kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Kemitraan pangkas rambut masih belum terpangkas


Sabtu, 02 November 2019 / 09:05 WIB

Kemitraan pangkas rambut masih belum terpangkas

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Memangkas rambut hingga kini masih merupakan kebutuhan utama bagi semua orang, tak cuma kaum Hawa, juga kaum Adam. Malah, perkembangan gerai pangkas rambut bagi para laki-laki semakin maju, terutama dari sisi fasilitas.

Misalnya, dari nama gerai yang mulai banyak menggunakan embel-embel barbershop ketimbang pangkas rambut. Pemakaian kata barbershop tidak lepas dari aneka fitur yang tersedia di gerai pangkas rambut tersebut, mulai perawatan wajah, pewarnaan rambut, pemijatan, hingga fasilitas lainnya. Itu masih ditambah dengan interior tempat cukur laiknya sebuah kedai karena ada juga camilan dan minuman.

Faktor inilah yang membuat barbershop sempat ramai dalam beberapa tahun terakhir. Malahan, ada juga pemain yang langsung menawarkan kemitraan usaha untuk mempercepat bisnis mereka.

Dalam Rubrik Review Waralaba pekan ini, KONTAN kembali mengulas soal perkembangan kemitraan dari bisnis pangkas rambut khusus pria. Apakah masih tetap eksis atau sebaliknya. Untuk mengetahuinya, berikut ulasan tiga barbershop yang menawarkan kemitraan:  

Kick Barbershop

Pangkas rambut khusus pria ini didirikan 2017 oleh Wisuda Nugraha di Langsa, Aceh. Setelah melihat gerai perdana mendapat respons positif, beberapa bulan kemudian dia langsung menawarkan kemitraan usaha.

Sejauh ini, Wisuda masih melakukan proses kesepakatan bisnis dengan calon mitra.  Kalau lancar, gerai mitra perdana bakal beroperasi November nanti. "Sudah ada yang deal (sepakat) untuk franchise Kick Barbershop di November,” katanya.

Paket kemitraan masih sama, belum berubah sejak dua tahun lalu. Yakni, terdiri tiga paket, yang pertama paket Rp 200 juta. Fasilitas yang mitra dapat adalah enam kursi box, peralatan salon lengkap, chemical, pelatihan karyawan, dan branding.

Paket kedua Rp 250 juta, yang mitra peroleh sama dengan paket pertama. Bedanya, mitra mendapat tambahan fasilitas binatu sepatu.

Sedangkan paket ketiga senilai Rp 300 juta, dengan fasilitas delapan kursi boks, perlengkapan barbershop, chemical, branding, pelatihan karyawan, serta perlengkapan untuk binatu sepatu.

Tarif di Kick Barbershop mulai Rp 30.000 sampai Rp 135.000 per paket, mulai gunting, pijat, binatu sepatu, hair tonic, hingga styling.

Bicara kendala, yang paling mengganggu adalah kala konsumen ramai yang terkadang tidak bisa terlayani semua. Karena itu, Wisuda pun berupaya memberi pemahaman ke pelanggan karena Kick Barbershop memakai sistem pesanan atau booking.

Dengan langkah tersebut, Wisuda pun optimistis bisa menambah satu mitra lagi sampai akhir tahun ini.  

Toekang Tjoekoer

Pelaku usaha selanjutnya adalah Anggit Anjar yang mengusung label Toekang Tjoekoer Barbershop. Usaha asal Pemalang, Jawa Tengah, ini sudah dia rintis sejak awal 2015 lalu. Melihat ceruk pasar waktu itu, ia pun memutuskan untuk membuka tawaran kemitraan pada 2017.

KONTAN mengulasnya pada Oktober 2018. Setahun berlalu, masih belum ada pertambahan mitra dari Toekang Tjoekoer Barbershop. Saat ini, ada tiga gerai pribadi di Pemalang, dua gerai mitra di Tegal dan Purwokerto.

Tahun lalu, Anjar sempat menghentikan kemitraan Toekang Tjoekoer Barbershop lantaran ingin fokus pada sekolah barber yang ia buka. Kini, Anjar kembali membuka kemitraan dengan tidak ada perubahan dari segi nilai. Yakni, Rp 38 juta berikut tiga set kursi barbershop.

Dari sisi fitur, kini ada layanan uap wajah. "Tujuannya, untuk memberi pengalaman baru ke pelanggan," ungkap Anjar kepada KONTAN.

Persoalan tenaga kerja masih menjadi masalah krusial di bisnis ini, terutama keluar masuk karyawan. Lantaran bisnis barbershop mengandalkan pekerja terutama pemangkas rambut, untuk itu Anjar mulai menerapkan standar operasional prosedur untuk meminimalisir persoalan tenaga kerja tersebut.

Selain pekerja, Anjar juga berupaya menjaga mitra bisnis. Minimal, setiap tiga bulan sekali, dia mengadakan kunjungan ke gerai mitra. Frekuensi kunjungan bisa bertambah ketika ada gerai mitra yang butuh perhatian.

Tahun ini, Anjar hanya menargetkan dua mitra lagi bergabung. Dia memang tidak memasang target banyak untuk penambahan mitra. Ini untuk memastikan setiap mitra bisa ia bantu secara maksimal tanpa disibukkan dengan pengembangan gerai Toekang Tjoekoer yang cepat.

Apalagi, syarat yang Anjar berikan untuk bermitra dengan Toekang Tjoekoer Barbershop juga tidak mudah. Ambil contoh, pemilihan lokasi sampai dengan tarif yang nanti dikenakan. Ia ingin memastikan para mitra mendapatkan keuntungan seperti yang mereka harapkan.

Selain barbershop, Anjar juga menekuni lembaga pelatihan barber dengan nama LPKS Barber Course Indonesia dan Barber Suppprt Management. Barber Support Management bertugas sebagai perekrut tenaga kerja dari LPKS Barber Course Indonesia untuk ditempatkan di sejumlah barbershop yang ada di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jabodetabek, Yogyakarta.

Tenaga pemangkas rambut yang Anjar pasok tidak sebatas untuk keperluan Toekang Tjoekoer Barbershop saja, tapi juga untuk kebutuhan barbershop merek lain.

Grand Macho

Pemain lainnya adalah Nugroho Wahyu Widarto yang mengusung Grand Macho Barbershop asal Yogyakarta. Gerai pangkas rambut ini  berdiri pertengahan 2010 dan mulai menawarkan kemitraan usaha pada 2012. Saat KONTAN menulisnya di 2017, ada 75 gerai yang berdiri.

Saat ini, Grand Macho Barbershop memiliki 100 gerai, sepuluh di antaranya merupakan gerai pusat dan selebihnya milik mitra. Gerai-gerai tersebut tersebar di Yogyakarta, Solo, Klaten, Wonogiri, Salatiga, Pati, Rembang, Semarang, Sragen, Kediri, Surabaya, dan Sidoarjo. "Gerai mitra yang masih aktif hingga kini ada 90 gerai. Selebihnya kadang aktif dan tidak," ujar Wahyu pada KONTAN.

Paket investasi yang Wahyu tawarkan mengalami perubahan. Awalnya, ada dua paket yakni senilai Rp 50 juta dan Rp 75 juta. Kini, menjadi Rp 75 juta dan Rp 100 juta. Kenaikan paket tersebut mengikuti harga peralatan dan perlengkapan usaha yang menanjak. Selain itu, ia juga meningkatkan standar peralatan barbershop.

Dengan upaya tersebut, saat ini rata-rata omzet yang mitra dapatkan sekitar Rp 6 juta hingga Rp 15 juta per bulan, tergantung lokasi gerai ada di mana. Adapun tarif potong rambut di Grand Macho Barbershop Rp 18.000–Rp 35.000. Untuk saat ini, gerai barbershop ini sudah tidak menawarkan pomade lagi.

Sama seperti pemain lainnya, kendala terbesar Grand Macho Barbershop adalah persoalan tenaga kerja. Mulai dari yang kerap keluar masuk hingga ketrampilan. "Kendala lainnya, sering juga para pemangkas rambut kami dibajak," ungkap Wahyu.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Wahyu terus-menerus merekrut tenaga kerja, terutama pemangkas rambut. Tak cuma itu, dia juga melatih ketrampilan para pemangkas agar semakin mahir. Hal lainnya adalah diberikan tanggungjawab mengelola satu gerai pangkas rambut.

Sedangkan cara lain untuk mengatasi penurunan omzet, Wahyu mulai manfaatkan teknologi digital lewat fasilitas pemesanan secara online. Dan, hasilnya positif.            


Reporter: Elisabeth Adventa, Ratih Waseso, Venny Suryanto
Editor: Markus Sumartomjon



Close [X]
×