kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.004,00   -4,28   -0.42%
  • EMAS991.000 1,02%
  • RD.SAHAM -0.07%
  • RD.CAMPURAN 0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.07%

Koperasi Petani Garap Bisnis Hilirisasi Minyak Sawit


Sabtu, 12 November 2022 / 10:00 WIB
Koperasi Petani Garap Bisnis Hilirisasi Minyak Sawit


Reporter: Fahriyadi | Editor: Fahriyadi .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Selama ini, petani sawit selalu terombang-ambing dengan harga minyak sawit atau crude palm oil (CPO). Ketika harga CPO naik, mereka bisa menikmati harga jual Tandan Buah Segar (TBS) yang baik. Namun, saat harga anjlok, kondisinya jadi mengkhawatirkan.

Untuk itu, hilirisasi produk CPO menjadi salah satu solusi agar petani tak lagi memikirkan naik-turun harga TBS yang terimbas harga CPO. Hilirisasi juga membuat petani bisa menikmati nilai tambah lebih besar dari sawit yang mereka hasilkan.

Inilah yang coba dilakukan oleh Koperasi Sawit Mandiri Jaya. Koperasi yang  berlokasi di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah (Kalteng), ini merupakan koperasi sekunder atau gabungan dari tujuh koperasi primer.  Koperasi inilah yang akan membangun pabrik kelapa sawit dan akan memproduksi produk olahan CPO seperti minyak makan merah dan sabun.

Sutiyana, Ketua Koperasi Sawit Mandiri Jaya menyebut, harapannya akhir Desember 2022 semua proses perizinan tuntas. Dus, dana hibah untuk pembangunan pabrik dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) sebesar  Rp 120 miliar bisa segera dicairkan.

"Jadi, setelah semua syarat dipenuhi, dana hibah akan cair dan pabrik kelapa sawit bisa dibangun tahun depan, sehingga 2024, hasil produk hilir sawit sudah bisa dipasarkan," ujarnya kepada KONTAN, Jumat (11/11). 

Ia menambahkan, selain dana hibah BPDPKS, pihaknya juga akan mengoptimalkan dana pinjaman melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Kementerian Koperasi dan UKM (Kemkop UKM) sekitar Rp 10 miliar sebagai dana pendamping.

"Minyak makan merah yang akan diproduksi merupakan usulan dari Kemkop UKM," katanya.

Ia menambahkan, kapasitas pabrik CPO yang akan dibangun sebesar 30 ton per jam atau 600 ton per hari. Nantinya, setelah TBS petani diolah menjadi CPO akan langsung diproduksi dan dipasarkan.

Menurutnya, masih banyak anggota koperasi yang ragu soal pilihan menjadikan minyak makan merah sebagai produk unggulan untuk diproduksi. Terutama soal kesiapan pembeli produk ini.

Namun, Sutiyana bilang akan terus memantau pasar minyak makan merah ini ke depan, dan tidak menutup kemungkinan setelah pabrik CPO ini berdiri akan menggandeng investor swasta.

Menurutnya, investor swasta tersebut bisa memproduksi minyak goreng dan biodiesel. Kedua produk ini hampir tak mungkin diproduksi dalam skala koperasi.

Rukaiyah Rafik, Kepala Sekretariat Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (Fortasbi) menilai, hilirisasi produk sawit di tingkat petani sudah harus segera dimulai. Belakangan petani sawit bukan hanya menghadapi ketidakpastian harga tapi juga ketidakpastian permintaan. Akibatnya banyak TBS milik petani yang busuk karena tidak terjual.    

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Terpopuler
Kontan Academy
Supply Chain Management on Practical Inventory Management (SCMPIM) Supply Chain Management Principles (SCMP)

[X]
×