kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

KIsah Jiewa Vieri, jebolan TI yang sukses menjadi pengulas makanan (bagian 2))


Sabtu, 06 April 2019 / 10:15 WIB
KIsah Jiewa Vieri, jebolan TI yang sukses menjadi pengulas makanan (bagian 2))

Reporter: Hikma Dirgantara | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menjadikan food curator alias pengulas makanan sebagai pekerjaan tetap bukanlah hal yang mudah bagi Jiewa Vieri. Di balik kesuksesan pria yang akrab disapa Ko Jie, masih ada orang yang meragukan keputusannya tersebut.

Bahkan datang dari keluarga Ko Jie. "Awalnya orang tua dan keluarga yang mempertanyakan keputusan saya. Mereka menyayangkan karena saya membuang gelar S1 dan S2 bidang teknologi informasi untuk kerjaan ini," katanya kepada KONTAN.

Ia pun tak patah semangat. Justru dirinya semakin getol dan ingin membuktikan bahwa keputusannya tepat. Perlahan tapi pasti, orang-orang yang semula meragukan pilihannya kini berbalik arah memberikan dukungan.

Meski mendapat dukungan dari pihak keluarga, tapi awal ia memulai profesi tersebut tidaklah mudah. Saat awal mengulas dan menilai makanan dari sebuah restoran atau tempat makan, justru pengelola restoran tidak suka dengan apa yang dia lakukan.

Seperti memotret makanan dan memberikan ulasan. Ia sampai tidak habis pikir lantaran apa yang dilakukannya adalah untuk memberikan benefit ke para pemilik tempat makan itu.

Secara perlahan, ia menjelaskan maksud dan tujuan melakukan food curator tersebut. Dalam menjalankan tugasnya, ia tidak serta merta menilai atau memberikan penilaian terhadap sebuah makanan.

Justru yang ia lakukan adalah dengan memberikan deskripsi atau penjelasan secara mendetil terhadap sebuah makanan yang dia ulas. Sebab urusan selera bersifat subjektif dan masing-masing orang pasti punya selera yang berbeda.

Maka, dalam mendeskripsikan makanan, ia menjelaskan rasa yang menonjol di masakan tersebut. Apakah asing, pedas, asam atau lainnya secara detil. "Jadi yang melihat deskripsinya itu apakah sesuai selera atau tidak," tuturnya.

Pria berusia 35 tahun ini menuturkan seorang food curator harus punya kepekaan terhadap sebuah nilai dari makanan atau minuman. Jadi tidak serta merta dari rasa saja. Semisal melihat proses pembuatannya, bahan baku, keunikan dari makanan yang bersangkutan. Kemampuan visual dan retorika juga tidak kalah penting untuk bisa menyampaikan pesan kepada pembaca atau penonton.

Dengan semua kemampuan yang dipunyai, Ko Jie terbilang sukses berkiprah sebagai pengulas makanan. Malah, ia bisa mengembangkan kemampuannya menjadi tiga model bisnis. Seperti Inijie Media, platform web dan instagram untuk publikasi ulasan. Ada kelas workshop fotografi makanan yang ada di bawah Inijie Academy serta jasa pemotretan makanan dan minuman melalui Inijie Studio. Hasilnya, ia kini bisa meraup pendapatan sekitar delapan digit per bulannya.

(Bersambung)




TERBARU

Close [X]
×