kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.014,65   8,27   0.82%
  • EMAS955.000 1,06%
  • RD.SAHAM -1.07%
  • RD.CAMPURAN -0.35%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.08%

Kemitraan tahu pedas masih hot


Selasa, 02 September 2014 / 15:16 WIB
Kemitraan tahu pedas masih hot


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk, Primasyah Kristanto, Rani Nossar, Tri Sulistiowati | Editor: Rizki Caturini

Meski bisnis tahu pedas sudah tidak seheboh beberapa tahun silam, namun prospek usaha masih tetap sepedas rasanya. Harganya yang relatif murah dengan sensasi rasanya yang pedas membuat banyak konsumen tetap mencari camilan ini.

Apalagi tahu sudah menjadi menu lauk-pauk sehari-hari di rumah. Oleh sebab itu, usaha tahu goreng pedas ini masih terus bertumbuh. Tidak sedikit para pelaku usaha tahu pedas berinovasi rasa untuk menarik minat konsumen. Selain itu, agar gerainya cepat berkembang, sebagian dari mereka  membuka tawaran kemitraan kepada masyarakat.

Untuk mengetahui perkembangan terakhir beberapa pelaku usaha tahu pedas ini, kali ini KONTAN akan mengulas tiga kemitraan tahu pedas yang pernah dimuat sebelumnya yaitu Tahu Pedas Hot, Tahu Bandung Hot Jeletot, dan Kuch2hotahu. Berikut ulasannya.

Tahu Pedas Hot

Tahu Pedas Hot dirintis oleh Handi Wijaya di Jakarta pada Januari 2011. Ia menawarkan tahu goreng yang diisi dengan campuran kol, wortel dan rawit hijau. Racikan ini memberikan sensasi rasa pedas di lidah ketika dimakan.

Untuk mengembangkan usahanya, Handi menawarkan kemitraan Tahu Pedas Hot pada awal tahun 2013.  Saat KONTAN mengulas kemitraan ini pada Agustus tahun lalu, usaha ini sudah memiliki 15 gerai. Sembilan di antaranya punya pusat dan sisanya milik mitra.

Kini, gerai Tahu Pedas Hot berkurang tiga menjadi 12 gerai. Rinciannya, sembilan gerai tetap milik pusat dan tiga gerai punya mitra. Amos Andika Eordy, anak dari Handi Wijaya, mengatakan, pengurangan gerai tersebut lantaran ada tiga mitranya yang tidak berkembang. "Karena mitra kami rata-rata mempunyai pekerjaan sendiri sehingga gerainya tidak terlalu dikelola dengan baik," kata dia.

Kendati gerainya berkurang, Amos menyatakan, gerai-gerai yang masih bertahan saat ini masih terus berkembang, terutama milik pusat. Untuk paket kemitraan yang ditawarkan masih tetap seharga Rp 15 juta. Sementara harga jual tahu mengalami kenaikan dari Rp 2.000 per buah menjadi Rp 2.500 per buah. Ini lantaran ada kenaikan harga bahan baku.

Agar mitra usaha bisa kembali bertambah, Amos mengatakan Tahu Pedas Hot terus melakukan pemasaran baik melalui internet maupun melalui majalah. Selain itu, pihaknya juga tetap menjaga kualitas rasa produk.

Di samping itu, Amos mengatakan, pihaknya juga terus melakukan inovasi dari segi produk. Saat ini, Tahu Pedas Hot mengeluarkan produk baru berupa tahu pedas Frozen. "Ini sudah berlangsung sekitar sebulan," kata dia.

Tahu Frozen tersebut bisa tahan selama seminggu karena dalam bentuk beku. Amos menyatakan, tahun ini tahu beku baru dijual secara eceran ke konsumen  secara langsung dan lewat internet. Tahu Frozen dihargai Rp 3.500 per buah.

Amos mengatakan pihaknya sangat selektif memilih mitra sehingga tidak menargetkan penambahan mitra hingga akhir tahun. Ia akan meminta mitra mencari lokasi yang tepat karena pemilihan lokasi yang tepat memang menjadi kunci keberhasilan usaha ini.

Tahu Bandung Hot Jeletot

Usaha Tahu Bandung Hot Jeletot yang dirintis oleh Rudi ini berdiri sejak Januari 2012. Kemudian dia menawarkan kemitraan pada Maret di tahun yang sama. Ketika KONTAN pernah mengulasnya pada Agustus 2012 lalu, saat itu jumlah gerainya hanya 20 gerai.

Kini, jumlah gerai mengalami kenaikan pesat. Saat ini sudah ada 64 gerai yang beroperasi di diwilayah Jabodetabek. Hingga akhir tahun, Rudi menargetkan jumlah gerainya menjadi 80 gerai. Untuk, mendapatkan target tersebut Rudi banyak melakukan promosi melalui media digital dan melakukan cara pemasaran tradisional yaitu dari mulut ke mulut.

Harga jual tahu pedas yang dia jual masih tetap di harga Rp 2.000 tiap buah. Yang telah berubah dalam usaha ini adalah nilai investasinya. Sejak akhir tahun 2013, Rudi menaikan paket investasi bagi mitra dari Rp 8 juta menjadi Rp 10 juta. Alasannya, karena harga seluruh bahan dan perlengkapan mengalami kenaikan.

Dengan modal tersebut, mitra mendapatkan fasilitas seluruh perlengkapan memasak, bahan baku awal, branding dan perlengkapan tambahan lainnya. Agar hasil penjualan bagus, lokasi untuk berjualan disarankan di tempat-tempat yang strategis seperti pinggir jalan, pusat perbelanjaan, pusat hiburan dan lainnya.

Untuk omzet usaha, dalam sebulan mitra rata-rata bisa mengantongi sekitar Rp 8 juta hingga Rp 10 juta per bulan. Setelah dikurangi biaya bahan baku dan operasional, porsi keuntungan bersih yang didapatkan mitra sekitar 15% dari omzet tiap bulan.

Berdasarkan perhitungan Rudi, mitra sudah bisa balik modal selama empat bulan dengan catatan mereka mempunyai lokasi yang strategis. Untuk menjaga kualitas rasa dan produk, Rudi mengharuskan mitra untuk mengambil bahan baku dari pusat.

Kuch2hotahu

Ketika KONTAN mengupas  kemitraan usaha Kuch2hotahu pada September 2012, jumlah gerai milik mitra  yang beroperasi saat itu sekitar 170 gerai. Rinciannya 10 gerai milik pusat dan sisanya milik mitra. Berkat kegigihan tim manajemen Kuch2hotahu asal Kudus, Jawa Tengah ini yang terus mengontrol para mitranya, kini dia sudah memiliki mitra sebanyak 1.000 yang tersebar di penjuru Indonesia termasuk Manado dan Papua. Saat ini promosi yang gencar dilakukan oleh Kuch2hotahu adalah melalui media internet.

Menurut Mustafa, Manager Franchise Kuch2hotahu, ada perubahan dalam paket investasinya. Semula Kuch2hotahu membuka paket investasi sebesar
Rp 7,5 juta namun kini paket investasi tersedia dalam tiga paket investasi. Pertama senilai Rp 8,5 juta untuk paket booth reguler, senilai Rp 10 juta untuk paket booth Minikuch, dan Rp 12 juta untuk paket Maxikuch.

Untuk paket di luar Pulau Jawa, harga paket menjadi Rp 9,5 juta untuk paket reguler, Rp 12 juta untuk paket Minikuch dan Rp 15 juta untuk paket Maxikuch.
Kenaikan harga ini dikarenakan Kuch2hotahu juga menambah varian rasa, dari 20 varian rasa menjadi 25 rasa. "Ada rasa pecel, rasa soto, iga pedas dan sebagainya," ujar Mustafa.

Selain itu kenaikan harga paket juga karena Kuch2hotahu membuat gerobak dengan model baru. "Lebih menarik untuk dilihat," ujarnya.
Harga jual per porsi juga mengalami kenaikan dari Rp 3.000–Rp 5.000 menjadi Rp 5.000–Rp 8.000 per porsi.

Mustafa bilang, kendala yang sering terjadi adalah dalam segi pengiriman booth khususnya bagi mitra baru akan bermitra dengan Kuch2hotahu. "Meskipun sudah menjalin kerjasama dengan beberapa perusahaan ekspedisi namun tetap saja tidak dapat diprediksi kapan sampainya," ujarnya.

Mustafa menargetkan hingga akhir tahun akan ada tambahan sekitar 30 mitra anyar. Kuch2hotahu akan berinovasi salah satunya membuat varian menu baru yakni ayam goreng tepung serta menawarkan minuman ringan.        

Menurut Erwin Halim, pengamat pengamat bisnis waralaba dari Proverb Consulting menyampaikan, bisnis tahu isi berasa pedas ini memang sedang tren dalam beberapa tahun terakhir ini. Tidak mengherankan,  meski beberapa pelaku usaha menaikkan nilai investasi kemitraan kepada para mitra, antusiasme masyarakat untuk bergabung dalam kemitraan ini masih cukup besar.  Ini bisa dilihat dari beberapa pelaku usaha yang masih mengalami pertumbuhan mitra seperti dialami oleh Tahu Bandung Hot Jeletot dan Kuch2hotahu.

Lagi pula, nilai paket investasinya tidak lebih dari Rp 20 juta kendati para pemilik kemitraan ini sudah menaikkan nilai paket investasinya. Lihat saja, kini rata-rata paket investasinya hanya berkisar Rp 8 juta hingga Rp 13 juta. "Itu masih tergolong terjangkau oleh masyarakat, sehingga mitra berpotensi akan terus bertambah, " kata Erwin kepada KONTAN, Jumat (29/8).

Selain karena harga investasinya yang tergolong murah, bahan baku produk relatif mudah didapat. Apalagi sekarang makin ngetren tahu aneka rasa atau bukan sekadar tahu goreng.

Belum lagi sejumlah inovasi  bentuk maupun rasa yang bisa menambah daya tarik produk. Agaknya, itu pula  yang membuat orang tertarik dengan olahan tahu, plus kemitraan usaha ini bisa berkembang.  

Sedangkan bagi pelaku usaha yang malah kehilangan mitra, Erwin menyatakan ada kemungkinan rasa tahu yang kurang bisa bersaing di pasar. Faktor penyebab kegagalan lain adalah si pemilik usaha atau mitranya  tidak serius mengelola bisnisnya.                 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Terpopuler
Kontan Academy
Digital Marketing in New Normal Era The Science of Sales Management

[X]
×