kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Kisah Eka Haryani mengangkat pamor mutiara barok di produk kerajinan (bagian 1)


Sabtu, 26 Oktober 2019 / 14:00 WIB
Kisah Eka Haryani mengangkat pamor mutiara barok di produk kerajinan (bagian 1)

Reporter: Ratih Waseso | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ragam aksesori dan perhiasan digemari banyak kalangan. Perhiasan itu bisa berbentuk kalung, giwang, cincin, bros atau gelang. Aksesori itu bisa berbentuk perhiasan jika dibuat dari emas. Selain dari logam kuning, para wanita juga menyukai perhiasan dan aksesori yang terbuat dari mutiara.

Biasanya, produk mutiara yang kita ketahui adalah berbentuk bulat bulat sempurna. Tapi jangan salah, ada juga jenis mutiara yang berbentuk tidak bulat sempurna yang biasa disebut mutiara gagal atau mutiara barok. Biasanya mutiara ini berbentuk asimetris.

Nah ditangan Eka Haryani, mutiara yang awalnya tidak punya nilai jual tersebut diubah menjadi ragam aksesori mutiara barok yang menjadi lebih menawan.
Ia sendiri mulai membuat ragam aksesori mutiara barok sejak 2015. Dan kini hampir ada 2.000 desain aksesori yang sudah ia buat dengan bahan dasar mutiara barok. Mulai dari kalung, cincin, bros, anting hingga gelang.

Saban hari ia bersama empat orang karyawan sanggup memproduksi 8 sampai 12 produk aksesori, seperti kalung. "Produksi masih di rumah sendiri, di Bintara Bekasi. Kami semua handmade, barok dipasang sendiri," kata Eka, pemilik Eka Gems Stone & Accessories kepada KONTAN.

Selama menjalankan usaha tersebut, ia kini mampu meraup omzet Rp 100 juta hingga Rp 150 juta perbulannya.  Adapun saat awal usaha dulu, ia cuma mengeluarkan modal Rp 20 juta.

Dengan modal tersebut, ia mulai belajar mendesain produk secara mandiri dan autodidak. Ia selalu melihat tren desain aksesori yang terjadi lantas memodifikasinya sehingga produk yang dihasilkan menjadi ciri khas labelnya.

Misalnya ada desain produk perhiasan yang terbuat dari perak yang berasal dari UMKM asal Yogyakarta atau Bali. Lantas produk perhiasan tersebut ia permak dan tambah dengan rumbai, serta barok.

Eka memang menjalin kerjasama dengan para perajin tembaga dan perak dari Yogyakarta dan Bali. Para perajin tersebut membuat desain aksesori perhiasan yang ia pesan. Ia juga  memilih bahan baku yang tidak menimbulkan iritasi pada kulit penggunanya.

Sedangkan untuk bahan baku mutiara barok, ia mendatangkan langsung dari Lombok, Nusa Tenggara Barat. "Sebulan saya bisa belanja mutiara barok Rp 20 juta sampai Rp 30 juta, bentuknya kemasan serenceng," terang Eka.

Setelah dibuat barang aksesori jadi, ia membanderol produk tersebut mulai dari Rp 100.000 untuk cincin dan kalung sebesar Rp 1,5 juta per satuan.
Seluruh produknya ia menjajakan di dua toko  yang ada di Pondok Indah Mall dan Pejaten Village. Selain itu ia juga memasarkan lewat ragam komunitas. Seperti Kelompok Cinta Berkain, Wanita Mitra Seni Indonesia dan lainnya.                       

(Bersambung)




TERBARU

Close [X]
×