Reporter: Rani Nossar | Editor: Tri Adi
Usia Lani Siswadi yang sudah tidak lagi muda bukan menjadi penghalang untuk terus beraktivitas. Di usia 62 tahun, Lani masih turun ke dapur untuk memasak dan mengawasi bahan baku. Sementara restoran kini dikelola oleh anak-anaknya.
Konsistensi mempertahankan kualitas Sambal Bu Rudy menjadi kunci sukses Lani Siswadi untuk bisa bertahan di tengah persaingan produk sambal yang makin ramai bermunculan. Selain itu, wanita asal Madiun ini juga mengutamakan pelayanan terhadap konsumen. Ia tidak khawatir dengan komplain dari para pelanggan. Justru hal itu yang membuat produknya berkembang.
Meski sudah memiliki karyawan dan sejatinya dia hanya tinggal menikmati jerih payahnya selama belasan tahun menjadi pengusaha, Lani hingga saat ini tetap turun ke dapur dan ikut memasak. Dia bercerita bahwa setiap pagi ia memulai beraktivitas di dapur sejak pukul 6 pagi dan memastikan bahan baku yang diantar ke dapurnya benar-benar segar. Produksi sambal di dapur khusus di rumahnya.
Untuk produksi, Lani membutuhkan 400 kg cabai segar dan 400 kg udang setiap hari. Cabai-cabai tersebut dipasok dari petani-petani di wilayah Kediri, Probolinggo, dan Nganjuk. Sedangkan udang diambil dari pemasok di Gresik.
Adapun kebutuhan bumbu lainnya dipasok dari Pasar Keputran. Semua bahan baku yang datang langsung diolah, sehingga hasil produksi selalu segar. "Lagipula saya tidak punya gudang atau tempat penyimpanan bahan baku untuk stok," kata Lani.
Rasa semua masakan dan sambal yang dia hasilkan hanya mengandalkan feeling ketika memadukan aneka bumbu dalam proses pembuatan. Lani mengaku tidak pernah sekolah atau berguru ke orang lain. Keahlian membuat sambal terjadi secara natural karena aktivitas memasaknya sedari kecil.
Harga jual sambal dibanderol Rp 25.000 per botol. Karena sambalnya tidak menggunakan bahan pengawet, Lani menganjurkan para reseller tidak memesan jumlah banyak sekaligus dalam sekali waktu.
Seiring berjalannya waktu, banyak juga pelaku usaha lainnya yang mencoba membuat produk sejenis dengan merek dan kemasan yang mirip. Ini yang menjadi salah satu kendala yang dia hadapi. Lani hanya bisa mengingatkan para pelanggannya agar tetap memperhatikan detailnya, mulai dari segel, logo Sambal Bu Rudy, sampai ke bentuk botol agar tidak tertipu.
Kendala lain yang dia hadapi adalah jika harga cabai dan bawang melonjak tajam. Ada masa Bu Rudy harus merelakan keuntungannya tergerus lantaran biaya pembelian bahan baku membengkak.
Kalau sudah begitu, ia hanya mengurangi takaran beberapa mililiter dari kemasan di botol, tapi tidak menaikkan harga. Jika harga sudah stabil, takaran akan kembali normal.
Saat ini di usia senjanya, Lani sudah mewariskan keahliannya berbisnis pada anaknya. Empat restoran di Surabaya dikelola oleh anak-anak serta menantunya.
Di sela-sela kesibukannya mengawasi bisnisnya, Lani kerap menjadi pembicara seminar wirausaha di universitas atau di tempat umum lainnya. Dia selalu menyampaikan, generasi sekarang yang berpendidikan tinggi harusnya mampu memiliki usaha yang lebih sukses darinya. n
(Selesai)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













