CLOSE [X]
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Kisah Joe yang jatuh hati pada dunia teh


Minggu, 07 Oktober 2018 / 07:45 WIB

Kisah Joe yang jatuh hati pada dunia teh

Taklukkan pasar milineal dengan manfaatkan tren

Mengembangkan bisnis teh, apalagi tradisi teh tradisional di tanah air bukan perkara mudah. Hal inilah yang dirasakan oleh Hutomo Joe saat awal merintis Koningsplein Tea Co dan 1 Tea House. Sebab, kedai teh tak populer. Lain halnya dengan kafe atau kedai kopi.

"Orang Indonesia memang sudah terbiasa dengan teh. Hampir di setiap warung makan pasti ada es teh manis atau teh manis hangat. Tapi saya tidak bisa bilang kalau budaya ngeteh itu budaya Indonesia, karena budaya ngeteh hanya populer di sebagian Pulau Jawa, khususnya wilayah Tegal dan sekitarnya," jelas Joe.

Tantangan terberat datang dari pasar anak muda. Tak mudah memperkenalkan kedai teh tradisional ke pasar kaum milenial ini. Minimnya varian dalam tradisi minum teh, dibanding varian minuman kopi, membuat bisnisnya terkesan monoton dan tidak populer.

"Jujur, susah sekali masuk ke pasar anak muda. Kebanyakan anak muda lebih suka sesuatu yang fussion, populer dan gaul. Jarang sekali ada anak muda yang suka sesuatu yang klasik dan tradisional," ungkapnya.

Demi masuk ke pasar anak muda dan mempopulerkan tradisi minum teh, pria yang menyukai sejarah ini melakukan strategi khusus. Ia sadar dengan model bisnis kedai tehnya yang tradisional, Koningsplein Tea Co bakal terus kesulitan menembus pasar anak muda. Bersama dengan beberapa teman sesama pelaku usaha teh dan kopi, Joe bekerjasama membuat beberapa proyek.

Ia menjalin kerjasama juga dengan kedai kopi. "Untuk mengajak anak muda agar tertarik terhadap kedai teh tradisional, harus dari jalur modern. Di proyek tersebut, Koningsplein membuat menu cheese tea dan bubble tea, sambil mempopulerkan soal teh," jelasnya.

Ternyata cara tersebut berhasil, sejak tiga tahun belakangan, Joe mengatakan mulai banyak anak muda singgah ke kedai tehnya yang berada di kawasan Kemayoran. Ia berkesimpulan, jika ingin mengajak anak muda menyukai sebuah tradisi, pelaku usaha harus masuk lewat tren dan hal-hal populer di kalangan anak muda.

"Sekarang sudah lumayan ada anak mudanya, kalau dulu pas pertama kali buka di tahun 2006, pengunjungnya tetap banyak orang tua," katanya sambil tertawa.      


Reporter: Elisabeth Adventa
Editor: Johana K.

Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0112 || diagnostic_api_kanan = || diagnostic_web = 0.3105

Close [X]
×