kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.500   -30,00   -0,17%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Kring...kring, sepedaku terbuat dari bambu


Selasa, 05 Januari 2016 / 14:52 WIB


Reporter: Jane Aprilyani, Merlina M. Barbara, Rani Nossar | Editor: Tri Adi

Usaha kreatif tidak pernah ada matinya. Salah satu adalah usaha kerajinan yang  memproduksi sepeda dari bambu. Lantaran unik, harganya bisa mencapai sekitar Rp 7 juta per unit. Peminat dan pasar sepeda bambu berkembang luas sampai mancanegara.

Tidak hanya sepeda motor atau mobil yang bisa dimodifikasi, kini sepeda pun semakin bervariasi dan beragam. Bukan hanya lewat bentuknya yang bisa dilipat, ataupun bersadel tinggi untuk bisnis sirkus, bahan bakunya pun bisa dibuat unik salah satunya dari bambu.

Berkat kreativitas para pelaku usaha kerajinan bambu di Tanah Air, kini kerajinan bambu bisa dinikmati dalam bentuk sepeda. Meski sekilas tampak rapuh sebagai rangka, sepeda  dari bambu nyatanya bisa digunakan untuk bersepeda jarak jauh dan tidak mudah retak maupun patah.

Salah satu pelaku usaha kerajinan sepeda bambu ini adalah Uyung Pramudiyanto, pemilik Uyung Bambunesia di Yogyakarta. Mendirikan usaha sejak Desember 2014, Uyung mengaku masih banyak kalangan masyarakat yang ragu terhadap produk kreasinya. Saat memasarkan ke pembeli, banyak yang tidak yakin kalau sepeda ini kuat digunakan perjalanan jauh. Padahal bahannya tidak mudah retak.

Bahan baku yang mudah didapat di lingkungan sekitar, serta memiliki nilai kreativitas yang tinggi, menjadikan kerajinan sepeda bambu sebagai peluang bisnis yang cukup potensial. Bambu yang digunakan Uyung adalah jenis bambu cendani atau bambu Jepang berusia 5 tahun dengan warna yang mengkilat. Pemesannya biasanya kalangan anak muda untuk balap sepeda.

Sementara duo seniman bambu asal Bogor, Jawa Barat, yakni Gun Gun Gunawan dan Imam Soleh atau yang biasa disebut Abah, menggunakan bambu emas phyllostachys aurea bamboo. Di Indonesia, untungnya cukup banyak membudidayakan bambu, termasuk sebagai tanaman hias. Jika membuat sepeda dari stainless steel atau logam dianggap kurang ramah lingkungan, "Kalau bambu banyak bahan bakunya, lebih eksentrik, dan unik," ujar Gun Gun.

Lewat bendera usaha Haur Bike Neglasari, Gun Gun membuat kerangka utama sepeda menggunakan bambu, namun dudukan, stang tetap ada komponen lain. Seminggu sekali, Gun Gun mencari bahan baku bambu tidak hanya dari Neglasari, Bandung tapi juga dari Garut, Subang, dan Purwakarta. Sebulan dia butuh 400 batang bambu untuk produksi.


Harga jual tinggi
Pelaku usaha lain yang menekuni bisnis sepeda bambu adalah Singgih Susilo Kartono asal Kandangan, Temanggung, dengan mengusung merek sepeda bambu Spedagi. Berbekal latar belakang pendidikan desain produk, ia memilih menggunakan bambu betung belah dibandingkan bambu bulat yang biasanya dibuat sepeda bambu. Kesulitan mengolah bambu bulat untuk membentuk rangka sepeda harus diberi diameter sehingga akan banyak bagian bambu yang tak terpakai.

Untuk merangkai sepeda bambu, Singgih terinspirasi dari struktur tusuk pada atap rumah yang dibuat dari bambu belah lalu ditangkup dan dipaku. Keuntungannya bambu akan menjadi lebih kaku. Konsep inilah yang digunakan Singgih untuk konstruksi sepeda bambunya. Jenis bambu ini dipilih karena memiliki karakter yang lebih kuat dan besar. Satu batang bambu betung, dirinya dapat menghasilkan 10 kerangka sepeda bambu.

Setelah konsep desain sudah dibuat, Singgih harus mencari bambu betung dengan masa tebang yang benar agar bambunya semakin awet. Dalam masyarakat lokal ada beberapa teknik penanggalan untuk menentukan waktu tebang bambu yang bagus.

Bambu harus diawetkan dan dikeringkan sebelum dibentuk. Secara alami, bambu harus direndam di air atau lumpur minimal enam bulan sedangkan secara kimia bambu dapat direbus dengan cairan khusus yang ramah lingkungan. Ini berguna agar bambu tidak menyusut, tidak berjamur ketika dikeringkan dan dapat direkatkan dengan sempurna.

Proses selanjutnya mengeringkan bambu menggunakan oven kemudian dipotong dan dibelah menjadi dua tangkup lalu direkatkan, dan dibentuk oval. Langkah berikutnya merakit dengan menggabungkan bambu-bambu tersebut. Proses berikutnya yakni penghalusan dan dicat dengan sempurna agar tak dapat menyerap air dengan mudah. "Ketika kotor dapat dicuci dengan air," kata Singgih.

Dalam satu bulan, Singgih hanya dapat diproduksi 15 unit hingga 20 unit. Satu perajin dalam tempo satu bulan dapat menghasilkan maksimal tiga kerangka sepeda bambu. Satu kerangka sepeda dijual seharga Rp 3,5 juta dan satu sepeda utuh dihargai hingga Rp 7 juta per unit. Dalam satu bulan Singgih dapat mengantongi omzet sebesar Rp 70 juta hingga Rp 90 juta. Ia mengaku sepeda buatannya sudah dimiliki oleh Jokowi dan kalangan profesional pencinta olahraga sepeda.

Adapun Uyung dalam sebulan Uyung bisa menjual dua unit hingga tiga unit sepeda bambu. Uyung menjualnya seharga Rp 3,5 juta hingga Rp 7 juta per unit. Dari situ, omzetnya sekitar Rp 15 juta per bulan.       

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×