kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Kampung nelayan Cilincing tempat bersandar 150 nelayan (bagian 2)


Sabtu, 31 Agustus 2019 / 10:10 WIB

Kampung nelayan Cilincing tempat bersandar 150 nelayan (bagian 2)


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Deretan kapal tradisional memenuhi area pinggiran Kampung Nelayan Cilincing, Jakarta Utara. Saban hari, ratusan kapal bersandar di kampung tersebut. Menjelang dini hari, jumlah deretan kapal semakin banyak, tanda para nelayan membawa hasil tangkapan dari laut.

Sering kali terjadi ada kapal nelayan yang tidak kebagian sandar. "Ini terjadi sekitar jam dua dini hari sampai subuh. Kalau siang sampai sore justru sepi," ujar Pepeng, salah satu penduduk  Kampung Nelayan Cilincing sambil menunjukkan deretan tempat parkir kapal.

Biasanya para nelayan di kampung tersebut pergi melaut selepas magrib. Ada juga yang pergi lebih dini yakni sekitar pukul 17.00 WIB. Adapun lama waktu melaut, tergantung dari jarak tempuh kapal dan hasil tangkapan. Bila para nelayan merasa hasil tangkapan sudah memadai, biasanya langsung pulang dan rata-rata sekitar semalam saja.

Baca Juga: Pasar barter di kampung Warloka Nusa Tenggara Timur, tukar ikan hiu dengan sayur

Lain cerita jika hasil tangkapan masih kurang, waktu berlayar bisa lebih panjang, bisa dua malam bahkan sampai satu minggu. "Itu kalau hasil tangkapan seret," kata Pepeng yang menyebut hari libur melaut adalah setiap Jumat.

Hal yang sama juga diutarakan oleh Sukardi, penduduk Kampung Nelayan Cilincing yang sampai saat ini masih aktif melaut. Berapa lama melaut ditentukan pula oleh jumlah hasil tangkapan dan jarak melaut. Saat cuaca buruk hasil tangkapan nelayan biasanya jeblok.

Cuaca buruk mengakibatkan para nelayan tidak dapat melaut karena terlalu berisiko. Dan kondisi tersebut bisa berlangsung lebih dari seminggu.

Untuk menyambung hidup dan memenuhi kebutuhan sehari-hari, para nelayan terpaksa berutang atau bahkan menggadaikan barang berharga miliknya. "Di periode tersebut, kami biasa menyebutnya dengan musim angin barat. Kalau sudah begitu, ya, biasanya kasbon (utang) sama si bos (pemilik kapal) buat makan sehari-hari. Keluarga di kampung sudah tidak memikirkan," tutur pria asal Cirebon ini.

Baca Juga: Festival Bale Nagi tarik minat wisatawan datang ke Flores

Musim angin barat memang dikenal sebagai musim paceklik oleh para nelayan di Kampung Nelayan Cilincing, Jakarta Utara. Musim tersebut biasanya berlangsung sekitar bulan November hingga Maret. Para nelayan bahkan bisa sampai berbulan-bulan tidak melaut karena cuaca buruk tersebut.

Kondisi cuaca buruk tersebut tak hanya membahayakan keselamatan para nelayan saat melaut. Kalau tetap memaksakan melaut bisa menyebabkan kerugian. Hasil tangkapan bisa lebih sedikit dibandingkan dengan modal untuk melaut dalam semalam. "Bisa tidak balik modal. Untuk biaya kapal dan solar bisa habis
Rp 250.000 dan belum tentu bisa dapat hasil tangkapan sebesar itu," paparnya.

Kondisi merugi juga dirasakan para pemilik kapal yang harus menanggung biaya hidup anak buah plus biaya peralatan khusus saat musim cuaca buruk.       

(Bersambung)


Reporter: Elisabeth Adventa
Editor: Markus Sumartomjon

Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0019 || diagnostic_api_kanan = 0.0008 || diagnostic_web = 0.3455

Close [X]
×