kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Kisah Kartika Puspasari Kusnadi menggeluti bisnis buket bunga kering (bagian 2))


Sabtu, 22 Juni 2019 / 12:15 WIB
Kisah Kartika Puspasari Kusnadi menggeluti bisnis buket bunga kering (bagian 2))

Reporter: Ratih Waseso | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kartika Puspasari Kusnadi, bersama sang suami Handra Phua, terbilang sukses mengembangkan bisnis buket bunga kering di Magnolia Dried Flowers. Di bisnis inilah kedua pasangan tersebut rata-rata bisa mendapatkan 80 pesanan per bulan dengan omzet hingga dua ratus juta rupiah.

Namun kesuksesan tersebut tidaklah dicapai dengan mudah. Ada rasa suka dan duka bagi Kartika dalam menggeluti bisnis tersebut. Pengalaman yang tidak pernah ia lupakan adalah tatkala mendapat komplain dari konsumen akibat buket bunga yang dia pesan rusak.

Ia pun mulai mempelajari kemasan yang pas yang tidak membuat pengiriman bunga kering menjadi rusak. Sudah begitu ia mencoba mencari tahu perusahaan jasa pengiriman barang yang bagus agar tetap menjaga produk kiriman ke konsumen tidak rusak atau catat.

Setelah persoalan kemasan dan logistik terpecahkan, permasalahan yang lain juga muncul. Yakni upaya untuk terus membuat buket bunga kering dan sejenisnya up to date atau tidak ketinggalan zaman. Untuk itu ia kerap beranjangsana ke luar negeri guna sekedar mengetahui mode buket bunga yang sedang naik daun, sekaligus mencari bingkai yang cocok.

Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah mengedukasi pasar terhadap produk bunga kering. "Ini menjadi tantangan. Bagaimana mengenalkan buket bunga menjadi kenangan tersendiri bagi pasangan," tuturnya kepada KONTAN.

Ia pun punya cara tersendiri mengatasi persoalan tersebut. Yaitu dengan membuka workshop bunga kering bernama Magnolia. Pendirian tempat pelatihan ini sudah berlangsung sejak dua tahun yang lalu. Respon pasar ternyata positif. Dalam sebulan ia sanggup membuka kelas sebanyak dua kali sampai tiga kali.

Ia tidak cuma bikin workshop di studio Magnolia yang ada di Gading Serpong saja, tapi juga di tempat-tempat lain. Terutama di sekitar Jabodetabek, juga di Bandung serta kota-kota lainnya. "Ada di acara arisan, bridal shower atau pembukaan sebuah acara," tuturnya.

Untuk kelas workshop ia mematok tarif Rp 250.000 per orang, sedangkan untuk kelas privat biaya mulai dari Rp 2,5 juta per orang sampai Rp 5 juta per orang.

Rupanya dengan mengadakan pelatihan tersebut, ia tidak perlu menjelaskan lagi ke konsumen arti penting dari buket bunga kering dan produk lainnya. Malah yang terjadi adalah produk bunga kering menjadi semakin dikenal. "Rumusnya adalah tabur tuai bagi rejeki, semakin banyak pemain semakin banyak orang yang tahu," paparnya.

Dengan hasil yang sudah dicapai, Kartika punya hasrat bisa memasarkan produknya ke pasar mancanegara sambil inovasi produk.

(Selesai)



Video Pilihan

TERBARU

×