kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45702,42   14,31   2.08%
  • EMAS934.000 -1,06%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Kisah Laely Farida merintis penginapan di kaki gunung Rinjani (bagian 1)


Sabtu, 12 Oktober 2019 / 09:10 WIB
Kisah Laely Farida merintis penginapan di kaki gunung Rinjani (bagian 1)

Reporter: Elisabeth Adventa | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - RINJANI. Menjalani kehidupan di desa dengan suasana damai, tenang dan udara segar adalah impian banyak orang. Meski demikian, tidak banyak orang yang berani keluar dari zona nyaman perkotaan dan memilih pedesaan sebagai tempat tinggal.

Kaum urban umumnya enggan untuk kembali ke desa asal dengan berbagai alasan. Mulai tak ada pekerjaan, susah mengais rezeki hingga sepi yang mencekam. Namun,  ini tak berlaku bagi Laely Farida.

Tidak seperti pilihan kaum urban kebanyakan, sejak duduk di bangku kuliah, Laely justru bercita-cita tinggal dan melakukan sesuatu di desa asalnya di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Ia yakin, Sembalun bisa mewujudkan keinginannya untuk berbuat sesuatu di desanya. Setelah menyelesaikan program short-course bahasa Inggrisnya di Cambridge, Inggris, Laely pun memutuskan kembali ke Sembalun.

Awalnya, ia membuka bisnis penginapan Rinjani Garden di kaki Gunung Rinjani di tahun 2013. Di lahan seluas 2.000 meter persegi,  Laely menyulap lahan itu menjadi tempat nyaman untuk menginap, khususnya bagi para pendaki yang hendak ke Rinjani.

"Konsep awalnya camping ground untuk menginap para pendaki yang budgetnya terbatas,: ujarnya ke KONTAN.  Makanya, di awal pendirian, tak ada kamar-kamar menginal. Ia hanya menyiapkan lahan dan toilet bersih. Bahkan,  tenda tak ia siapkan. "Para pendaki pasti sudah siap itu," jelasnya.

Seiring banyaknya peminat, Laely mengubah konsep Rinjani Garden. Perempuan berkacamata ini menambahkan enam kamar tidur dan menyediakan tenda untuk menginap di tahun 2016 agar. pengunjung bisa memilih.

Laely kemudian juga menambah fasilitas air hangat. Seiring dengan penambahan fasilitas, harga menginap per malam untuk kamar tidur sebesar Rp 300.000 - Rp 350.000. Sedangkan di tenda biayanya Rp 200.000 - Rp 250.000 per malam. Rinjani Garden juga menyiapkan tenda dan isinya. "Tinggal datang saja," ujarnya.  Kamar ukurannya lebih kecil dari penginapan umumnya karena Laely menyasar pendaki yang  umu,mnya menumpang istirahat dan toilet. Karena itu, tingkat okupansi Rinjani Garden sekitar 30% - 40%.

Dalam menjalankan bisnisnya, Laely bekerjasama dengan aplikasi pemesanan kamar online, seperti booking.com, Agoda, dan Traveloka. Ia juga menggunakan Google Bisnisku (Google My Business) sejak awal mengelola Rinjani Garden.

Pertumbuhan bisnisnya terbantu aplikasi Google Bisnisku yang dilengkapi dengan peta akurat. "Pengunjung  umumnya tahu Rinjani Garden dari Google," ungkap Laely.       

(Bersambung)




TERBARU

Close [X]
×