kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Kisah Laely Farida merintis penginapan di kaki gunung Rinjani (bagian 2)


Sabtu, 12 Oktober 2019 / 09:20 WIB
Kisah Laely Farida merintis penginapan di kaki gunung Rinjani (bagian 2)

Reporter: Elisabeth Adventa | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - RINJANI. Gempa bumi dahsyat yang menimpa Lombok Juli 2018 lalu menjadi duka mendalam bagi masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB). Tak terkecuali Laely Farida, pemilik Rinjani Garden. Gempa berkekuatan 6,4 skala richter (SR) itu melumpuhkan seluruh aktivitas, termasuk aktivitas ekonomi.

Kenyataan itu pula yang harus dihadapi Laely. Ia menuturkan, pasca bencana gempa Lombok tahun lalu, Rinjani Garden seperti mati suri. Setahun lamanya, penginapan di kaki Gunung Rinjani itu tidak beroperasi karena banyak kerusakan di lingkungan sekitar kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, NTB.

"Alhamdulillah di sini tidak rusak parah, tapi tetangga-tetangga sekitar kami yang rusak. Jadi waktu itu kami tetap buka, tapi enggak pakai tarif, saya gratiskan, terutama bagi para relawan," ungkap Laely.

Tahun 2018, adalah tahun yang berat bagi Laely. Pasca gempa, nyaris tidak ada pendaki yang berani ke Rinjani. Belum lagi adanya beberapa gempa susulan yang tak kalah dahsyat membuat kondisi makin tak menentu.

Selama setahun, perempuan berhijab ini pun memutuskan untuk membantu para korban gempa, terjun menjadi relawan bencana."Ya mau bagaimana lagi, karena memang sebagian besar pasar kami ini adalah para pendaki yang mau ke Rinjani. Jadi kalau pendakian ditutup, habis juga pasar kami," ujar Laely.

Tak hanya bencana gempa menjadi tantangan bagi Rinjani Garden. Infrastruktur  seperto jalan serta pasokan air yang terbatas di daerah Sembalun menjadi masalah yang mudah diselesaikan.

Biaya transportasi yang cukup tinggi membuat Rinjani Garden dan penginapan di sekitar kaki Gunung Rinjani belum populer. Butuh waktu 3 jam perjalanan dari Kota Mataram ke Sembalun. Kondisi jalan yang dilalui pun tidak selalu mulus.

Banyak tikungan tajam nan curam di beberapa titik perjalanan. Hal inilah yang menyebabkan biaya transportasi ke sana tidak murah.

"Sekarang jalan sudah jauh lebih baik, karena setelah gempa, diperbaiki oleh pemerintah. Kalau dulu, bisa nangis kalau mau ke sini, medannya susah," kata Laely.

Selain akses jalan, pasokan air di Sembalun juga terbatas, apalagi pada saat musim kering tiba. Distribusi air dari sumber mata air tidak merata. Karena itulah, Laely harus pintar-pintar menyimpan pasokan air bagi pengguna Rinjani Garden.

"Kalau sedang susah air, saya harus beli, harganya Rp 200.000 untuk 3.000 liter. Air itu saya tampung di wadah penampungan air di belakang," katanya.  
Distribusi air yang belum merata karena sumber mata air ada di bawah menjadi masalah, utamanya mengangkut air ke atas dan sering habis duluan saat tiba.   

(Bersambung)




TERBARU

Close [X]
×