CLOSE [X]
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Legit martabak kurang menggigit


Minggu, 02 Desember 2018 / 06:30 WIB

Legit martabak kurang menggigit

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Martabak adalah salah satu kudapan manis yang sangat populer di lidah masyarakat. Camilan ini juga punya dua versi, yakni martabak manis dan martabak asin yang juga sering disebut martabak telur.   

Kedua jenis martabak itu juga punya banyak varian rasa. Khususnya, martabak manis yang juga mendapat sentuhan kekinian lewat beberapa rasanya. Sebut saja, rasa red velvet, green tea, Nutella, Ovomaltine dan lainnya.

Lantaran banyak penggemarnya, penjaja martabak juga bertebaran. Meski begitu, kondisi ini tak menciutkan nyali mereka yang tetap ingin membuka gerai martabak.  Tak heran, bisnis kemitraan martabak juga terus berkembang.

Lantas, bagaimana kondisi bisnis kemitraan martabak tahun ini? Berikut ulasan beberapa pemainnya. Yakni,  Martabak Apin, Martabak Queen dan Martabak Mamime.  

Martabak Apin

Diki Rusnandar mendirikan gerai Martabak Apin sejak 2016 di Cirebon, Jawa Barat. Saat itu, dia juga langsung menawarkan kemitraan gerai martabaknya.

Setahun lalu, saat Kontan mengulas bisnis kemitraan ini, sudah ada tujuh gerai Martabak Apin. Kini, sudah berkembang menjadi 10 gerai. Tiga diantaranya adalah milik pusat. Semua gerai pusat ini ada di Cirebon.

Dua tahun menjalani bisnis ini, Diki menyebutkan, perkembangan bisnis martabak ini sangat tergantung dari daerah lokasi gerai. Diki bilang, perkembangan usahanya di Cirebon tak semoncer kota-kota lainnya.

Di kota udang ini, penjualan martabaknya justru mengempis. Sementara di kota-kota lainnya, penjualan martabak terus mengembang.

Ada empat paket kemitraan Martabak Apin. Mulai dari gerai biasa senilai Rp 30 juta, lalu paket mini baru dengan harga Rp 75 juta, Martabak Apin menengah Rp 150 juta, dan paket Martabak Apin premium Rp 250 juta.

Diki bilang, rata-rata omzet yang bisa dikantongi oleh setiap gerai berkisar Rp 90 juta–Rp 150 juta. Proyeksi modal mitra akan kembali dalam waktu 5-6 bulan.

Hanya, salah satu kendala dalam menjalankan bisnis kemitraan martabak ini adalah tak semua mitra paham soal bisnis. Sebab, menurut Diki, bisnis memiliki fase naik dan turun dengan sendirinya.

Diki pun mengatasi persoalan itu dengan gencar melakukan promosi. Biasanya, ia promosi dengan ikut pameran di pusat-pusat belanja, beriklan melalui media sosial seperti Facebook dan Instagram, hingga mengundang media untuk meliput.

Selain itu, Diki juga menerapkan evaluasi terhadap menu-menunya. Jika ada menu yang tak terlalu laris di pasaran, dengan segera ia akan menggantinya dengan yang baru.

Menu baru yang kini menjadi andalan martabak Apin adalah martabak telor sambel bini edan, martabak gulung, martabak durian, dan martabak jagung susu keju. Harga untuk setiap martabak berkisar Rp 45.000 – Rp 60.000.

Untuk target di tahun ini, Diki berharap akan ada kenaikan penjualan sebesar 10%– 20% di seluruh gerai mitra. Pusat juga akan mendorong melalui strategi pemasaran dan kebijakan yang harus diikuti oleh mitra. 


Reporter: Denisa Kusuma, Sugeng Adji Soenarso, Tri Sulistiowati, Venny Suryanto
Editor: Johana K.

Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0013 || diagnostic_api_kanan = || diagnostic_web = 0.1730

Close [X]
×