kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45963,73   -4,04   -0.42%
  • EMAS1.315.000 0,38%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Kiat Ferry Salim membesarkan usaha restorannya


Rabu, 06 Maret 2013 / 14:19 WIB
Kiat Ferry Salim membesarkan usaha restorannya
ILUSTRASI. Supaya kesehatan tak memburuk, gejala sinusitis perlu Anda waspadai. /pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo/05/12/2011.


Reporter: Maria Elga Ratri | Editor: Tri Adi

Jauh sebelum acara berburu kuliner di pelbagai kota di Indonesia ngetop di sejumlah stasiun televisi seperti sekarang, ternyata, Ferry Salim sudah membawakan program Pesiar Kuliner pada 2002 silam.

Nah, gara-gara menjadi host di acara itu, aktor sinetron ini memendam mimpi untuk membuka sebuah restoran. Ketika modal sudah di tangan, akhirnya, Ferry memutuskan untuk mewujudkan mimpinya tersebut. "Sebetulnya restoran apa saja enggak masalah, karena dasarnya saya suka makan," kata pria kelahiran Palembang, 8 Januari 1967 ini.

Tapi, Ferry memutuskan membuka restoran ala Jepang yang menyajikan menu utama shabu-shabu. Alasannya simpel: orang zaman sekarang tidak mau makanan yang berlemak dan ingin hidup sehat. Februari 2010 lalu, ia meluncurkan gerai Shabu Slim pertamanya di Central Park, Jakarta.

Menurut Ferry, proses awal menyusun konsep restorannya sungguh tak mudah. "Saya mulai dari nol dan belajar bagaimana menjadi seorang pengusaha kuliner," kenangnya.

Saking seriusnya menggarap bisnis ini, dia rela mundur sejenak dari dunia akting yang membesarkan namanya. Mulai menyusun menu, resep, mencari dan melatih pegawai, uji coba makanan, hingga peralatan masak, semua Ferry sendiri yang memikirkan. Tak heran, ia sampai bela-belain terbang ke Jepang, China, dan Korea Selatan, untuk berburu aneka peralatan dapur, mulai kompor, panci, sampai sumpit.

Tak berhenti sampai di situ, begitu restorannya beroperasi, Ferry ikut turun tangan langsung melayani para tamu yang datang. Maklum, saat itu, restonya mengenalkan konsep baru dalam bersantap, yakni makan berbatas waktu paling lama 1,5 jam. Ia menerangkan langsung konsep itu ke pengunjung.

Karena konsep nyeleneh yang tak umum itu, justru, usahanya berkembang lebih pesat. Kok, bisa? Ya, sebagian pengunjung bercerita ke orang lain soal konsep makan berbatas waktu itu dan memancing rasa penasaran sekaligus pertanyaan: apa betul makan dibatasi? "Malah jadi banyak yang datang," ujar Ferry sambil terbahak.

Meski Shabu Slim sudah punya dua cabang di daerah Kelapa Gading dan Casablanca, dia terus berinovasi. Tak lagi cukup mengandalkan shabu-shabu dengan 100 jenis isi atau teknologi conveyor belt alias ban berjalan untuk mengedarkan makanan, ia juga menambah variasi menu, seperti sushi, es krim, dan minuman.

Memang, nama bekennya sebagai aktor membuat restorannya mudah dikenal orang. Tapi, Ferry tak mau semata bergantung pada faktor itu. "Kalau layanan dan produk jelek, orang hanya akan datang sekali lalu tak kembali," katanya yang menolak mengungkap modal yang sudah ia keluarkan dan omzet bisnis restorannya itu.

Yang pasti, untuk melebarkan bisnisnya, bintang film Ca Bau Kan ini tengah menyiapkan sistem waralaba yang tangguh bagi restorannya. Dan, dia tengah bersiap untuk memulai usaha kuliner yang baru.       

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Negosiasi & Mediasi Penagihan yang Efektif Guna Menangani Kredit / Piutang Macet Using Psychology-Based Sales Tactic to Increase Omzet

[X]
×