Reporter: Jane Aprilyani | Editor: Tri Adi
Vicky dan orangtuanya harus jatuh bangun merintis usaha Mamade Makaroni. Selain berjualan secara keliling, Vicky memasarkan makaroni produksi ibunya melalui kantin-kantin sekolah. Namun, cara ini tak berjalan mulus. Vicky lalu mencoba menjual makaroni lewat situs online. Usahanya itu tak sia-sia.
Bisnis camilan makaroni spiral yang dirintis Vicky Arif Setiawan, tak semudah membalikkan telapak tangan. Sebelum sukses seperti sekarang, Vicky harus berjibaku dengan debu jalanan untuk memasarkan makaroni goreng spiral dengan merek Mamade Makaroni ke beberapa lembaga sekolah di Jakarta Barat.
Vicky berkisah, ide bisnis macaroni muncul dari sang ibunda. Ketika itu, untuk terjun ke bisnis ini, orangtuanya mengeluarkan modal awal Rp 2 juta. Modal itu digunakan untuk membeli bahan baku, bumbu, dan peralatan produksi seadanya.
Ketika itu Mamade Makaroni diproduksi dalam kemasan berukuran 30 gram. Yakin rasa makaroni buatan ibunya diterima pasar, pada tahun 2005, Vicky mulai membantu memasarkan secara berkeliling ke kantin-kantin sekolah. "Ketika itu belum ada merek Mamade. Kemasannya masih polos," kata Vicky, mengenang.
Vicky menambahkan, ia dan orangtuanya harus bersusah payah melobi pihak sekolah untuk menjual makaroni di kantinnya.
Dewi Fortuna akhirnya menghampiri usaha Mamade Makaroni. Ada sekitar 30-40 lembaga sekolah yang mau menampung makaroni. Setiap kantin, Vicky menitip 50 bungkus-100 bungkus makaroni. Penjualan secara keliling tetap dilakukan.
Namun, pemasaran Mamade Makaroni melalui kantin sekolah tak berjalan mulus. Pada 2007-2008, penjualan makaroni di beberapa kantin sekolah tak laku. "Pernah kami titipkan di kantin sekolah 100 bungkus. Tapi, yang laku hanya 20 bungkus. Jadi, terpaksa yang 80 bungkus kami buang," imbuh Vicky.
Tak pantang menyerah, Vicky mencari beberapa sekolah lain untuk memasarkan makaroni. Selain itu, di awal 2008, ia sempat berjualan keripik singkong. Namun perjalanan usaha ini hanya bertahan 3 bulan-4 bulan. Selain tidak didukung merek, usaha keripik juga terkendala jumlah tenaga kerja.
Dus, pada 2009, Vicky dan orangtuanya kembali fokus berbisnis camilan makaroni goreng. Tapi, kali ini, Vicky harus memutar otak untuk bisa menggenjot penjualan Mamade Makaroni.
Nah, demi mengembangkan usaha orangtuanya, Vicky mencoba memasarkan Mamade Makaroni melalui situs online. "Waktu itu saya belajar sama teman cara menjual produk melalui situs online. Dari situ saya mulai memperkenalkan makaroni dan akhirnya banyak permintaan," imbuh Vicky.
Kini, dibantu delapan orang pegawai, Vicky dan orangtuanya mampu memproduksi 1.500 bungkus Mamade Makaroni per hari. Harganya dibanderol Rp 15.000 hingga Rp 20.000 (di Jakarta) dan
Rp 25.000 di luar Jakarta. Dari penjualan sebanyak itu, Vicky dapat meraup omzet Rp 250 juta per bulan dengan laba bersih sekitar 30%.
(Bersambung)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













