kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Kampung pemasok sego kucing dan lauk pauk di Semarang (bagian 1)


Sabtu, 15 Juni 2019 / 10:25 WIB

Kampung pemasok sego kucing dan lauk pauk di Semarang (bagian 1)


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Istilah angkringan sudah melekat erat di kalangan masyarakat Jawa Tengah seperti Solo, Yogyakarta, dan sekitarnya. Gerai angkringan ini berupa gerobak sederhana yang menyediakan macam menu makanan dan minuman. Salah satu menu yang menjadi ciri khasnya adalah sego kucing alias nasi kucing.

Kini, angkringan tidak hanya jadi ciri khas Solo dan Yogyakarta, tapi sudah menyebar luas ke kota-kota lain di Jawa Tengah; termasuk juga Semarang. Penjaja di warung angkringan ini tentu tidak mengolah sendiri menu yang mereka jajakan.

Ada satu kawasan di salah satu sudut Kota Semarang yang menjadi tempat produksi dan sumber pemasok bahan baku angkringan seperti nasi kucing dan gorengan. Kampung Sentra Olahan Hidangan Angkringan ini berada di wilayah Srondol Kulon, RT 01 RW 01, Banyumanik, Semarang, Jawa Tengah.

Saat KONTAN menyambangi sentra angkringan ini, terpampang jelas di gapura tulisan Kampung Segala Olahan Angkringan. Lantas di samping kiri kanan tembok, terdapat deretan ragam lukisan warna-warni dengan tema angkringan yang memikat. Selain itu, masih ditambah dengan deretan tanaman yang menambah sejuk pemandangan.

Terlihat pula beberapa gerobak angkringan yang tertata rapi di balai yang dikhususkan sebagai tempat berjualan nasi kucing dan dan makanan lain bagi warga sekitar. Biasanya, para pedagang mulai beroperasi pada sore hari.

Walikota Semarang Hendrar Prihadi menyebut kampung tersebut dengan sebutan Kampung Tematik Nasi Kucing sejak 2018. Predikat ini tidak terlepas dari kegiatan warga yang kesehariannya berkutat di usaha angkringan, baik itu sebagai pemasok bahan makanan di angkringan atau menjadi penjual nasi kucing.

Sumariyatno, salah satu warga yang menggeluti bisnis pembuat nasi kucing bilang, di sentra ini, ada 10 industri UKM.

Meski baru diresmikan 2018, keberadaan usaha pembuat nasi kucing di tempat ini sudah berlangsung sejak belasan tahun silam.

Sumariyatno menceritakan, tepat pada saat terjadi krisis moneter 1997–1998, ia memulai usaha dengan membuat makanan arem-arem, yakni kudapan nasi dengan isian oseng sayur dan kentang yang dibungkus daun pisang. Namun, setelah beberapa tahun berjalan, ia melihat peluang baru saat angkringan merambah Semarang. Sebagian besar pedagang angkringan berasal dari Klaten dan Demak.

Baru saat itulah ia mulai memasok nasi kucing dan lauk lainnya ke para pedangang angkringan. Upaya yang ia lakukan mendapat sambutan positif. Awal usaha, ia memasok 15 angkringan di sekitar Semarang.

Seiring bertambahnya pedagang angkringan, saat ini ia sudah memasok nasi kucing dan lauk lainnya ke 25 angkringan. "Saya setor di Jatingaleh, Simpang Lima, dan lainnya," katanya.

Dalam sehari, ia membuat 800 bungkus nasi kucing dan sekitar 1.000 aneka sate yang ia setor ke pedagang angkringan langganannya.

Sedangkan Siti Kumaidah hanya membuat nasi kucing dan aneka lauk untuk angkringan yang ia sediakan di sentra tersebut. Ia tertarik menjadi pemasok karena permintaan terus ada.

(Bersambung)


Reporter: Ratih Waseso
Editor: Markus Sumartomjon



Close [X]
×