kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Kisah Syahnaz Nadya Winarto mengembangkan usaha tas Roro Kenes (bagian 3))


Sabtu, 21 September 2019 / 09:45 WIB

Kisah Syahnaz Nadya Winarto mengembangkan usaha tas Roro Kenes (bagian 3))

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Seiring berkembangnya pasar, kini permintaan terhadap produk tas Roro Kenes terus meningkat. Meskipun satu sisi hal ini menjadi berkah, tapi di sisi lain jadi tantangan bagi Syanaz Nadya Winanto Putri owner Roro Kenes.

"Permintaan melonjak, menambah produksi bisa, melempar ke tempat lain bisa tapi apakah kualitas sama? Saya itu sangat teliti beda jahitan sedikit saja saya tahu," kata ibu dua anak ini.

Tantangan lain saat ia ingin mengekspor produk ke negara lain adalah soal pengurusan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). "Karena kami ingin dorong ekspor tapi pakai brand sendiri. Contoh kami mau masuk ke Prancis jadi saya harus urus HAKI di Prancis," katanya. Bisa juga dengan cara menggandeng investor dan kami diberi saham mayoritas, tapi produksinya bisa dipindah (ke luar negeri) "Enggak kan, kalau dipindah gimana. Ini kan proyek idealisme saya," jelasnya.

Syanaz pun berharap ada lembaga yang membantu para pengusaha IKM seperti dirinya agar bisa rambah pasar pasar ekspor tapi tetap mempertahankan brand-nya. "Produk kita nggak kalah kok dibandingkan buatan luar," sambung Syanaz.

Saat ini produk Roro Kenes sudah masuk pasar Jepang. Saat ini ada tawaran untuk negeri Paman Sam, namun ia tetap mendambakan masuk pasar Eropa agar bisa bersaing dengan seperti tas branded lainnya.

"Ke depan bisnis saya jalani saja bismillah. Tapi saya tetap ada standar operasi produksi, KPI, dan tetap mengusung kesetaraan gender. "Roro Kenes ingin menjadi inspirasi dari tangguhnya wanita Indonesia," terang Syanaz.

Syanaz bercita-cita punya rumah produksi yang dilengkapi dengan day care untuk anak para pegawainya. "Kami sudah kayak keluarga, makan bareng. Ada dua hal bagi pegawai saya yang penting, kesehatan dan pendidikan, dan kam ada keuangan yang dikelola bareng jadi kalau butuh uang bisa ke situ daripada pinjam ke bank titilkan (rentenir) ," sebut Syanaz.

Selain mengincar pasar Eropa, Roro Kenes mempersiapkan produk untuk menggarap konsumen menengah bawah atau third line. Ia merasa tak nyaman saat pasar dalam negeri dibanjiri produk dari China. Padahal produk lokal memiliki kualitas tak kalah.

Namun menggarap pasar baru ini memang butuh modal gede karena harus mengandalkan kuantitas. "Produk tas KW bisa harga Rp 80.000, nah ini saya cari celah," katanya.

Masalah lain Roro Kenes ingin mendongkrak produksi tapi tetap bisa menjaga kualitas agar tidak mengecewakan konsumen. Misalnya kualitas produk, mulai dari jahitan, anyaman, dan bahan baku selalu ada kroscek.

"Ada filosofi juga dari konsep anyaman, seperti Bhineka Tunggal Ika, semua dijalin menjadi satu," tutur Syanaz. Selain itu, agar bisa memenangkan persaingan di pasar, Roro Kenes berupaya inovatif menciptakan model yang elegan.

(Selesai)


Reporter: Ratih Waseso
Editor: Markus Sumartomjon


Close [X]
×