Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR15.205
  • SUN90,77 -0,26%
  • EMAS623.158 -0,48%

Kekhasan kuliner nusantara tak goyahkan lidah penggemarnya

Sabtu, 05 Mei 2018 / 14:05 WIB

Kekhasan kuliner nusantara tak goyahkan lidah penggemarnya



KONTAN.CO.ID - Kuliner nusantara identik dengan rempah serta bumbu-bumbu dengan citarasa yang khas dan pas dengan lidah masyarakat. Setiap daerah pun punya sajian andalan yang menjadi ciri khasnya. Serbuan kuliner asing atau makanan fusion yang masuk kedalam pasar lokal, seolah tidak mampu menggeser posisi kuliner nusantara.

Hal ini dapat terlihat dari masih berjayanya gerai kuliner legendaris. Selain itu, pemain baru yang menawarkan sajian sejenis juga terus bermunculan. Festival jajanan Indonesia pun cukup sering digelar dan mampu menyedot minat penggemar kuliner tradisional.  

Haris Amin, pemilik rumah makan legendaris Mamink Daeng Tata menilai, makanan khas dalam negeri sudah mempunyai tempat tersendiri dalam hati konsumen, sehingga tidak akan mudah tergeser dengan makanan fusion. Padu-padan rempah-rempah yang digunakan dalam setiap menu masakan menciptakan rasa yang khas dan unik sehingga membuat setiap orang ketagihan dan kangen menyantap sajian kuliner tradisional ini.

Selain konsumen yang terdiri dari orang Indonesia, masakan nusantara ternyata juga mulai disukai oleh orang asing. "Kedai kami juga sering dikunjungi oleh orang asing,," katanya pada KONTAN, Rabu (25/4).

Meski menyajikan masakan khas Makassar, Sulawesi Selatan, pelanggannya datang dari berbagai daerah di negeri ini. Haris mengatakan banyak artis yang menjadi pelanggannya. Seperti Miing yang masih setianya hingga kini. Tidak sedikit pula warga asing yang juga menjadi konsumen tetapnya.

Anak bungsu dari tiga bersaudara ini mengaku rata-rata dalam sehari (hari kerja) kedai Mamink Daeng Tata bisa  menghabiskan sekitar 300-400 kilogram iga sapi.  Maklum saja, menu yang paling disukai adalah tata ribs dan coto makasar.

Bila bosan, ada 13 menu lainnya yang dapat dijadikan pilihan. Untuk harganya dibandrol mulai dari Rp 25.000 sampai Rp 58.000 per porsi.

Musripah pemilik Nasi Pindang Pak Ndut asal Semarang, Jawa Tengah juga optimistis masakan khas dalam negeri bakal terus disukai dari generasi ke generasi. Buktinya, kedainya tetap ramai dikunjungi pelanggan sejak tahun 1991. Asal tahu saja, dia merupakan generasi kedua penerus usaha ini.

Pelanggannya pun tidak hanya didominasi oleh orang tua tapi juga muda-mudi. "Awalnya bapaknya yang jadi langganan tapi nanti nular ke anaknya ke cucunya sampai ke saudaranya," katanya pada KONTAN. Tidak sedikit yang sudah menjadi pelanggan setia dengan usia lebih dari 10 tahun.

Musripah hanya menjajakan satu menu yaitu nasi pindang. Yang menarik adalah aneka lauk pelengkap yang disediakannya. Total ada sekitar 10 macam beberapa diantara seperti paru, otak, babat, dan lainnya. Harga menunya pun dipatok mulai dari Rp 11.000 sampai Rp 17.000 per porsi.


BISNIS KULINER

TERBARU
Seleksi CPNS 2018
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0121 || diagnostic_api_kanan = 0.1075 || diagnostic_web = 1.1643

Close [X]
×