kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45702,42   14,31   2.08%
  • EMAS934.000 -1,06%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Kisah Feny Mustafa membangun label muslim Shafira (bagian 3)


Sabtu, 07 September 2019 / 10:30 WIB
Kisah Feny Mustafa membangun label muslim Shafira (bagian 3)

Reporter: Elisabeth Adventa | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ibarat roda bisnis yang terus berputar, ada kalanya kondisi bisnis tidak selalu mentereng atau selalu berada di posisi atas. Kondisi ini juga terjadi pada bisnis Feny Mustafa, pemilik sekaligus pelopor label busana muslim di Tanah Air dengan brand Shafira.

Seiring berjalannya waktu, Shafira mulai meredup di pasaran karena tergeser oleh mulai membanjirnya ragam merek busana hijab anyar.  Apalagi kemunculan label busana kerudung di pasar Tanah Air cukup masif.

Bahkan empat tahun belakangan ini, Feny mengakui jika bisnis busana muslim yang dia geluti tengah  mengalami penurunan. "Sejak 2015 sampai sekarang trendnya turun terus. Sebelumnya tidak pernah seperti ini. Padahal dulu omzet bisa naik 200%," katanya lirih.

Kondisi penurunan tersebut membuat Feny mengoreksi kembali arah bisnisnya. Ia mulai terbuka untuk menggarap pasar generasi milenial. Sementara di sisi lain, ia menyadari jika koleksi busana Shafira masih belum memenuhi kebutuhan anak zaman sekarang.

Meskipun demikian, perempuan 53 tahun ini tak patah arang. Ia mencoba beradaptasi dengan keinginan perempuan masa kini yang membutuhkan busana simpel namun elegan. Untuk memenuhi kebutuhan ini, Feny mulai merekrut profesional muda kreatif.

Tujuannya adalah untuk lebih memahami kebutuhan konsumen masa kini. "Bisnis itu ibarat saya naik motor dan mogok di tengah jalan. Karena saya tidak punya kemampuan otomotif, saya bawa ke bengkel. Lalu di bengkel, montir akan memperbaiki apa yang rusak," ungkapnya.

Feny menyadari bahwa tidak semua persoalan bisnis bisa ia selesaikan sendiri. Memahami keterbatasannya, ia pun menyerahkan kepada orang-orang yang lebih ahli untuk mencari solusi dari persoalan yang sedang dihadapi usahanya.

Tak hanya mengubah desain koleksi busananya, ibu dua anak ini juga mulai aktif melibatkan sosial media dan situs untuk menjangkau pasar lebih luas. Selain itu, Zoya dan Mezura juga menggerakkan agen dan reseller untuk menjangkau konsumen di daerah-daerah.

Segala daya upaya pemasaran dilakukan agar tetap bertahan dan bisa bersaing dengan produk sejenis. "Hari ini semua serba online, pembelian juga bisa lewat online. Ada perubahan gaya hidup dan cara belanja, jadi mau tidak mau bisnis saya juga harus merambah online," katanya.

Feny mengibaratkan bisnis layaknya hidup. Permasalahan menjadi satu paket di dalamnya dan tidak bisa dihindari. "Masalah pasti ada, tapi kami harus dicari solusinya. Bisa jadi bukan kami yang mengerjakan solusi, tapi ada orang yang lebih profesional," katanya.

(Selesai)




TERBARU

Close [X]
×