kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS991.000 1,02%
  • RD.SAHAM -0.07%
  • RD.CAMPURAN 0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.07%

Kukerja Hubungkan Pebisnis F&B dengan Tenaga Siap Kerja dalam Hitungan Jam


Senin, 26 September 2022 / 15:04 WIB
Kukerja Hubungkan Pebisnis F&B dengan Tenaga Siap Kerja dalam Hitungan Jam
ILUSTRASI. Logo startup Kukerja


Reporter: Tendi Mahadi | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Seiring dengan berakhirnya pandemi dan bangkitnya perekonomian, memunculkan bisnis-bisnis F&B yang baru - baik berupa restoran, cafe,  hingga rumah makan - sehingga ikut menaikkan permintaan terhadap Sumber Daya Manusia (SDM) yang siap kerja. Namun, sektor F&B selama ini dikenal sebagai sektor yang amat dinamis, terutama berkaitan dengan supply dan demand tenaga kerja.

Faktanya, pergantian karyawan (turnover rate) di dunia F&B termasuk tinggi dibandingkan industri lain, yakni mencapai 75%. Ini berarti satu restoran rata-rata kehilangan 3 dari 4 karyawannya dalam waktu setahun. Terlebih di industri makanan cepat saji, angka ini bisa meningkat hingga 130-150% per tahun. Data dari Restaurant Insider pun menemukan bahwa rata-rata 42% pelayan mengundurkan diri dalam tiga bulan pertama, dan 43% manajer mengundurkan diri di tahun pertama.  

Karena itu, dalam rangka menjembatani supply dan demand dalam bisnis F&B, Kukerja menciptakan platform yang menghubungkan pengusaha F&B dengan tenaga siap kerja dalam hitungan jam. Dikembangkan dari Pontianak, Kukerja merupakan startup manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) untuk UMKM dan pekerja kerah biru, khususnya di segmen F&B.

Klien Kukerja yang berasal dari kalangan pemilik bisnis bisa mendapatkan akses ke tenaga kerja yang telah diskrining secara ketat, sehingga proses rekrutmen berjalan lebih cepat dan efektif, bahkan hanya dalam hitungan jam. 

Baca Juga: Sebanyak 30 Startup Masuk dalam Pipeline Merah Putih Fund

Ide pendirian Kukerja terinspirasi dari tantangan yang dihadapi founder & CEO Kukerja, Aprianto You, ketika mengurus bisnis F&B milik keluarga. Saat itu, ia mengaku semua perkembangan dan rencana ekspansi harus terhenti karena tantangan SDM, dimana sebagai pelaku bisnis kecil, ada kesulitan tersendiri dalam menemukan talenta yang tepat, melakukan seleksi, dan mengetes kemampuan calon karyawan.

Pemain F&B pun tidak memiliki banyak waktu untuk menghadapi pergantian karyawan (turnover), karena setiap hari bisnis harus tetap dibuka.

“Di samping itu, saya melihat bahwa banyak tenaga kerja usia produktif yang kesulitan mendapatkan pekerjaan, terutama karena banyak lowongan yang mewajibkan kandidat memiliki pengalaman. Inilah yang membuat saya yakin untuk membangun Kukerja," jelas Aprianto dalam keterangannya, Senin (26/9).

"Kami ingin menjadi partner yang dapat diandalkan para pebisnis untuk mendapatkan tenaga kerja yang terlatih dan berpengalaman, sementara di saat yang sama, kami menyediakan akses pengembangan diri & pelatihan keuangan kepada para pekerja informal di Indonesia,”  

Dalam proses pengembangannya, Aprianto dan tim Kukerja menghadapi beberapa hambatan, terutama yang disebabkan oleh pandemi. Misalnya, berbagai aktivitas seperti rencana job fair, sosialisasi, hingga pembukaan booth yang sudah direncanakan terpaksa tertunda sementara. Namun, justru tim Kukerja memanfaatkan momen tersebut untuk melakukan mapping pasar, uji coba, dan fokus pengembangan produk digital, kemudian mengukuhkan strategi akuisisi pengguna demi mencapai Product-Market Fit (PMF).

Menyadari bahwa Kukerja membutuhkan informasi dan pengetahuan lebih mendalam tentang industri teknologi F&B, Aprianto memutuskan untuk mendaftarkan diri dalam “ImpacttoBuild”, program inkubasi eksklusif dari platform pengembangan startup, Impactto. Salah satu titik berat dari program ini adalah bahwa pencapaian PMF tidak hanya semata-mata dari ukuran/skala startup, namun juga hal-hal lain seperti loyalitas pengguna, kesesuaian dengan kebutuhan pasar, dsb. 

“Impactto sangat berperan aktif dari sisi mentoring, analisa, dan transfer pengetahuan langsung dari para praktisi. Misalnya, Gustaf Alstromer, growth specialist dari Y Combinator memberikan saran dan evaluasi personal tentang strategi dan model bisnis yang baik bagi Kukerja. Sementara Melisa Irene dari East Ventures memberikan wawasan yang mendalam tentang penggalangan dana. Bimbingan langsung dari coach serta networking yang luar biasa dari Impactto, membekali kami dengan langkah eksekusi yang lebih baik dibanding sebelumnya,” jelas Aprianto. 

Baca Juga: Startup Perikanan Menangkap Potensi Ekonomi Biru

Langkah yang dimaksud diantaranya adalah meningkatkan retensi pengguna, menciptakan produk dengan Unit Economics yang jelas, melakukan fokus ke industri yang tepat, hingga mendapatkan akses untuk bertemu dengan lebih banyak Venture Capitals. Hasilnya, startup ini mencatatkan total pertumbuhan demand 34x lipat dalam periode waktu tiga bulan, dan memiliki lebih dari 5.000 pengguna aktif bulanan serta 200 bisnis yang telah terdaftar di platform.

Dalam waktu dekat, Kukerja berencana untuk terus mempertajam kontribusinya bagi para pencari kerja, seperti dengan menanamkan pengetahuan dasar di industri dan mengadakan program upskilling. Salah satu misi besarnya adalah untuk membawa para pekerja di segmen F&B untuk mendapatkan pekerjaan dan upah yang lebih baik. 

“Sebagai startup yang baru memulai perjalanan, kami percaya bahwa para pendiri harus memiliki mindset think big, but start small. Selalu berfokus untuk mencapai PMF sedini mungkin dalam perjalanan mengembangkan perusahaan rintisan, dan jika ada kesempatan, bergabunglah dengan program inkubator/akselerator. Tidak hanya berdampak positif untuk pengembangan pengetahuan, tapi kita pun bisa mendapatkan akses networking yang lebih luas,” tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Terpopuler
Kontan Academy
Supply Chain Management on Practical Inventory Management (SCMPIM) Supply Chain Management Principles (SCMP)

[X]
×