kali berdiri, pada November 2013 silam, jumlah murid di Dumet School terus meningkat.

Awalnya, lembaga pendidikan yang fokus pada ilmu web dan mobile application ini hanya memiliki tiga murid. Kini, dalam waktu waktu kurang dari dua tahun, total murid dari awal hingga saat ini sudah mencapai 900 murid.

Tak dipungkiri, perkembangan yang demikian cepat itu karena permintaan yang makin banyak dari hari ke hari. Dumet School dari awalnya hanya berdiri satu cabang, yakni di Srengseng, Jakarta Barat. Kini memiliki dua cabang, yakni di Grogol Jakarta Barat dan Depok, Jawa Barat. Bahkan pada bulan Maret tahun ini, Dumet akan membuka cabang baru di daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara. "Dalam sebulan bisa dibilang kami memiliki 60–90 murid baru," tambah Renra Iwa Sedoya, Direktur di Dumet School.


Skill, skill, skill  
Era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sebenarnya menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi oleh para praktisi informatika, terutama lulusan jurusan ini. Pasalnya, kini, orang tidak hanya mengenal satu hingga dua profesi yang berlatar belakang pendidikan teknik informatika.

Jika dulu, profesi yang paling dikenal di sebuah perusahaan adalah bagian programmer, sistem informasi, web developer, business analyst. Kini bermunculan profesi seperti search engine optimizer (SEO), blogger, game developer, social media assistant, hingga user experience development.

Beberapa profesi berbasis informatika tersebut berkembang lantaran kebutuhan saat ini. Nah, tuntutan profesi ini pada akhirnya membuat apa yang diajarkan di perguruan tinggi untuk fakultas teknik informatika masih belum cukup. "Di universitas memang diajarkan secara teori tentang pembuatan web dan sebagainya. Namun, update kurikulumnya tak secepat kebutuhan zaman," tambah Renra. Belum lagi pendalaman secara praktik tidak bisa hanya didapat dari pelajaran di kuliah.

Dan, tidak bisa dipungkiri bahwa untuk bisa maju di sektor informatika, yang paling dibutuhkan adalah kemampuan menciptakan sebuah karya yang bermanfaat atau berguna.

Kemampuan atau keahlian dalam meracik logaritma dan sistem informasi yang ada membuat reputasi di dunia ini sangat diperhitungkan. Tengok pendiri Microsoft, Apple, Samsung, Facebook (dan media sosial ternama lainnya) yang mendunia karena karya di bidang teknologi informatika yang dibutuhkan.

Nah, disinilah celah praktik dan teknis lembaga pendidikan lanjutan ini masuk. Kebanyakan yang mengambil kursus ini adalah mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi. Maklumlah, mereka memang memerlukan latihan yang banyak sebelum memasuki dunia usaha. Mereka perlu menyesuaikan teori yang didapat dengan kebutuhan dunia kerja. Itu sebabnya, kursus ini diminati banyak mahasiswa yang menempuh tingkat akhir.

Berkarier di sebuah perusahaan kini dituntut tidak hanya sebatas mengerti dan membangun sistem informasi untuk sebuah perusahaan. Banyak juga yang memilih kursus tambahan lantaran kebutuhan perusahaan. Atau, ada juga bahkan yang dikirim oleh perusahaan untuk meningkatkan kompetensi atau keahlian mereka.

Banyak kasus yang ditemui Dumet School, yakni perusahaan mengirim karyawan informatika untuk mempelajari perkembangan IT baru atau sebagai syarat kenaikan karier. Dumet sendiri pernah mengajar karyawan bagian informasi teknologi dari agen pemegang merek (APM) otomotif, Rodalink, Krisbow, Kompas Gramedia, dan berbagai perusahaan lain untuk meng-upgrade kemampuan mereka.

Tak hanya mahasiswa tingkat akhir atau karyawan yang ternyata merasa butuh mengambil pendidikan lanjutan di bidang web programming. Banyak orang awam juga membutuhkan keahlian tambahan seperti ini. Biasanya, mereka adalah para pemilik usaha e-commerce hingga top eksekutif di sebuah perusahaan yang ingin meningkatkan usaha atau bisnis mereka. "Bahkan, belakangan ada juga ibu rumah tangga pemilik usaha. Kebutuhan mereka adalah mengerti seputar pembuatan web dan internet marketing," papar Renra.

Afan bilang, sebagai bagian dari perguruan tinggi, keberadaan kursus ini seperti irisan dari kebutuhan di sektor informatika sendiri. Misalnya, saat ini permintaan untuk game 3D, atau aplikasi animasi 3D semakin banyak. Nah, untuk animator sudah ada dari lulusan Desain Komunikasi Visual (DKV). Namun, mereka mungkin tidak tahu bagaimana penempatan atau logaritma karya mereka di dunia maya. Apalagi dengan tujuan internet marketing atau sejenisnya. Dalam situasi ini, muncul kebutuhan atas ahli informatika.

Bisa jadi lulusan teknik informatika mengambil pendidikan lanjutan jurusan animator 3D untuk mengasah skill mereka atau sebaliknya. Misalnya seorang profesional yang menerima order proyek game atau animasi yang canggih atau untuk diletakkan di web. Maka para animator belajar tentang programming demi mengetahui kebutuhan klien atau semakin mengasah skill.

Dari sisi penyedia kursus, sebenarnya program yang disediakan adalah program yang paling banyak dicari oleh konsumen. Saat ini, program pembuatan web dan pemasaran internet menjadi dua jurusan yang paling digemari saat ini. Selain itu, program mobile application dan game application pun mulai dilirik belakangan ini.

Berikut ulasan dua lembaga yang menawarkan program khusus informatika untuk mengasah skill.       


• Dumet School Web and Mobile Training

Mayoritas siswa yang belajar di Dumet School adalah mahasiswa tingkat akhir, porsinya 50%  dari total siswa. Lalu, 40% siswa merupakan karyawan divisi teknologi informasi (TI) dari sebuah perusahaan. Sisanya adalah mereka yang tidak memiliki latar belakang informasi teknologi, namun ingin memperdalam kemampuan.

Untuk menghadapi era MEA, menurut Renrra dan Agus, para karyawan TI memang harus rajin melakukan upgrade kemampuannya. Maklum, karyawan TI Indonesia masih tertinggal dari beberapa negara ASEAN, seperti Singapura dan Malaysia. "Belakangan, kualitas pelaku TI dari Filipina sedang unggul, lo. Bahkan dibanding pelaku IT dari Singapura dan Malaysia," tambah Agus.

Program kursus yang disediakan Dumet School adalah Web Master, Web Programming, Web Design, Mobile App, Digital Marketing, CMS Master, Flash Animation, Video Editing, dan Graphic Design. Renra menuturkan, dua program yang paling digemari adalah Web Master dan Digital Marketing.

Biaya untuk tiap program berbeda-beda dan dikemas dalam bentuk paket. Biaya untuk mengikuti paket Web Master yakni Rp 7,6 juta. Adapun tarif untuk mengikuti kelas Web Programming adalah Rp 14 juta. Lalu, uang sekolah untuk paket Web Design dan paket Graphic Design Rp 10,6 juta dan Rp 6,9 juta.

Untuk jurusan Mobile App, Dumet mengenakan biaya sebesar Rp 22,5 juta. Angka yang sama dipungut dari peserta yang mengikuti kelas Digital Marketing. Adapun  biaya kursus untuk kelas CMS Master, Flash Animation, dan Video Editing masing-masing Rp 3 juta, Rp 5,3 juta, dan Rp 6,1 juta.

Meski hanya satu murid yang mendaftar, Dumet School tetap memulai kelasnya. Karena mengincar konsumen dari kalangan karyawan dan mahasiswa tingkat akhir, maka Dumet School membebaskan jam belajar setiap murid. Alhasil, tiap murid diberi keleluasaan menentukan jam belajar mereka. "Kami sengaja tidak menggunakan tenaga freelance tapi sistem kontrak, agar para pengajar pun bisa fokus," papar Renra.

Selain itu, Dumet akan mengajari siswa tanpa batasan waktu atau sampai mereka benar-benar paham. Jadi, tergantung dari kemampuan dari masing-masing konsumen. Jika konsumen ingin cepat lulus juga bisa, yaitu dengan memanfaatkan waktu belajar secara maksimal. Yang pasti, untuk kelulusan, setiap murid akan diuji oleh standar Dumet School.

Saat ini, kriteria pengajar di Dumet School adalah mereka yang berpengalaman dan memiliki reputasi yang cukup baik di dunia TI. Karena sifat kursus yang privat, Dumet School juga mengusung kemampuan pengajar untuk mengajar konsumen dari berbagai latar belakang.


• Binus Center Short Course

Lantaran melihat celah adanya kebutuhan sumber daya manusia berbasis IT, sejak 2005, Binus Center memasukkan program kursus atau short course untuk materi yang berhubungan dengan web pro-gramming. Adapun program kursus yang ditawarkan di Binus Center adalah PHP for e Application, Static Web Programming with XHTML, Client Side Scripting with JavaScript,  Visual Programming with Java, Logical and Visual Programming with Microsoft Visual Basic.NET, serta Algoritma dan Pemrograman.

"Nah, pada program Short Course, selain web developer atau programmer, kami juga memiliki banyak bidang lainnya seperti desain, animasi, jaringan, office dan akunting," ujar Rifki Yushario,  Center Unit Manager Binus Centre.

Tujuan adanya program ini adalah mengakomodasi kebutuhan konsumen yang ingin mempelajari suatu modul tertentu dalam waktu singkat, yakni 1 minggu–6 minggu dengan durasi pertemuan 5 hingga 20 kali pertemuan.

Binus Center tidak cuma menyediakan kursus singkat, tetapi juga kursus dengan durasi waktu lebih lama. Ambil contoh Special Class, yang berlangsung antara 5 bulan–6 bulan, Certified Professional Program (5 bulan–6 bulan), dan Authorized Program (1 bulan– 12 bulan). Biaya untuk tiap short course dan program kursus lain bervariasi antara Rp 700.000 sampai  Rp 2 juta.

Pengajar yang disediakan disini adalah pengajar dengan kriteria tertentu. Pengajar di Binus Center berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa, asisten lab, dosen hingga profesional.

Saat ini, peminat kursus di Binus Center datang dari kalangan "binusian" dan masyawakat umum. Istilah binusian merujuk ke mereka yang pernah ikut kursus di Binus Center dan mahasiswa atau pelajar di Grup Binus. Biasanya, mereka mengambil kursus singkat untuk meningkatkan skill dan mendukung mata kuliah di kampus. Ada juga yang bertujuan untuk menunjang pekerjaan dan mengisi waktu luang.     

 

Delapan profesi dalam satu dekade

Saat terjun ke dunia kerja, banyak lulusan Fakultas Teknologi Informatika (TI) yang merintis karier sebagai web developer atau programmer. Tentu, pilihan mereka tidak terbatas pada kedua bidang itu saja. Para sarjana teknologi informatika berpeluang menempati berbagai job description di sebuah perusahaan.

Di luar kedua bidang itu, lulusan TI juga kandidat paling pas untuk menempati posisi-posisi di perusahaan sebagai business analyst, software developer, software product manager, computer/network security consultant, IT project manager, dan system engineer.

Asal tahu saja, di Amerika lingkup kerja di atas termasuk favorit bersamaan dengan posisi direktur pemasaran dan dosen. "Biasanya, tren karier favorit di Amerika akan berlanjut di Indonesia. Dalam 2 tahun–3 tahun kemudian akan menjadi favorit juga di sini," terang Afan Galih Salman, Head of Mobile Applicatian Technology Program Binus University.

Nah, seiring perkembangan teknologi, e-commerce (penjualan online), mobile commerce (perdagangan melalui ponsel cerdas), dan social media activity (aktivitas sosial media), muncul profesi baru bagi mereka yang berlatar pendidikan teknologi informatika. Berdasarkan riset, ada sekitar delapan profesi yang baru muncul dalam satu dekade terakhir, yang cocok untuk para lulusan teknologi informatika.

Pertama, social media manager. Ini merupakan pekerjaan untuk mengelola jejaring sosial di suatu perusahaan. Kedua, cloud computing services. Kehadiran teknologi cloud memunculkan kebutuhan teknisi untuk mengelola sistem cloud tersebut di sebuah perusahaan penyedia ataupun pengguna cloud.

Ketiga, mobile application developer. Sesuai dengan namanya, profesi ini bertugas mengembangkan aplikasi bagi perangkat mobile. Profesi ini perluasan bagi pengembang aplikasi di komputer sebenarnya.

Keempat, adalah profesi yang tengah naik daun beberapa tahun terakhir. Pekerjaan sebagai search engine specialist memadukan kemampuan logaritma, penyusunan teks dan kemampuan Google Analytic seseorang agar sebuah website selalu berada di posisi teratas.

Ada lagi UX designer atau sebenarnya kependekan dari user experience designer. Profesi tersebut membutuhkan seorang insinyur informatika untuk menciptakan program dan meneliti kebiasaan dari pengguna atau user mobile device (seperti smartphone atau tablet). "Biasanya profesi ini dipekerjakan oleh market researcher untuk mengetahui kapan saat yang tepat untuk penempatan iklan di mobile device," terang Afan.

Profesi baru keenam adalah market research data miner. Profesi tersebut, meski sama-sama untuk kebutuhan penelitian pasar (market research), namun berbeda dengan UX designer. Market data research miner bertugas mengelola data yang ada di dunia maya secara umum untuk dikhususkan sesuai keperluan riset.

Dua profesi terakhir adalah profesi blogger dan 3D animator and technician. Seperti diketahui, profesi blogger pun tengah naik daun. Bahkan tidak hanya mereka yang memiliki latar belakang informatika yang bisa terjun menekuni profesi ini. Hanya, jika menggunakan jasa seorang yang andal dalam teknologi informatika,  fitur blog yang dimiliki pun bisa optimal. "Tugas para blogger bukan sebatas menghasilkan tulisan, tetapi juga mempertimbangkan penempatan iklan, desain dan warna, lo," tambah Afan.

Terakhir profesi irisan dari jurusan Desain Komunikasi Visual dan Informatika adalah 3D Animator dan Technician. Profesi ini semakin diminati seiring permintaan dengan meningkatnya pasar aplikasi dan game di masa sekarang.        

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Financial Modeling & Corporate Valuation Fundamental THE FUTURE OF SELLING

[X]
×