kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Kisah Zetria Dharma menjalankan bisnis aksesori perhiasan (bagian 2)


Sabtu, 23 November 2019 / 13:25 WIB
Kisah Zetria Dharma menjalankan bisnis aksesori perhiasan (bagian 2)

Reporter: Venny Suryanto | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menjalani bisnis aksesori perhiasan selama 25 tahun hingga kini tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Zetria Dharma, pemilik Ria Jewellry. Fakta tersebut tidak terlepas dari hobi beratnya yang suka terhadap produk aksesori perhiasan.

Inilah yang membuat dirinya kerap kali membuat dan merancang ragam bentuk dan motif aksesori perhiasan.  Apalagi produk yang ia buat terbilang spesial karena menyasar segmen menengah atas. Buktinya, banderol produk aksesori perhiasan di gerainya yang ada di bilangan Rawamangun, Jakarta Timur berkisar antara Rp 500.000 sampai Rp 5 juta per item.

Dan salah satu hal penting di bisnis aksesori perhiasan ini adalah kehadiran motif dan desain baru yang terus ada. Tujuannya adalah supaya para pelanggan tidak hilang dan terus datang.  "Kebetulan saya hobi dan tangan suka iseng rakit-rakit, eh jadi produk aksesori perhiasan," jelasnya.

Seluruh pekerjaan pembuatan produk perhiasan ia serahkan ke para perajin aksesori yang sudah bermitra dengannya. Bisa tukang ukir, pemahat dan lainnya.
Tanpa menyebut jumlah pasti, para perajin atau mitra kerjanya, Zetria memastikan bahwa upah yang diberikan ke para pekerja atau perajin tersebut memadai. Terlebih jika mereka mendapat banyak order darinya.

Adapun proses pembelian produk dari Ria Jewellry bisa dilakukan dua cara. Ada yang langsung ke toko offline, atau bisa melakukan pemesanan via Whatsapp.
Khusus untuk pembelian secara pesanan, artinya si konsumen sudah punya desainnya sendiri, proses pengerjaannya diklaim tidak terlalu lama. Paling cepat bisa satu hari dan yang terlama sampai tiga hari. "Itu semua tergantung dari motif dan tingkat kerumitan aksesorinya," jelasnya.

Dari desain yang ada, tugas Zetria adalah memberi arahan kepada para perajin atau juga pemahat. Misalnya, ada produk aksesori dari bebatuan, ia tinggal memberikan batu yang ukurannya memadai.

Uniknya, meski saat ini sudah eranya teknologi digital, Zetria masih enggan memanfaatkannya untuk ekspansi pasar atau sekedar promosi. Justru pemasaran digital bisa mengancam eksistensi produk aksesori dan perhiasannya. Ia takut, desain produknya bisa langsung ditiru.

Maklum saja, produk jualannya menyasar segmen menengah atas. Antara motif yang satu dengan lainnya bisa berbeda dan punya ciri khas. Inilah yang membuat produk Ria Jewellry selalu direspon positif oleh pasar.

Adapun salah satu upaya untuk pemasaran produknya adalah dengan mengikuti ragam pameran atau bazar. Misalnya Indocraft 2019. "Ketemu banyak pelanggan," ucapnya.                                

(Selesai)




TERBARU

Close [X]
×