kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Kisah Toni Firmansyah mewujudkan keinginan jadi pengusaha sukses beromzet miliaran


Minggu, 04 Agustus 2019 / 07:00 WIB

Kisah Toni Firmansyah mewujudkan keinginan jadi pengusaha sukses beromzet miliaran

KONTAN.CO.ID - Seperti orang Minang kebanyakan yang ingin berwirausaha ketimbang bekerja, Toni Firmansyah pun punya hasrat yang sama. Apalagi, lelaki kelahiran Tapan, Sumatra Barat ini lahir dan besar di tengah keluarga pedagang.

Orangtuanya memiliki toko kelontong. Tak heran, sejak kecil Toni sudah tertarik dengan dunia dagang. “Itulah mungkin yang membentuk pola pikir saya untuk berdagang, menjadi pengusaha,” kata pendiri sekaligus Direktur Utama PT SR12 Herbal Perkasa ini.

Tapi, orangtuanya punya pandangan berbeda. Toni pun dipaksa masuk perguruan tinggi. Meski begitu, cita-citanya menjadi pengusaha tak padam.

Toni pun memilih kuliah di bidang farmasi. Ini atas saran kakaknya, dengan pertimbangan, selulus kuliah Toni bisa buka usaha di bidang obat atau kosmetik.

Walau di awal-awal semester kurang tertarik dengan perkuliahan farmasi, pilihan Toni tidak salah. Kini, Toni menjelma jadi produsen produk herbal dan perawatan kulit dengan mengusung merek SR12.

Omzetnya, dia menolak buka-bukaan. “Intinya, bisa di atas Rp 1 miliar per bulan,” ujar lelaki kelahiran 19 Agustus 1987 ini.

Baca Juga: Industri kosmetik & jamu bisa jadi ujung tombak sektor manufaktur

Sebelum merintis usaha herbal dan perawatan kulit, saat masih kuliah di sebuah perguruan tinggi di Jakarta, Toni berbisnis sarang burung walet. Kebetulan, sang ayah punya usaha ini. Di kampungnya, memang banyak warga yang menjalani usaha sarang walet.

Cuma, Toni mengklaim, dia  orang pertama di kampungnya yang bisa mencuci sarang walet kualitas ekspor. Untuk mendapat kemampuan itu, dia mengikuti pelatihan selama sepekan denga biaya Rp 6 juta.

Tapi, bisnis sarang waletnya hanya berjalan enam bulan. Gara-garanya, harga jual sarang walet anjlok tajam, dari Rp 15 juta per kilogram menjadi hanya Rp 6 juta sekilo.

Toni pun rugi hingga ratusan juta rupiah. “Saya yakin dan sabar saja, bahwa yang namanya bisnis, ya memang seperti ini, tidak bisa langsung cepat kaya,” ucapnya.

Meski merugi, Toni tidak putus asa. Terlebih, saat berbisnis sarang walet, dia dapat kepercayaan untuk mengelola apotek milik tantenya di Jakarta. Di tangannya, apotek yang tadinya buntung, jadi untung.

Dari bisnis apotek itu Toni banyak belajar soal pasar dan pemasaran. Melihat peluang yang masih besar, ia pun berencana membuka cabang. Cuma, “Itu membutuhkan uang besar sekali,” imbuh dia.

Toni pun mencari tambahan modal dengan bergabung sebagai tenaga penjual produk sebuah perusahaan multi-level marketing (MLM) lokal pada 2012. Namun, hanya setahun ia melakoni pekerjaan ini.

Padahal, dia sudah berhasil mengantongi penghasilan Rp 40 juta per bulan. “Saat training MLM, saya ingat kata-kata motivator, bahwa saya harus jadi singa yang besar,” ujarnya.

Baca Juga: Penjualan Sido Muncul naik di semester I-2019 didorong permintaan produk herbal


Reporter: Merlinda Riska
Editor: S.S. Kurniawan

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0312 || diagnostic_web = 0.2559

Close [X]
×