kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.935
  • EMAS714.000 1,28%
  • RD.SAHAM 0.53%
  • RD.CAMPURAN 0.27%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.13%

Kisah Rina Trisnawati dan Wulan Diasari membesarkan Tintin Chips (Bagian 2)


Sabtu, 13 April 2019 / 09:55 WIB

Kisah Rina Trisnawati dan Wulan Diasari membesarkan Tintin Chips (Bagian 2)

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sebelum memutuskan untuk sepenuhnya terjun ke dunia bisnis, Rina Trisnawati, pendiri Tintin Chips sempat berkarir sebagai seorang pekerja kantoran. Sedangkan adiknya, Wulan Diasari merupakan pekerja sosial di salah satu lembaga sosial.

Ia pernah bekerja di lembaga kursus bahasa Inggris selama tujuh tahun di Bandung. Lantas pindah ke perusahaan tekstil.

Belum genap satu tahun, kembali ia pindah kerja ke Jakarta pada tahun 2002 di sebuah perusahaan, dan baru saja mengajukan pengunduran diri. "Karena mau fokus di Tintin Chips," tutur Rina saat ditemui KONTAN di acara Amartha Impact Talk Vol 1 di Ampera belum lama ini.

Rupanya Rina bukanlah orang baru dalam usaha bisnis. Sebelum membuat Tintin Chips, dirinya sudah sering berjualan segala macam makanan khas Bandung, seperti keripik dan kerupuk untuk dibawa ke Jakarta. Ia pun memiliki banyak pelanggan di kantor tempat ia bekerja.

Hingga pada awal 2014, ia mengikuti kelas inkubator tentang bagaimana cara memulai bisnis. Saat itu ia sudah berniat untuk menjual produknya sendiri, tentu dengan merek sendiri.

Setelah mendapatkan pengetahuan dari kelas inkubator itulah, perempuan 50 tahun ini mulai merancang model bisnis serta mempersiapkan segala keperluan bisnisnya. "Saya mulai berpikir soal apa produknya sampai konsep kemasan dan pemasarannya," ujar Rina.

Dengan modal awal Rp 600.000, ia pun memberanikan diri membuat produk sendiri. Modal tersebut digunakan untuk membeli peralatan seperti oven tangkring dan bahan baku usaha lainnya.

Dan untuk desain kemasan, Rina dibantu seorang teman yang memiliki keahlian dalam desain. Meski begitu, ia dan Wulan sempat beberapa kali mengganti desain dan bahan kemasan karena kurang aman dan menarik.

Keseriusan Rina di kemasan ini ada ceritanya. Ia sempat mendapat pesanan kukis dari Palembang. Awalnya, kemasan produknya memakai mika berbentuk tabung. Namun, setelah dikirim ke Palembang, ternyata kukis buatannya sudah hancur. "Walaupun pelanggan tidak masalah, tapi tetap saya ganti dan saat itulah saya berpikir untuk merombak kemasan," ceritanya.

Karena banyak kejadian serupa, Rina berupaya untuk memperbaiki kemasan Tintin Chips agar lebih aman saat dikirim ke luar kota. Ia mencoba mengubah kemasan mika dengan menggunakan kemasan tabung berbahan komposit, dilengkapi oleh lukisan yang identik dengan anak-anak. Ini membuat tampilan Tintin Chips terlihat lebih trendi dan menarik bagi anak. Lukisan yang ada pada kemasan bisa diwarnai dan kemasan bisa dipakai untuk menyimpan benda kecil.

(Bersambung)


Reporter: Elisabeth Adventa
Editor: Markus Sumartomjon

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Redaksi | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0008 || diagnostic_api_kanan = 0.0519 || diagnostic_web = 0.3281

Close [X]
×