kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Kemkop UKM memfasilitasi pelaku furnitur mebel dan rotan tembus pasar global


Minggu, 02 Februari 2020 / 22:16 WIB
Kemkop UKM memfasilitasi pelaku furnitur mebel dan rotan tembus pasar global
ILUSTRASI. Perajin menyelesaikan pembuatan kursi berbahan rotan di sentra industri rotan Desa Trangsan, Sukoharjo, Jawa Tengah, Selasa (8/1/19). Menteri Pedagangan, Enggartiasto Lukita melarang ekspor rotan mentah dan mendorong para perajin rotan mengekspor produk r

Reporter: Ratih Waseso | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Industri furnitur, mebel dan kerajinan Indonesia punya pasar potensial di luar negeri. Dan ini harus ditangkap oleh para pelaku usaha. Salah satunya adalah industri furnitur yang ada di Surakarta, Jawa Tengah. 

Potensi ini dilihat oleh Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki, saat melakukan kunjungan kerja di beberapa sentra industri furnitur dan kerajinan tangan, di antaranya di Pasar Mebel Ngamplak (furnitur kayu) dan Koperasi Manunggal Jaya Trangsan Sukoharjo (industri rotan).

Saat ini, pemerintah tengah berupaya mendongrak ekspor dan mengurangi impor. "Dalam dua sampai tiga tahun harus ada pertumbuhan ekspor atau kurangi impor," jelas Teten dalam siaran pers yang diterima KONTAN pada Minggu (2/2).

Baca Juga: Manfaatkan Perang Dagang, Eksportir Furnitur Diguyur Insentif

Dan industri furnitur dan mebel adalah salah satu industri prioritas untuk ditingkatkan produksinya. Baik itu di pasar dalam negeri maupun luar negeri. Apalagi pusat bahan baku furnitur dan mebel yang kebanyakan adalah kayu berasal dari Jawa Tengah. 

"Perkayuan memang sentranya di Jawa Tengah. Pemerintah harus bersinergi dengan Pemda dan Pemprov untuk produk unggulan nasional. Kami harus menyiapkan ekosistemnya, rantai pasoknya," ujar Teten.

Baca Juga: Permintaan mebel di pasar global meningkat, eksportir genjot penjualan

Problem industri mulai dari pasar, SDM, teknologi, desain dan pembiayaan kata Teten, bakal segera dikonsolidasikan dengan Kementerian/Lembaga (K/L) terkait agar ekspor produk UMKM bisa naik terwujud.

Baca Juga: Berorientasi ekspor, Kemprin prioritaskan IKM furnitur dan kerajinan

Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Mebel Gilingan Kota Surakarta Budi Santoso mengatakan, pasar seluas 6.800 meter persegi ini memang menjadi salah satu daerah yang dikenal sebagai industri mebel. Sayang, sejak berdiri pada 1970-an, pasar ini kerap kali mengalami kebakaran.

Kawasan pasar Mebel Ngamplak tersebut masuk dalam program Presiden Joko Widodo dalam percepatan kawasan ekonomi strategis di Jawa Tengah selama tiga tahun ke depan (2021-2023).

Sejauh ini,  Pasar Mebel Ngamplak punya omzet sekitar Rp  10 miliar per tahun.

"Kami mengelola 44 pasar, masing-masing potensi ini telah kami maksimalkan. Sementara kami juga menaungi 67 pedagang sekaligus perajin mebel," sambung Budi.

Sementara, cerita lain dari Koperasi Manunggal Jaya Trangsan Sukoharjo. Industri kerajinan rotan asal Sukoharjo ini telah menembus market global di antaranya Spanyol, Uni Emirat Arab hingga Afrika Selatan.

"Di 2019, di bawah naungan koperasi rotan sukses memenuhi demand tiga negara tersebut sebanyak 12 kontainer dengan nilai transaksi mencapai US$ 140.000 atau setara Rp 1,91 miliar," tutur Suparji.

Permasalahan bahan baku, saat ini masih menjadi kendala bagi koperasi tersebut dalam memenuhi permintaan pasar luar negeri. Selama ini, pasokan bahan baku rotan justru didatangkan dari luar Pulau Jawa yaitu Sulawesi, Kalimantan dan Aceh.

Dalam kurun waktu dua tahun terakhir, permintaan rotan meningkat pesat, terutama sejak adanya perdagangan bebas. Ia mengungkapkan pembeli dari Amerika selalu datang dengan jumlah pesanan yang besar. 

Tapi, SDM menjadi pekerjaan rumah koperasi Manunggal Jaya Trangsan Sukoharjo. Ia pun meminta Kemkop UKM untuk membantu membuat pelatihan untuk membuat produk rotan berstandar ekspor. Saat jaya di era 80-an, industri rotan setempa sanggup memproduksi 400 unit perabot rotan per bulan. Dan ia ingin kembali ke era tersebut. 




TERBARU

Close [X]
×