kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Kampung Bloom Bank, tempat warga asing belajar bahasa Indonesia (bagian 1)


Jumat, 28 Juni 2019 / 10:00 WIB
Kampung Bloom Bank, tempat warga asing belajar bahasa Indonesia (bagian 1)

Reporter: Ratih Waseso | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia ternyata tidak cuma terkenal dengan ragam budayanya saja tapi juga bahasa Indonesia yang mulai mendapat perhatian dari warga asing. Ini bisa terlihat di sentra khusus pembelajaran bahasa Indonesia bagi orang asing, atau penutur asing yakni Kampung Bahasa Bloom Bank yang terletak di Ciracas, Jakarta Timur.

Menjangkau kampung bahasa ini cukup mudah. Saat tiba di kawasan Kelapa Dua Wetan, Ciracas, Anda tinggal bertanya saja ke penduduk sekitar. Mereka akan langsung menunjukkan lokasi kampung tersebut.

Saat memasuki Kampung Bahasa Bloom Bank bakal terdengar suara gemercik air dari dua kolam pemancingan yang terhampar di depan gedung utama Bloom Bank. Ada tiga gedung khusus di tempat ini, yakni gedung Rumah BIPA Dahsyat (BIPA adalah Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing); lalu Rumah Bahasaku, dan Rumah Budaya.

Adalah Ninik M. Kuntarto, perintis Kampung Bahasa Bloom Bank yang mulai beroperasi sejak 2015. Awalnya ia bersama tim hanya membuat bahan ajar bernama BIPA Dahsyat (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing). Lambat laun kursus bahasa Indonesia bagi orang asing, khususnya penutur asing ini mendapat respon positif.

Ia pun mulai mengembangkan kursus tersebut. Tak cuma sekadar membuat kelas kursus saja yang ia namakan Rumah BIPA tapi juga area lainnya. Seperti Rumah Bahasaku yang berfungsi membuat bahan ajar bahasa Indonesia, pembuatan lokakarya dan lainnya. "Untuk Rumah Budaya, kami coba tonjolkan kearifan lokal," kata Ninik kepada KONTAN, Sabtu (22/6).

Dengan adanya tiga fasilitas tersebut, Ninik mengklaim peserta kursus di Kampung Bahasa bisa dengan cepat mahir berbahasa Indonesia. Apalagi, para peserta mendapat kesempatan untuk berinteraksi dan mengenal budaya masyarakat sekitar, terutama budaya Betawi.

Ninik sendiri membagi kursus tersebut dalam empat tahap metode pembelajaran. Yakni pra pemula, pemula, madya dan mahir.

Hasilnya, sudah banyak penutur asing yang belajar di Bloom Bank. Jumlahnya sekitar 100 penutur asing. Ada yang berasal dari Asia, Timur Tengah, Eropa hingga Afrika. Kebanyakan dari Korea Selatan, Jepang, Australia.

Adapun tarif kursus di kampung tersebut adalah untuk kelas reguler (tiga bulan) sebesar dari Rp 13,5 juta, kelas percakapan dan kelas bisnis sebesar Rp 6,5 juta. Tenaga pengajar ada 20 orang. "Per kelas maksimal empat orang supaya cepat mahir," jelasnya.

Yang menarik, setiap pengajar di Kampung Bahasa harus bisa menyiapkan materi pengajaran yang sesuai dengan peserta kursus. Jadi si pengajar wajib tahu latar belakang si peserta kurus, negara serta budaya mereka. "Antara budaya Eropa dengan budaya Asia saja sudah berbeda jauh, dan ini yang menjadi tantangan kami sebagai pengajar," kata Randi Ramliyana, pengajar Kampung Bahasa Bloom Bank kepada KONTAN.

Saat semua pengajar kelar memberikan pelajaran ke peserta, di hari Minggu, Ninik menyempatkan diri memberikan pembelajaran gratis kepada anak-anak di sekitar Bloom Bank.

(Bersambung)



Video Pilihan

TERBARU

×