kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Kisah Syahnaz Nadya Winarto mengembangkan usaha tas Roro Kenes (bagian 1)


Sabtu, 21 September 2019 / 09:30 WIB

Kisah Syahnaz Nadya Winarto mengembangkan usaha tas Roro Kenes (bagian 1)

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Biasanya dari hobi bisa berlanjut menjadi usaha jika dilakoni dengan serius. Inilah yang dialami oleh Syanaz Nadya Winanto, pemilik Roro Kenes, label tas yang berbasis di Semarang, Jawa Tengah.

Laiknya wanita lain, Syanaz juga suka tas. Terlebih saat melihat tas bermerek, membuatnya begitu mempesona. "Saya cinta tas merek Bottega, artinya harganya boo tega bener, mau beli tapi uang tidak cukup," katanya sambil tertawa kepada KONTAN.

Apalagi sang ayah menentang keras keinginan ibu dua anak ini untuk memiliki tas impian tersebut. Akhirnya, ia kepikiran untuk bisa membuat tas sendiri yang sesuai dengan keinginan. Rencana ini pun terwujud pada 2014, saat ia meluncurkan label tas Roro Kenes di acara Semarang Great Sale.

Tak disangka produk yang ia jajakan mendapat respon positif. Rupanya ia mempunyai tas yang termasuk unik dari sisi bahan baku. Yakni tas anyaman kulit, tas daur ulang dan tas anyaman tenun.

Harga produk tas hasil produksinya rata-rata Rp 1 juta sampai Rp 3 juta per unit. Sedangkan produk khusus untuk perusahaan bisa ia banderol lebih murah antara Rp 500.000–Rp 750.000 per unit.

Menurut Syahnaz, ketiga jenis produk tasnya punya cerita sendiri. Untuk produk tas anyaman kulit adalah produk tas perdana. Kemudian produk kedua adalah tas dari bahan daur ulang kayu. Bahan itu ia dapatkan dari sisa olahan workshop kayu milik sang suami. "Khusus untuk tas daur ulang itu karena iseng saja, tapi banyak peminat," jelasnya.

Sedangkan produk ketiga, yakni tas anyaman tenun ia produksi saat mengikuti BliBli Special Project. Yakni membuat tas dengan harga di bawah Rp 2,1 juta per unit dan hasilnya juga positif.

Berkat ketiga produk tas tersebut, Syahnaz sanggup memproduksi hingga 350 tas per bulannya. Untuk bisa mengerjakan produksi tas tersebut, ia dibantu oleh tujuh pekerja dan empat pekerja lepas.

Sebetulnya, ia bisa saja memperbanyak produksi tas Roro Kenes. Namun karena ingin menjaga kualitas, ia tidak mau perbanyak kapasitas produksi. "Permintaan memang banyak, dan saya sampai harus close showroom. Karena saya tidak mengejar profit, but I'm doing it by heart," ucapnya.

Saat ini, ia masih mengandalkan toko yang ada di tempat tinggalnya saja. Tak lupa ia juga memanfaatkan pemasaran digital seperti via media sosial Instagram dan situs Roro Kenes.

Selain memasarkan ke pasar dalam negeri, Syahnaz juga sudah merambah pasar luar negeri, khususnya Jepang. Dalam sebulan ia kerap mengirim sekitar 120 tas ke negeri Sakura. Lewat upaya tersebut, Syanaz bisa meraup omzet sekitar Rp 100 juta per bulannya.

(Bersambung)


Reporter: Ratih Waseso
Editor: Markus Sumartomjon


Close [X]
×