kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45950,25   8,88   0.94%
  • EMAS924.000 0,11%
  • RD.SAHAM -0.83%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.19%

Kisah UMKM hadapi pandemi, dari jualan di e-commerce hingga merambah bisnis baru


Senin, 01 Februari 2021 / 14:05 WIB
Kisah UMKM hadapi pandemi, dari jualan di e-commerce hingga merambah bisnis baru
ILUSTRASI. UMKM. KONTAN/Baihaki/16/12/2020

Reporter: Ferrika Sari | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pandemi Covid-19 telah melumpuhkan hampir seluruh sektor usaha, termasuk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Samballava, produsen sambal botol berbasis di Bekasi, merupakan salah satu UMKM terdampak.

Sebelum pandemi, Samballava sempat mengecap kesuksesaan dengan menjual produknya ke berbagai daerah. Pemilik Samballava, Wawan bahkan bisa membuka warung makan khas Jawa Timur. Dalam sehari, ia bisa meraup omzet Rp 2 juta – Rp 3 juta.

Namun kondisinya berubah ketika pandemi melanda. Semenjak pemerintah menetapkan pembatasan sosial, bisnis sambal botol dan warung makannya mulai sepi. Akibatnya, omzet turun signifikan hingga merugi.

“Pelan – pelan omzet turun 20% - 30%. Pada masa PSBB di bulan April juga turun hingga 80%. Dari untung kemudian jadi minus,” kata Wawan, kepada Kontan, Jumat (8/1).

Padahal ia juga menjual makananya melalui aplikasi GoFood dan GrabFood. Sayang, usahanya tak kunjung membaik. Pria berusia 36 tahun ini memutuskan untuk merumahkan para karyawan dan menutup usahanya pada September 2020.

Baca Juga: Begini proyeksi kredit macet di bank pelat merah pada tahun ini

Tak ingin menyerah, ia mengubah kesulitan ini menjadi peluang untuk bangkit. Berbekal kursus, dari salah satu perusahaan importir ia tertarik berjualan produk – produk impor China yang populer saat pandemi melalui Shopee dan Tokopedia. Diantaranya produk kesehatan, kebutuhan rumah tangga dan perlengkapan anak.

“Mulai menjual makan – makan sehat karena budaya sehat mulai terbangun di masa pandemi. Lalu berpikir beralih ke marketplace karena biaya sewa nggak ada dan bisnis di sini tahan dari Covid-19,” ungkap Wawan.

Ia kemudian mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp 120 juta ke Bank Mandiri dengan jaminan mobil. Memakai nama l4vashop, usahanya yang berjalan empat bulan mulai membuahkan hasil. Salah satu produk paling laris adalah centong nasi ajaib yang dibanderol harga Rp 9.500 – Rp 9.750.

Berjualan melalui e-commerce memberikan berbagai keuntungan karena ia bisa menjangkau pasar lebih luar serta menekan biaya. Sebab, berjualan melalui e-commerce tidak perlu membayar sewa tempat. Namun ia dikenakan biaya administrasi sebesar 5,5% per transaksi.




TERBARU
Kontan Academy
Panduan Cepat Menganalisa dan Merumuskan Strategi Bisnis Basic Social Media Marketing Strategy (Facebook & Instagram) Batch 9

[X]
×