kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.663.000   -6.000   -0,22%
  • USD/IDR 16.917   7,00   0,04%
  • IDX 9.075   42,82   0,47%
  • KOMPAS100 1.256   8,05   0,64%
  • LQ45 889   7,35   0,83%
  • ISSI 330   0,23   0,07%
  • IDX30 452   3,62   0,81%
  • IDXHIDIV20 533   4,12   0,78%
  • IDX80 140   0,85   0,61%
  • IDXV30 147   0,15   0,10%
  • IDXQ30 145   1,19   0,83%

Krisis moneter, murid Antarina terpangkas 50% (2)


Kamis, 15 Oktober 2015 / 13:40 WIB
Krisis moneter, murid Antarina terpangkas 50% (2)


Reporter: Jane Aprilyani | Editor: Tri Adi

Menghadirkan HighScope di Indonesia bagi Antarina Sulaiman cukup memberinya tantangan. Dia harus berjuang mendapatkan lisensi langsung dari AS. Krisis moneter di 1998 sempat membuat ciut lantaran jumlah murid tergerus.

Antarina Sulaiman menyadari bahwa sistem pendidikan di Indonesia perlu dibenahi, ketika dirinya mengejar gelar master di Amerika Serikat (AS) pada tahun 1994. Suatu ketika, dia mendapat tugas dari salah satu dosennya untuk membuat rumus sendiri. Di situ, dia merasa kesulitan, karena selama ini dia mendapatkan pendidikan dengan sistem hafalan di Indonesia. Ini tidak mendorong orang menjadi kreatif.

Nah, dari situlah, Rina menyadari bahwa sistem pendidikan telah berubah. Ia pun berpikir untuk bisa mengubah sistem pendidikan di Indonesia yang selama ini hanya mengandalkan hafalan dan teori.

Setelah kembali dari AS, ia pun mulai merintis untuk membuka HighScope di Indonesia.  Namun, menghadirkan sistem pendidikan berbasis kreativitas yang ditawarkan HighScope di Indonesia harus melalui jalan yang cukup panjang.

Pada tahun 1996, dia mendapat kesempatan untuk membangun HighScope untuk jenjang early child di Pondok Indah dengan membayar pelatihan guru dari HighScope di Singapura.

Dengan modal Rp 500 juta hasil patungan dengan keempat temannya, berdirilah cabang HighScope pertama di Jakarta dengan delapan murid dan enam guru. Rina harus membayar mahal pelatihan guru sebesar US$ 3.500 ke Singapura. Pada awal merintis sekolah ini, dia mematok biaya masuk sekolah US$ 600 per murid.

Dalam waktu enam bulan, Rina sudah mendapatkan tambahan murid sebanyak 100 orang. Tahun berikutnya, pendaftaran murid ke sekolahnya makin banyak. Tetapi seiring berjalannya waktu, ia merasa tidak nyaman lantaran tidak ada dukungan konsep yang mumpuni dari pihak Highscope Singapura. Karena itulah, di tahun 1997, dia mencoba untuk meminta lisensi langsung ke Highscope AS. Namun, jawaban dari pusat di AS tak kunjung diterima Rina.  Padahal di tahun yang sama, ia harus membuka jenjang sekolah yang lebih tinggi, tidak melulu di tahap pra sekolah.

Dia berulang kali bolak-balik ke AS untuk mendapat kepastian lisensi. Namun malang tidak dapat ditolak, tahun 1998, terjadi krisis moneter di Indonesia dan Rina pun terpaksa menahan ambisinya untuk mendapatkan lisensi. Pada saat itu, sempat terjadi pengurangan murid sebanyak 50% yang sebagian besar berasal dari warga negara asing.

Angin segar berhembus ketika tahun 1999, dia mendapat informasi kontrak kerjasama HighScope pusat di AS dengan Singapura akan berakhir. Rina pun mengambil kesempatan dengan kembali ke AS untuk berjuang mendapatkan lisensi. "Tepat di tahun 2000, lisensi pun diterima, dan saya bisa membuka jenjang SD," ujarnya.

Namun kesulitan tidak berhenti di situ. Dengan menambah jenjang sekolah dasar, otomatis kebutuhan ruangan kelas menjadi lebih besar. Sementara, gedung sewaan di Pondok Indah sudah kurang memadai untuk jumlah murid lebih banyak. Karena itu, dia sempat kelimpungan untuk mencari gedung sekolah baru yang lebih luas.   

(Bersambung)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Berita Terkait



TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies Investing From Zero

[X]
×