kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Laba basah dari berkah bencana banjir (3)


Sabtu, 11 Januari 2020 / 09:50 WIB
Laba basah dari berkah bencana banjir (3)

Reporter: Ratih Waseso, Venny Suryanto | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dibalik musibah ternyata ada berkah. Inilah yang dialami oleh para pembuat tahu tempe di sekitar ibukota. Saat banjir menerjang pada awal tahun ini, para perajin tahu tempe banyak yang berhenti beroperasi. 

Salah satunya adalah Yoyok, seorang produsen tempe di kawasan Srengseng Jakarta Barat. Saat bencana banjir datang, dirinya sudah mengantisipasi dengan mengamankan bahan baku dan mesin pembuat tempe ke tempat yang lebih tinggi. Maka ia tidak mengalami kerugian yang signifikan dari kejadian tersebut. 
 
Paling cuma mesin pompa air serta beberapa alat dan wadah pembuat tempe yang terendam. "Kerugian tidak banyak. Alhamdulillah, dan perangkat yang rusak masih bisa diperbaiki," katanya kepada KONTAN.
 
Beruntung, dirinya tidak terlalu lama menghentikan produksi pembuatan tempe. Mulai hari Minggu kemarin (5/1), Yoyok sudah mulai memproduksi tempe. Apalagi ada info soal permintaan tempe dan tahu yang melonjak pasca banjir.
 
Tak mau kehilangan momentum, ia mencoba mendongkrak produksi pembuatan tempe. Kalau biasanya saban hari membuat sekitar 40 kilogram kedelai menjadi tempe, maka mulai awal minggu ini bertambah menjadi 55 kilogram per minggu. "Saya akui tahu tempe lagi laris dan saya menjualnya berkeliling di kawasan Palmerah," tutur pria asal Pekalongan, Jawa Tengah ini.
 
Sejatinya ia bisa memproduksi kedelai menjadi tempe lebih banyak lagi. Namun karena masih ada peralatan pembuatan tempe yang perlu perbaikan pasca banjir membuatnya tidak bisa optimal dalam membuat makanan tersebut
 
Yoyok membanderol satu papan tempe produksi seharga Rp 5.000. Namun ia enggan membeberkan secara pasti pendapatannya. 
 
Tak jauh dari lokasi Yoyok memproduksi tempe ada pula produksi tahu milik Warmin yang juga berasal dari  Pekalongan, Jawa Tengah. Baru memulai bisnis tahu tiga tahun lalu, Warmin mengaku banjir kemarin adalah yang terbesar yang pernah ia alami.  "Di tempat saya ada yang terendam banjir hingga 1,5 meter," katanya saat KONTAN temui di pabrik tahu miliknya.
 
Efek dari banjir tersebut adalah ada beberapa bahan baku kedelai yang terendam banjir. Kerugian ia perkirakan Rp 5 juta hingga Rp 8 juta. Lokasi produksi Warmin dan Yoyok memang berada di sekitar Kawasan Hutan Kota, Danau Srengseng, Jakarta Barat. "Ada empat mesin terendam tapi bisa diperbaiki," ucapnya.
 
Warmin juga mengetahui bahwa permintaan tahu di pasaran saat ini tengah melonjak. Namun karena efek bencana banjir, dirinya tidak bisa mengoptimalkan produksi. Selain baru aktif, para pedagang yang biasanya mengambil tahu dari pabriknya juga masih libur.
 
Walhasil, ia pun mengurangi produksi 30% dari biasanya yang sekitar 2 kuintal sampai 2,5 kuintal kedelai. Dan biasanya, tahu hasil racikannya dipasarkan di sejumlah wilayah. Seperti Bintaro dan Tangerang. 
 
Banyak hikmah yang Yoyok dan Warmin petik dari kejadian banjir. Seperti mesin dan peralatan produksi masih bisa berfungsi dan pendapatan melonjak meski ia harap banjir tidak lagi terjadi.  
 
(Selesai)




TERBARU

Close [X]
×