kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Kisah Kartika Puspasari Kusnadi menggeluti bisnis buket bunga kering (bagian 1)


Sabtu, 22 Juni 2019 / 12:05 WIB
Kisah Kartika Puspasari Kusnadi menggeluti bisnis buket bunga kering (bagian 1)

Reporter: Ratih Waseso | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Siapa sangka usaha buket bunga kering bisa menghidupkan bisnis Kartika Puspasari Kusnadi kala memulai usaha Magnolia Dread Flowers. Dari usaha inilah, rancangan bunga keringnya mulai menyebar tak cuma untuk perkawinan saja, tapi juga acara lainnya, seperti ulang tahun atau kelulusan sekolah.

Ibu dua putera ini menceritakan, memulai usaha pada April 2015 itu justru dari ketidaksengajaan. Kisah itu berawal pada 2014. Ia dan suami sempat bingung saat ingin menghadiahi kado spesial bagi kakak iparnya yang bakal melangsungkan perkawinan. "Sempat kepikiran ingin memberi hadiah yang unik. Sebab kalau angpao sudah biasa," katanya kepada KONTAN.

Akhirnya pilihan jatuh untuk memberikan buket bunga perkawinan kering. Tak cuma itu, ia juga ingin memberi hadiah kartu undangan perkawinan sang kakak ipar dengan ornamen bunga kering. Persoalannya, kala itu, belum ada pembuat bunga kering di dalam negeri. Kalaupun ada, mereka harus pesan ke pembuat yang ada di luar negeri.

Akhirnya, Kartika mulai mencari tahu dan belajar cara membuat bunga kering. Beruntung, sudah banyak informasi perihal cara pembuatan bunga kering di dunia digital.

Ia pun mulai berkreasi membuat buket bunga kering termasuk juga kartu undangan perkawinan. Setelah jadi sang suami yakni Hendra Phua langsung berceletuk, "Kenapa tidak sekalian berbisnis ini saja," kata Kartika menirukan ucapan sang suami.

Gagasan sang suami pun langsung mendapat sambutan hangat darinya. Ia pun makin semangat untuk menggali informasi dan pengetahuan soal bunga kering. Terutama cara merancang dan membuat bunga kering di artikel blog tema tekait, serta Youtube.

Dari informasi tersebut Kartika mulai mengasah ketrampilan membuat bunga kering. Garasi mobilmenjadi bengkel pertama bagi Kartika dan suami berkutat membuat bunga kering. Saat itu, baru ada satu karyawan saja.

Atas dorongan sang suami, Kartika mulai menggali pengetahuan mengenai bunga kering ke mancanegara. Supaya fokus, ia undur diri dari karyawan swasta.

Untuk bisa mengenalkan kreasi bunga kering, ia dan suami mengikuti pameran perkawinan. "Saya ragu, apakah laku, karena kala itu bunga kering jadi hal yang baru," kenangnya.

Keraguannya pun terbayar, di pameran perdana tersebut, ia mendapat order dari salah seorang karyawan bursa efek. Keberhasilan tersebut menjadi penyemangat dirinya dan suami untuk terus mengembangkan bisnis itu, terutama promosi secara offline dan online.

Kini Kartika bisa mendapat 80 klien sebulan dengan omzet sekitar Rp 200 juta.

(Bersambung)



Video Pilihan

TERBARU

×