Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.578
  • SUN95,67 0,00%
  • EMAS656.000 -0,46%

Jatuh bangun Agus A. Mile membesarkan usaha susu kambing

Minggu, 11 November 2018 / 11:00 WIB

Jatuh bangun Agus A. Mile membesarkan usaha susu kambing

KONTAN.CO.ID - Melihat peluang pasar yang bagus, Agus A. Mile berani mengambil alih sebuah pabrik susu kambing etawa yang bangkrut. Meski, ia harus utang sana-sini untuk menutup kekurangan dana pembelian pabrik seharga Rp 1,3 miliar yang berlokasi di Tegal, Jawa Tengah.

Pria kelahiran Gorontalo, 17 Agustus 1973, ini melihat, cakupan sejumlah produk susu kambing masih lokal, hanya per wilayah. “Belum ada yang nasional. Ini adalah peluang yang bagus,” ungkap Agus yang sebelumnya sama sekali tidak tahu tentang susu kambing.

Tambah lagi, produk susu kambing impor asal Malaysia dan Thailand semakin merangsek pasar dalam negeri. “Saya semakin tergerak sebagai anak bangsa, karena kita punya sumber dayanya, kita juga punya SDM-nya,” ujar dia.

Dan, keputusannya membeli pabrik milik Nurrohman itu tepat. Di bawah kendalinya, pabrik dengan bendera CV Halt Manufaktur ini berkembang pesat.

Produksinya sekarang 6.000 karton susu kambing etawa dalam bentuk bubuk per bulan, dari sebelumnya berkisar 300–400 karton saja.

Dulu karyawannya baru 30 orang tapi kini mencapai 300 orang yang bekerja di pabrik dan 30 orang di kantor di Jakarta. Sementara omzet per bulan Rp 4 miliar–Rp 5 miliar. “Alhamdulillah, sekarang sudah lunas pinjaman untuk membeli pabrik,” kata Agus.

Menurutnya, sebelum dia ambil alih, pabrik tersebut sudah memproduksi susu kambing etawa bubuk. Dan, ia tak mengenal pemilik sebelumnya. Sang teman yang mengenalkan Agus ke Nurrohman.

Begitu tongkat kepemilikan pabrik beralih kepadanya, yang pertama kali dia lakukan adalah membenahi proses produksi. Sebelumnya, pasokan susu kambing berasal dari banyak peternak. “Kan, saya hanya sendiri. Pusing, dong, kalau harus kerjasama ke banyak peternak. Jadi, mending ke satu pintu saja, deh,” sebut Agus.

Untuk itu, ia mendatangi Dinas Peternakan Provinsi Jawa Tengah yang memiliki koperasi peternak kambing etawa. Lantaran koperasi tersebut sanggup menyuplai susu kambing ke pabriknya, dia pun langsung menjalin kerjasama.

Secara paralel, sembari membenahi produksi, Agus menyiapkan pasar untuk produknya. “Sambil belajar, seperti apa, sih, susu kambing, bagaimana caranya masuk pasar. Ini saya jalankan beriringan,” ujarnya.

Rugi miliaran

Tapi ternyata, enggak mudah menciptakan pasar susu kambing. Padahal, Agus sudah menggunakan saluran-saluran pemasaran milik kenalannya.

Sekalipun, ia juga tetap memakai merek RBM milik Nurrohman. RBM singkatan Rizki Berkah Manfaat. Habis, orang masih ragu membeli susu kambing. Yang ada dalam benak mereka: bau prengus kambing.

Alhasil, setahun pertama, pabrik harus buka tutup. Sebab, tidak mudah mengubah pola pikir masyarakat tentang susu kambing. “Saya pontang-panting, suntik dana terus-menerus, boro-boro untung, balik modal saja tidak,” kata Agus.

Tapi, dia yakin, suatu saat susu kambing bakalan jadi produk unggulan negara kita. Karena itu, ia pun terus berjuang mendobrak pasar, dengan menggandeng semua kenalannya. “Ambil dulu, nih, produk saya, bayar belakangan. Saya dobrak pasar lokal dulu, di wilayah Tegal,” imbuhnya.

Dengan strategi itu, ia malah kena tipu. Barang sudah diambil, begitu ditagih, orangnya kabur. Ada yang bayar lunas pada pesanan pertama, di order kedua ketika didatangi, orangnya menghilang atau tak bisa bayar.

Total kerugiannya selama tiga tahun, sejak 2015–2017, enggak tanggung-tanggung, mencapai Rp 4 miliar.

Agus pun sempat depresi. Tapi, pelan-pelan ia mulai bangkit.

Masa lalunya yang membuat dia bangun kembali. Agus terlahir sebagai orang tak punya.

Ayahnya meninggal saat ia kelas 4 SD. Sedang sang ibu hanyalah tukang cuci baju milik tetangga. Dia adalah anak kedua dari enam bersaudara.

Di usia ke-20, Agus merantau ke Jakarta. Sempat jadi tukang sapu dan buruh pabrik, dari hasil tabungannya ia memulai usaha penampungan koran bekas yang dikirim ke Brastagi, Sumatra Utara, untuk dipakai sebagai bungkus jeruk.

Dia juga melakoni berbagai usaha lainnya termasuk memasok tenda pengungsian untuk UNICEF yang digunakan di Aceh kala bencana tsunami 2004. “Spirit saya muncul lagi untuk membesarkan usaha susu kambing,” ucapnya.

Hanya, Agus tak ingin lagi bermain di lokal tapi mencoba merambah pasar nasional. Ia pun nekad membuka kantor di daerah Lebak Bulus, Jakarta pada Maret 2018. Seminggu kemudian ia mengajak Indra Prasetya untuk bergabung.

Indra yang ketika itu punya jabatan bagus di PT Mayora Indah Tbk tertarik dan merasa tertantang untuk membesarkan bisnis susu kambing milik Agus.  “Beliau juga punya visi dan misi yang sama dengan saya,” kata Agus. Kini, Indra duduk di kursi wakil direktur utama, PT RBM Amanah Nusantara.

Agus mendirikan RBM Amanah Nusantara untuk mendistribusikan susu kambing produksi Halt Manufaktur. Halt sendiri merupakan kependekan dari Halalan Toyyiban.

Hebatnya, pada pekan ketiga kantor di Lebak Bulus beroperasi, Agus berhasil meneken kontrak kerjasama dengan PT Antarmitra Sembada, perusahaan distributor yang punya 27 kantor cabang di Indonesia. “Kami produk lokal satu-satunya yang bisa masuk di Antarmitra Sembada,” ujarnya.

Dari kongsi itu, produk susu kambingnya bisa masuk jaringan ritel Alfamidi dan AEON Mall. Selain itu, produk RBM juga ada di gerai Superindo, Lulu, hingga Apotek K-24.

Tak hanya mengandalkan saluran pemasaran kepunyaan mitra, Agus juga memiliki kanal sendiri dengan membangun gerai di mana-mana seperti di pusat perbelanjaan. “Sekarang mencapai 3.000 outlet di seluruh Indonesia, di luar Alfamidi dan lainnya,” imbuh dia.  

Tambah produksi

Saluran pemasaran produk susu kambingnya bakal semakin luas. Saat ini, Agus sedang dalam tahap negosiasi dengan PT Enseval Medika Prima, perusahaan distributor yang merupakan anak usaha PT Kalbe Farma Tbk.

“Insya Allah kami juga bisa kerjasama dengan distributor dari Singapura. Dia pegang empat negara di Asia, yakni Singapura, Malaysia, Thailand, dan Taiwan. Mudah-mudahan bisa terlaksana tahun 2019 nanti,” tambahnya.

Sejalan dengan rencana kerjasama itu, Agus mempersiapkan pengembangan pabrik untuk meningkatkan produksi. Lantaran butuh dana yang sangat besar, ia berencana meminjam dana ke bank yang sedang tahap penjajakan.

Yang jelas, dia sudah membeli lahan yang berada di sebelah pabriknya. “Saya rasa peluang bisnis susu kambing sangat besar sekali, apalagi kalau masyarakat sudah teredukasi akan manfaat susu kambing yang sangat bagus,” ujar Agus.

Untuk mengedukasi masyarakat, ia juga menjalin kerjasama dengan dokter yang bekerja di rumahsakit dan yang membuka praktik sendiri. Para tenaga medis ini membantu menyebarkan manfaat dari susu kambing ke pasien mereka.

Tentu, Agus terus membangun dan membesarkan (branding) merek produknya. Dia ingin, begitu melihat RBM, orang langsung ingat susu kambing.

“Kami punya tagline Suka-Suka, kependekan dari susu kambing susu keluarga. Saya juga keluarkan bujet untuk beriklan di TV,” katanya.

Selain produksi, tahun depan dia bakal menambah varian rasa produknya, seperti pisang, stroberi, dan coklat. Agus juga akan membuat produk susu kambing yang membidik konsumen perempuan.

Saat ini, ia baru memproduksi susu kambing bubuk. Suatu saat, jika pasar sudah teredukasi dengan baik, dia bisa masuk ke produk susu cair.

Pengembangan di masa depan, Agus berencana melahirkan produk kosmetik dari susu kambing. “Karena susu kambing mengandung banyak kolagen, bagus untuk kulit dan kecantikan,” jelas dia.

Untuk tahun ini, inovasinya baru sebatas mengubah logo dan kemasan produk menjadi lebih menarik. “Supaya branding RBM benar-benar kelihatan. Logo juga diubah karena saya ingin move on, keluar dari masa lalu,” sebut dia.

Dan, Agus menambahkan, kesuksesan yang dia raih dalam waktu singkat juga tak lepas dari dukungan seluruh karyawannya. “Mereka sudah seperti keluarga saya. Saya selalu menanamkan, bahwa perusahaan ini besar bukan hanya milik saya dan bukan hanya karena saya, tapi karena milik kita bersama dan yang membuat besar kita bersama,” ujarnya.

Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.   

Reporter: Merlinda Riska
Editor: S.S. Kurniawan

TERBARU
Seleksi CPNS 2018
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0013 || diagnostic_api_kanan = 0.0511 || diagnostic_web = 0.3701

Close [X]
×