kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45770,66   0,00   0.00%
  • EMAS887.000 -1,88%
  • RD.SAHAM 0.90%
  • RD.CAMPURAN 0.65%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.47%

Kesegaran cendol belum kendur


Selasa, 20 September 2011 / 12:52 WIB
Kesegaran cendol belum kendur

Reporter: Dea Chadiza Syafina, Handoyo | Editor: Tri Adi

Meneguk segelas es cendol akan sangat menyegarkan di hari-hari yang lagi panas seperti belakangan ini. Cendol yang terbuat dari tepung beras itu yang kemudian disajikan dengan santan kelapa dan gula merah plus es serut itu memang punya banyak penggemar.

Cendol Desa, Cendol Gading, dan Dawet Jabung Cap Gentong adalah beberapa merek cendol terkenal. Mereka pun telah menawarkan usaha kemitraan untuk es cendol itu sebagai upaya mengembangkan usaha. Walau persaingan usaha cendol semakin ketat, namun dengan investasi yang terjangkau, jumlah mitra ke-3 usaha cendol itu semakin bertambah. Bahkan Cendol Gading bisa menambah 100 mitra sejak Mei 2010 lalu.



• Cendol Desa

Berdiri pada 2007, Cendol Desa lumayan sukses dalam mengembangkan konsep kemitraan. Menawarkan usaha kemitraan sejak 2009, Cendol Desa saat ini telah memiliki 13 mitra. Jumlah itu akan bertambah delapan menjadi 21 mitra dalam waktu dekat.

"Tinggal menunggu beberapa persyaratan lagi," ujar Tatang Kusdiana, pemilik Cendol Desa. Selain tersebar di Jabodetabek, mitra Cendol Desa juga ada di Majalengka, Ciamis, dan Bandung.

Menurut Tatang, bertambahnya jumlah mitra itu seiring dengan berubahnya paket kemitraan yang ditawarkan. Pada Mei 2010, saat KONTAN mengulas Cendol Desa, Tatang menawarkan paket gerobak kayu seharga Rp 5,9 juta dan paket gerobak besi seharga Rp 5,9 juta. Namun saat ini dia hanya menawarkan satu paket senilai Rp 15 juta. "Agar pengelolaannya lebih fokus," katanya.

Dengan peningkatan nilai investasi, Tatang juga menambah fasilitas yang diberikan. Calon mitra tidak hanya mendapatkan satu gerai, namun lima sekaligus, termasuk perlengkapan usaha dan media promosi. Cuma, mitra harus menyiapkan lokasi usaha di tempat ramai seperti lingkungan perumahan, perkantoran, atau mal.

Mitra tidak perlu repot menyiapkan bahan baku, sebab nantinya Cendol Desa akan memasok bahan baku yang diperlukan. Keharusan mitra untuk membeli bahan baku dari pusat dimaksudkan untuk mempertahankan standar rasa. Tatang mengaku memiliki racikan rahasia sehingga rasa cendolnya istimewa.

Untuk setiap paket bahan baku terdiri dari gula, tepung dan cendol, dan daun suji harganya Rp 20.000. Bahan baku tersebut bisa dipakai untuk 25 gelas cendol dengan harga jual Rp 4.000 per gelas. Dengan target penjualan sebanyak 50 gelas, mitra akan mendapat omzet sebesar Rp 200.000 per hari.

Dari penjualan tersebut, mitra akan mendapatkan keuntungan bersih sekitar 50%. Sebab harga pokok produksi sekitar Rp 2.000 per gelas, sehingga mitra bisa balik modal dalam tiga bulan.

Hanya, mitra tidak berjualan selain cendol. "Mitra diperbolehkan membuat varian rasa, namun cendol dengan rasa orisinal tetap yang paling laris," katanya.


• Cendol Gading

Cendol Gading didirikan Nurul Huda pada 1996 di Bandung, Jawa Barat. Namun baru menawarkan kemitraan pada 2005. Saat ini jumlah mitra Cendol Gading sudah sebanyak 600 mitra. Jumlah tersebut melonjak 100 mitra jika dibandingkan dengan Mei 2010 lalu ketika KONTAN mengulasnya. "Perkembangannya cukup pesat," ujar Nur.

Nur menawarkan dua paket investasi senilai Rp 5 juta dan Rp 9 juta. Investasi Rp 5 juta diberikan untuk mitra yang berada di Jakarta, sedangkan Rp 9 juta untuk mitra di luar Jakarta. Nilai investasi untuk mitra di Jakarta mengalami kenaikan dari Rp 7,5 juta pada Mei 2010 lalu. Menurut Nur, kenaikan biaya investasi karena melambungnya harga bahan baku.

Untuk Anda yang berdomisili di Jakarta, dengan investasi Rp 7,5 juta, maka Anda akan mendapatkan gerobak atau booth serta perlengkapan usaha komplet. Mitra juga akan mendapatkan pasokan bahan baku berupa cendol, tepung, gula, dan daun suji seharga Rp 35.000 sampai Rp 40.000. Satu paket bahan baku cukup untuk membuat 75 gelas cendol.

Sedangkan untuk mitra yang berada di luar Jakarta, akan mendapatkan tambahan peralatan produksi cendol. "Ini untuk mengatasi bahan baku cendol yang tidak tahan lama," katanya. Selain memberikan alat pembuat cendol, Nur juga memberikan pelatihan produksi.

Dengan harga jual Rp 4.000 sampai Rp 7.000 per gelas tergantung lokasi, omzet per hari diperkirakan mencapai Rp 200.000 sampai Rp 350.000. Omzet itu didapatkan dari penjualan 50 gelas cendol tiap hari. Jika target itu tercapai, balik modal akan terjadi setelah tiga bulan.

Melihat antusiasme masyarakat akan usaha cendolnya, Nur berencana menawarkan paket miniresto. Tak hanya menawarkan minuman cendol, konsep miniresto miliknya juga akan menawarkan banyak menu makanan.


• Dawet Jabung Cap Gentong

Dawet Jabung Cap Gentong mulai dirintis pada tahun 2009 di Bekasi, Jawa Barat. Seperti juga halnya dengan Cendol Desa dan Cendol Gading, mitra Dawet Jabung juga terus bertambah.

Sejak menawarkan kemitraan pada Februari 2010, jumlah mitra Dawet Jabung saat ini telah mencapai 35 mitra yang tersebar di Jabodetabek, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. "Tahun ini ada 20 mitra yang baru bergabung," kata Hendro Dwi, Manajer Kemitraan Dawet Jabung. Mitra-mitra baru Dawet Jabung tersebar di Sidoarjo, Mojokerto dan Gersik.

Ia mengaku, masih banyak yang tertarik menjadi mitra Dawet Jabung. Namun begitu, pihaknya tidak bisa mengabulkan seluruh permintaan untuk mempertahankan mutu dan kualitas.

Menurut Hendro, saat ini Dawet Jabung masih fokus pada pengembangan usaha di sekitar Pulau Jawa. Sebab, minuman es dawet memang lebih akrab di lidah masyarakat Jawa dibandingkan yang lain. "Es dawet lebih disukai di Pulau Jawa. kami akan berpikir lagi untuk ke luar Jawa," ujarnya.

Karena masih relatif baru, Dawet Jabung saat ini masih mempertahankan nilai investasi yang ditawarkan. Ada dua paket kemitraan, yaitu paket mal dan paket kaki-lima.

Paket mal mengharuskan calon mitra merogoh kocek Rp 6,5 juta. Paket ini khusus untuk mitra yang ingin buka gerai di foodcourt atau mal. Dengan harga Rp 5.000 per mangkuk dan target 50 mangkuk per hari, balik modal akan tercapai waktu tiga bulan.

Sedangkan paket kaki lima bernilai Rp 4,5 juta, belum termasuk sewa lokasi, Hendro menargetkan keuntungan bersih mencapai Rp 1 juta per bulan. Keuntungan bersih itu didapatkan dari penjualan 50 mangkuk dawet seharga Rp 3.200 per mangkuk. "Jadi titik impas dicapai dalam lima bulan," paparnya.

Dengan masa kerja sama seumur hidup, calon mitra akan mendapatkan fasilitas gerobak berikut perlengkapan usaha, seperti rombong, gentong, canting, gelas, sendok, kursi, banner promosi, dan seragam pegawai. Untuk bahan baku awal, mitra akan mendapatkan dua paket untuk 200 mangkuk.

Agar seragam dalam penyajian, rasa, dan mutu dawet, Dawet Jabung akan memberikan resep dan teknik pembuatan dawet. Yang menarik, mitra usaha ini boleh membuat dawet sendiri sehingga tidak perlu bergantung bahan baku dari pusat.





TERBARU

[X]
×