kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45770,66   21,15   2.82%
  • EMAS904.000 -1,74%
  • RD.SAHAM 0.90%
  • RD.CAMPURAN 0.65%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.47%

Kisah sukses Gina dan Eti banting setir jadi pembuat masker kain


Rabu, 22 April 2020 / 01:10 WIB
Kisah sukses Gina dan Eti banting setir jadi pembuat masker kain

Reporter: SS. Kurniawan | Editor: S.S. Kurniawan

KONTAN.CO.ID - Deru mesin jahit Gina Yuliana masih terdengar hingga malam. Sayup-sayup juga terdengar sesekali ia bicara dengan pekerjanya.

Sudah satu bulan terakhir, aktivitas menjahit di rumahnya di Kembangan, Jakarta Barat berlangsung lebih panjang, dari jam 8 pagi hingga 8 malam. Padahal biasanya, ia hanya bekerja sejak pukul 9 pagi hingga 5 sore.

Gina, pemilik Fafa Quilt & Craft saat ini aktif menjadi penjahit masker dadakan. Sebelumnya, ia memang menjahit namun untuk membuat produk yang jauh berbeda, seperti bedcover, sarung bantal, tas, serta gantungan kunci dengan metode quilt dan rajut.

Tapi, produksi terhenti karena omzetnya jauh menurun sejak pandemi virus corona baru, bahkan bisa dibilang tidak ada.

Baca Juga: Louis Vuitton mulai produksi ratusan ribu masker wajah bagi perawat kesehatan

"Kemudian saya buat masker, dan upload di sosial media, ternyata banyak yang tertarik karena memang sekarang sangat dibutuhkan," katanya dalam keterangan tertulis.

Dalam sehari, Gina mampu memproduksi hingga 100 masker. Bahkan Gina kini tengah mempersiapkan pesanan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebanyak 500 masker per hari.

Untuk mampu memproduksi sebanyak itu, perempuan 38 tahun ini menggandeng ibu-ibu di sekitar rumahnya, yang sebelumnya pernah ia latih menjahit.

Senada dengan Gina, di wilayah Kertajaya, Kabupaten Bandung Barat, kelompok produsen tas ramah lingkungan bernama Share Bag juga terkena dampak wabah virus corona.

Baca Juga: Hadapi pandemi corona, Trisula Textile (BELL) bantu pemerintah produksi APD nonmedis

Kelompok di bawah pimpinan Eti Rusmiati ini memberdayakan 10 orang ibu rumahtangga dan mantan asisten rumahtangga. Sejak pandemi melanda Indonesia terutama masuk ke Bandung, penjualan tas ramah lingkungan turun drastis dan anggotanya kehilangan penghasilan.



TERBARU

[X]
×