kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45830,70   -7,12   -0.85%
  • EMAS940.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.46%
  • RD.CAMPURAN -0.09%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.01%

Kelompok petani mete antonio, dari terjerat sistem ijo hingga mampu berdikari


Jumat, 02 Juli 2021 / 11:25 WIB
Kelompok petani mete antonio, dari terjerat sistem ijo hingga mampu berdikari
Aktivitas Kelompok Petani Mete Antonio.

Reporter: Ratih Waseso | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Awalnya para petani mete di Desa Ile Padung Kecamatan Lewolema Kabupaten Flores Timur, NTT, menggunakan sistem ijon dalam menjual hasil budidaya mete mereka. Namun sistem ijon dirasa membuat petani lokal merasa sangat dirugikan.

Melihat potensi budidaya mete sangat melimpah di sana, Rm Emanuel Temaluru, bersama pembina Kelompok Petani Mete Antonio pada tahun 2013 melakukan pembinaan dengan pelatihan quality control. Dimana sebelumnya para petani di sana belum memisahkan mete sesuai dengan kualitasnya.

"Saya diskusi dengan mereka soal budidaya, pengolahan mete hingga pascapanen. Kemudian berjalan waktu saya bertemu dengan orang Jamkrindo dan ditawarkan untuk mengajukan pembiayaan kelompok tani kami," jelas Emanuel kepada KONTAN.

Secara geografis, 75% lahan di Desa Ile Padung sendiri ditanami oleh pohon mete. Dahulu masyarakat belum mengetahui nilai ekonomi mete yang tinggi. Kini dengan adanya pembinaan dan pembiayaan dari Jamkrindo sejak 2018, Emanuel menyebut petani mete di sana sudah banyak mengalami peningkatan.

Baca Juga: Bantu Cegah Covid-19, Konsumsi Makanan & Vitamin Untuk Meningkatkan Imun Tubuh

Tak hanya sistem ijon yang sudah hilang, harga jual mete juga mengalami peningkatan lantaran adanya quality control. Emanuel menceritakan, sebelum Ia masuk ikut membina kelompok petani mete Antonio, harga satu kilogram mete hasil perkebunan disana di harga Rp 7.000 dalam bentuk gelondongan dan Rp 50.000 dalam bentuk kacang mete.

"Setelah di pendampingan dan ada quality control, sekarang harga mete gelondong itu Rp20.000 perkilo kemudian kacang mete nya Rp150.000," ujarnya.

Dalam setahun Kelompok Petani Mete Antonio mampu memanen sekitar 500 ton dengan periode panen mulai Juni hingga Oktober. Adapun luas lahan yang dimiliki petani di Kelompok Petani Mete Antonio total 2.500 hektar.

"Awalnya hanya 5-6 petani di kelompok dulu tapi sekarang sudah ada 60 petani yan tergabung," ujarnya.

Hasil pembinaan yang dilakukan Jamkrindo, Emanuel menceritakan terjadi peningkatan omzet bulanan Kelompok Petani Mete Antonio. Dimana pada tahun 2013 ialah Rp 30 juta per bulan menjadi Rp 300 juta per bulan pada tahun 2018.

Namun, masuknya pandemi Covid-19 ke Indonesia berdampak pada penjualan hasil budidaya mete Kelompok Petani Mete Antonio. Emanuel menceritakan bahwa terjadi penurunan permintaan terhadap mete hingga 50%, terutama saat jelang hari raya seperti lebaran.

Baca Juga: Makanan & vitamin ini untuk meningkatkan daya tahan tubuh saat darurat Covid-19




TERBARU
Kontan Academy
Excel Master Class: Data Analysis & Visualisation Certified Supply Chain Analyst (CSCA) Batch 10

[X]
×